
Pantau - Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Jumhur Hidayat menyentil pelaku industri pertambangan dan pemegang hak guna usaha (HGU) tanaman industri yang dinilai masih mengabaikan kewajiban pemulihan lingkungan serta reklamasi lahan pascaoperasi.
Pernyataan itu disampaikan Jumhur saat merespons paparan Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) Basuki Hadimuljono mengenai program penghutanan kembali bekas lubang tambang di kawasan Bukit Soeharto dalam rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Sabtu (6/6).
“Banyak sekali kegiatan penambangan tidak dikembalikan, mudah-mudahan inisiatif bapak kepala otorita IKN memulihkan kembali dapat menggelitik mereka-mereka yang mendukung tambang,” ungkap Jumhur.
KLH Tuntut Komitmen Reklamasi Pascatambang
Jumhur menegaskan eksploitasi sumber daya alam tanpa disertai tanggung jawab pemulihan lingkungan merupakan bentuk pengabaian terhadap hak ekologis masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah tambang.
Ia menilai kerusakan lingkungan akibat aktivitas tambang harus dipulihkan demi menjaga keberlanjutan ekosistem dan mewujudkan keadilan iklim.
“Memang seharusnya ada hak bagi masyarakat lokal, bumi, dan lingkungan yang rusak sebaiknya dikembalikan lagi. Saya kenal bapak adalah seorang pekerja keras,” ujarnya.
Kementerian Lingkungan Hidup juga meminta seluruh pemegang izin usaha pertambangan untuk mengembalikan fungsi bentang alam, kualitas tanah, dan tutupan hutan yang terdampak aktivitas operasional.
OIKN Percepat Penghutanan Bekas Lubang Tambang
Sementara itu, Kepala OIKN Basuki Hadimuljono menjelaskan program pemulihan tutupan hutan di kawasan bekas tambang Bukit Soeharto menjadi bagian dari penataan wilayah penyangga IKN.
Basuki mengatakan penanaman pohon akan dilakukan secara masif di lahan-lahan kritis bekas galian tambang melalui kerja sama dengan Kementerian Kehutanan dan sejumlah perusahaan swasta.
Program tersebut berjalan seiring transformasi ekosistem di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) seluas 17 hektare yang saat ini mulai mengganti vegetasi monokultur eukaliptus menjadi hutan tropis heterogen untuk mendukung konsep forest city.
Penanaman Pohon Jadi Gaya Hidup di IKN
Basuki menegaskan OIKN ingin menjadikan kegiatan menanam pohon dan memilah sampah rumah tangga sebagai budaya baru bagi masyarakat dan aparatur pemerintah di IKN.
OIKN menjadwalkan kegiatan penanaman pohon dan gotong royong lingkungan setiap dua pekan sekali sejak 2025.
“Penanaman pohon di IKN akan menjadi lifestyle. Ya, kami setiap dua minggu sekali dan ini berjalan sejak 2025 melakukannya. Jadi kalau 80 persen dari jumlah orang saja yang rutin berarti ada 800 pohon setiap minggu. Sampai sekarang penanaman pohon sudah dilakukan lebih dari 19.000 pohon dengan luas lahan lebih dari 17 hektare di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan. Jadi, kami ingin ini sebagai salah satu tiang pembangunan IKN menjadi forest city, bukan deforestasi,” ungkap Basuki.
- Penulis :
- Aditya Yohan





