
Pantau - Fransiska Mainake menjalankan tugas sebagai perawat yang melayani jamaah haji Indonesia di Tanah Suci selama musim haji 2026 dengan fokus pada penanganan medis dan pendampingan jamaah di kawasan Masjidil Haram.
Fransiska yang merupakan perempuan kelahiran Malang keturunan Ambon sehari-hari bekerja sebagai perawat di RSPAD Gatot Subroto.
Selama musim haji, Fransiska bertugas sebagai petugas Penanganan Krisis dan Pertolongan Pertama pada Jamaah Haji atau PKP2JH di Sektor Khusus Masjidil Haram.
Fransiska mengatakan, "Motivasi saya yang pertama adalah ingin melayani jamaah calon haji Indonesia dari segi medis. Dan yang kedua, niatnya tentu untuk beribadah."
Bertugas di Tengah Kepadatan dan Cuaca Panas
Dalam menjalankan tugasnya, Fransiska tidak hanya bersiaga menghadapi kondisi darurat, tetapi juga aktif memberikan edukasi kesehatan kepada jamaah calon haji terutama yang memiliki risiko tinggi sebelum melaksanakan umrah wajib maupun puncak haji.
Tim PKP2JH dituntut bergerak cepat ketika ada jamaah yang mengalami gangguan kesehatan mendadak seperti kelelahan, pingsan, hingga kondisi kritis di tengah kepadatan jamaah.
Fransiska menyebut bekerja di terminal yang dipenuhi jutaan orang dengan cuaca sangat panas menjadi tantangan berat yang menguras tenaga fisik para petugas.
Untuk menjaga keamanan dan efektivitas kerja, para petugas menerapkan sistem pendampingan atau buddy system sehingga tidak diperbolehkan bertugas sendirian.
Kisah Haru Mendampingi Jamaah Lansia
Fransiska menceritakan pengalaman berkesan saat membantu seorang jamaah calon haji yang kebingungan di kawasan Dar Al Tawhid dan ingin melaksanakan shalat di depan Ka'bah.
"Saya antar beliau ke sana. Beliau menangis terharu sambil memegang tangan saya erat sekali karena takut hilang, mengingat jamaah calon haji sangat padat. Beliau bersyukur dan terharu bisa sampai ke depan Ka'bah," ungkap Fransiska.
Berinteraksi langsung dengan jamaah calon haji yang mayoritas lanjut usia memberikan makna mendalam bagi Fransiska sekaligus melatih kesabaran ekstra dalam memberikan pelayanan.
Fransiska mengaku terinspirasi oleh daya juang para lansia yang tetap bersemangat beribadah meski harus menunggu antrean haji bertahun-tahun dan menghadapi perjalanan fisik yang berat.
"Saya terharu, mereka menunggu lama sekali dan perjuangan untuk ke sini itu tidak mudah. Sangat menakjubkan melihat betapa kuatnya tekad mereka untuk beribadah ke Tanah Suci dengan berbagai cara," kata Fransiska.
Dedikasi petugas seperti Fransiska membuat jamaah calon haji Indonesia tidak hanya mendapatkan perlindungan medis, tetapi juga pendampingan penuh empati dan ketulusan selama berada di Tanah Suci.
- Penulis :
- Gerry Eka





