
Pantau - Kongres Ulama Perempuan Indonesia atau KUPI menyerukan semangat Indonesia tanpa kekerasan dalam Hari Puncak Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia atau BKUPI 2026 yang berlangsung di Masjid Cut Nyak Dien, Jakarta, pada Minggu, 24 Mei 2026.
Ketua Panitia BKUPI Nyai Pera Sopariyanti mengatakan gerakan ulama perempuan dibangun secara kolektif oleh berbagai simpul masyarakat sipil dan jaringan keulamaan perempuan di Indonesia.
Menurutnya, gerakan ulama perempuan merupakan gerakan kultural, spiritual, sosial, dan intelektual yang dirawat bersama oleh seluruh simpul serta lima lembaga penyangga.
Peringatan BKUPI bertujuan menghidupkan kembali ingatan kolektif terhadap kiprah ulama perempuan dalam sejarah Indonesia sebelum maupun sesudah kemerdekaan.
Ulama perempuan dinilai memiliki kontribusi besar dalam perjuangan melawan ketidakadilan, kekerasan, dan berbagai bentuk penindasan terhadap masyarakat terutama perempuan.
Kegiatan BKUPI 2026 dihadiri sekitar 1.000 peserta secara luring dan daring yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia serta jaringan internasional.
KUPI Soroti Berbagai Bentuk Kekerasan
Ketua Majelis Musyawarah KUPI Nyai Badriyah Fayumi menyampaikan pidato mengenai kebangkitan ulama perempuan dalam acara tersebut.
Dalam pidatonya, Nyai Badriyah menyoroti maraknya kekerasan yang masih terjadi di masyarakat.
Kekerasan yang disoroti meliputi kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan seksual di lembaga pendidikan, hingga kekerasan struktural terhadap masyarakat dan lingkungan.
“Ulama perempuan Indonesia mengutuk keras semua bentuk kekerasan fisik dan seksual yang terjadi di ranah keluarga, lembaga pendidikan, ruang publik, maupun kekerasan negara atau oleh aparat negara,” ungkap Nyai Badriyah Fayumi.
Ia juga mengajak masyarakat untuk membangun budaya anti-kekerasan di berbagai ruang kehidupan.
Nyai Badriyah mengimbau masyarakat menolak menjadi korban, pelaku, maupun pihak yang membiarkan kekerasan terjadi.
BKUPI Tegaskan Komitmen Anti-Kekerasan
Rangkaian kegiatan BKUPI 2026 dilanjutkan dengan pembacaan Pernyataan Sikap kolaborasi lembaga penyangga bertajuk “Risalah Cut Nyak Dien Menteng”.
Pernyataan tersebut menegaskan komitmen Indonesia tanpa kekerasan mulai dari ruang domestik hingga tingkat negara.
- Penulis :
- Gerry Eka





