
Pantau - Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming Raka mengajak seluruh pelajar dan guru di Indonesia untuk menguasai teknologi artificial intelligence (AI) sebagai bekal menghadapi transformasi digital yang berkembang pesat serta mendukung terwujudnya visi Indonesia Emas 2045.
AI Dinilai Menjadi Kunci Menghadapi Perubahan Zaman
Gibran menegaskan bahwa masyarakat tidak dapat hanya menjadi penonton di tengah perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat.
"Kita tidak bisa lagi menutup mata, atau sekadar menjadi penonton. Kita harus menjadi pemain, kita harus menjadi penguasa teknologi tersebut," ungkapnya.
Menurut Gibran, dunia saat ini sedang bergerak dari era yang berfokus pada literasi baca tulis menuju era literasi digital dengan puncak transformasi global yang ditandai oleh hadirnya teknologi kecerdasan buatan atau AI.
Ia meminta para pelajar memandang AI sebagai alat untuk mempercepat proses pembelajaran dan bukan sebagai sarana yang membuat seseorang menjadi malas.
Gibran mengibaratkan AI sebagai asisten pribadi yang dapat membantu mencari data, mempelajari bahasa asing, hingga menyederhanakan rumus matematika yang rumit.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa penguasaan AI tidak boleh menghilangkan kemampuan berpikir kritis generasi muda dan harus dimanfaatkan untuk mendorong kreativitas serta mempertahankan kemampuan berpikir mandiri.
"Kabar baiknya, banyak sekali teknologi AI canggih yang sekarang sifatnya open source. Ilmu gratis, kodenya terbuka, bisa diakses siapa saja," ujarnya.
Guru dan Orang Tua Diminta Beradaptasi dengan Perkembangan Teknologi
Selain menyasar pelajar, Gibran juga mengajak para guru dan orang tua untuk tidak menyerah atau merasa canggung dalam meningkatkan kemampuan menghadapi perkembangan teknologi.
Ia menjelaskan bahwa penggunaan AI secara bijak dapat membantu mengurangi beban administratif guru di sekolah, termasuk dalam menyusun soal ujian, menyajikan materi pembelajaran yang menarik, dan memberikan contoh kasus yang aplikatif kepada murid.
Gibran juga menekankan pentingnya menjaga etika dan integritas dalam penggunaan AI agar tidak disalahgunakan untuk menyebarkan hoaks, melakukan plagiarisme, maupun melanggar privasi.
Sebagai bagian dari upaya memperkuat tata kelola AI nasional, ia menyampaikan bahwa Pemerintah Indonesia telah menyelesaikan readiness assessment methodology dari UNESCO untuk mengukur kesiapan pengelolaan AI di masa depan.
"Kuasai teknologinya, pegang teguh etikanya. Mari kita jadikan AI sebagai jembatan menuju Indonesia yang lebih maju, lebih cerdas, dan lebih bermartabat," tuturnya.
- Penulis :
- Arian Mesa





