
Pantau - PT Perusahaan Gas Negara (PGN) memperkuat penerapan ekonomi sirkular melalui program pengelolaan sampah plastik di lingkungan perusahaan menjadi produk bernilai guna.
Program yang dijalankan Subholding Gas Pertamina tersebut dilakukan dengan melibatkan karyawan dan mitra pengelola sampah untuk menciptakan pengelolaan limbah yang berkelanjutan.
Corporate Secretary PGN Fajriyah Usman mengatakan program itu menjadi bagian dari upaya membangun budaya keberlanjutan di lingkungan perusahaan.
“Program ini dihadirkan guna mendorong kemandirian pengelolaan sampah di lokasi perusahaan sehingga mampu memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekaligus menciptakan nilai tambah bagi masyarakat,” ujar Fajriyah dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.
Libatkan Karyawan dan Mitra Daur Ulang
Dalam pelaksanaannya, PGN menerapkan sistem pengelolaan sampah plastik terintegrasi mulai dari proses pemilahan oleh karyawan hingga pengolahan akhir bersama Kertabumi Recycling Centre dan Bank Sampah Al-Bustaniyah.
PGN juga mendorong penerapan prinsip Environmental, Social and Governance (ESG) melalui pengelolaan limbah menjadi sumber daya yang memiliki nilai ekonomi.
“Kami berharap melalui inisiatif ini kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan dapat semakin meningkat, sehingga mampu mendorong masyarakat untuk lebih bijak dalam mengelola sampah plastik,” katanya.
Selain itu, PGN menjalankan program komunitas seperti Bajaj Gas dengan memberikan penghargaan Rp400 per botol plastik yang dikumpulkan masyarakat.
Peserta program dapat menukarkan hingga 61 botol plastik untuk memperoleh kupon diskon pengisian bahan bakar gas (BBG).
Pengelolaan Sampah Dinilai Jadi Langkah Positif
Pendamping program dari Kertabumi Recycling Centre, Ikbal Alexander, menilai langkah PGN dalam mengedukasi hingga mengolah sampah plastik menjadi produk bernilai merupakan upaya positif untuk lingkungan.
“Kami melihat program seperti ini sangat penting untuk membantu mengurangi timbulan sampah plastik sekaligus mendorong penerapan ekonomi sirkular yang berkelanjutan melalui pengelolaan limbah yang lebih bertanggung jawab dan bernilai guna,” ujar Ikbal.
Ia mengutip data Kementerian Lingkungan Hidup yang menyebut timbulan sampah tidak terkelola mencapai 109 ton per hari atau sekitar 75 persen dari total sampah nasional.
Menurut dia, kondisi tersebut dapat memicu pencemaran lingkungan, peningkatan emisi gas rumah kaca, hingga kerusakan ekosistem akibat penumpukan sampah plastik.
PGN berharap kolaborasi pengelolaan sampah plastik dapat menciptakan kesadaran lingkungan sekaligus memperkuat ekonomi sirkular secara berkelanjutan.
- Penulis :
- Aditya Yohan





