billboard mobile
HOME  ⁄  Nasional

Pemprov Kalbar dan Bank Indonesia Perkuat Ekonomi Syariah Lewat RABBANI Khatulistiwa 2026

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Pemprov Kalbar dan Bank Indonesia Perkuat Ekonomi Syariah Lewat RABBANI Khatulistiwa 2026
Foto: Sekda Kalbar Harisson membuka RABBANI KHATULISTIWA 2026 (sumber: ANTARA/Rendra Oxtora)

Pantau - Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat bersama Bank Indonesia memperkuat ekonomi syariah sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru yang inklusif dan berkelanjutan melalui program Rangkaian Aksi Kolaborasi Membangun Ekonomi Syariah (RABBANI) Khatulistiwa 2026 yang berfokus pada pengembangan rantai nilai halal, pemberdayaan UMKM, dan penguatan peran pesantren.

Sekretaris Daerah Kalimantan Barat, Harisson, membuka Ceremony RABBANI Khatulistiwa 2026 di Aula Keriang Bandong Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Barat.

Pada triwulan I tahun 2026, ekonomi Kalimantan Barat tumbuh 6,14 persen secara tahunan yang menunjukkan momentum pemulihan dan ekspansi ekonomi daerah yang terus berlanjut.

Pada tahun 2025, ekonomi Kalimantan Barat tumbuh sebesar 5,39 persen atau meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 4,90 persen sehingga menjadi salah satu pertumbuhan ekonomi tertinggi di wilayah Kalimantan.

Harisson menilai capaian tersebut didukung oleh kontribusi sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta berkembangnya aktivitas ekonomi dan keuangan syariah di masyarakat.

Saat ini Kalimantan Barat memiliki sekitar 338 ribu UMKM dan lebih dari 5.100 pelaku usaha halal yang dinilai menjadi modal besar untuk memperkuat daya saing ekonomi daerah sekaligus memperluas basis ekonomi syariah.

Penguatan Rantai Nilai Halal dan Kemandirian Pesantren

RABBANI Khatulistiwa 2026 mengusung tema Penguatan Rantai Nilai Halal dan Halal Lifestyle untuk Kemandirian Pesantren dan Umat Kalimantan Barat.

Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum strategis untuk memperkuat ekosistem halal secara terintegrasi.

Harisson mengungkapkan, "Potensi ekonomi syariah Kalimantan Barat sangat besar."

Ia menegaskan potensi tersebut perlu diperkuat melalui pengembangan rantai nilai halal, peningkatan kapasitas UMKM, dan penguatan peran pesantren sebagai motor penggerak kemandirian ekonomi umat.

Menurut Harisson, pengembangan ekonomi syariah tidak hanya berfokus pada produksi barang dan jasa.

Pengembangan tersebut juga mencakup akses pembiayaan, pemasaran, sertifikasi halal, serta penguatan gaya hidup halal di masyarakat.

Terdapat tiga fokus utama dalam pengembangan ekonomi syariah Kalimantan Barat yaitu penguatan halal value chain atau rantai nilai halal, penguatan keuangan dan sosial syariah, serta peningkatan literasi dan inklusi ekonomi syariah.

Harisson menegaskan ketiga fokus tersebut harus berjalan secara bersamaan agar memberikan dampak yang lebih luas terhadap pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat berkomitmen memperkuat kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan untuk membangun ekosistem halal yang lebih kuat dan kompetitif.

Pemerintah juga mendorong perluasan akses pembiayaan dan akses pasar agar UMKM, pelaku usaha syariah, dan pesantren semakin produktif serta berdaya saing.

Penyelenggaraan RABBANI Khatulistiwa 2026 juga menjadi bagian dari persiapan Kalimantan Barat menghadapi penilaian Anugerah Adinata Syariah 2027.

BI Bidik Pembiayaan Rp4,2 Miliar dan Transaksi UMKM Rp2,65 Miliar

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Barat, Doni Septadijaya, menyatakan Indonesia memiliki potensi pasar halal yang sangat besar.

Ia mengungkapkan, "Nilai pengeluaran konsumen muslim Indonesia terhadap produk halal telah mencapai lebih dari Rp3.197 triliun."

Menurut Doni, besarnya nilai konsumsi tersebut membuka peluang besar bagi daerah untuk menjadi produsen produk halal.

Ia menilai Kalimantan Barat memiliki potensi besar mendukung pengembangan ekonomi syariah nasional melalui produk halal berbasis sumber daya lokal dan pengembangan modest fashion.

Doni menegaskan, "UMKM harus masuk ke dalam rantai nilai halal agar mampu naik kelas dan berkembang secara berkelanjutan."

Bank Indonesia terus mendorong pengembangan ekonomi syariah melalui tiga pilar utama yaitu penguatan rantai nilai halal, penguatan keuangan dan sosial syariah, serta peningkatan literasi dan inklusi ekonomi syariah.

Rangkaian kegiatan RABBANI Khatulistiwa 2026 berlangsung pada 9 hingga 20 Juni 2026.

Kegiatan tersebut meliputi Syariah Fair, Syariah Forum, coaching clinic, dan Syariah Championship.

Seluruh rangkaian acara melibatkan pelaku usaha, pesantren, lembaga keuangan syariah, serta masyarakat umum.

Melalui RABBANI Khatulistiwa 2026, Bank Indonesia menargetkan realisasi pembiayaan sebesar Rp4,2 miliar dan transaksi penjualan produk UMKM mencapai Rp2,65 miliar sebagai upaya memperkuat kontribusi ekonomi syariah terhadap pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat.

Penulis :
Arian Mesa
Kemenkeu 2026