HOME  ⁄  Nasional

Pemerintah Perkuat Wisata Kesehatan, BPOM Buka Akses Obat Khusus dan Dampingi UMKM Herbal

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Pemerintah Perkuat Wisata Kesehatan, BPOM Buka Akses Obat Khusus dan Dampingi UMKM Herbal
Foto: Kepala BPOM Taruna Ikrar dan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana (sumber: BPOM)

Pantau - Pemerintah berkomitmen memperkuat pengembangan pariwisata berbasis kesehatan (health tourism) di Indonesia melalui kolaborasi antara Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Kementerian Pariwisata, termasuk pemberian akses khusus terhadap obat-obatan tertentu untuk rumah sakit bertaraf internasional serta pendampingan bagi UMKM herbal di desa wisata.

Kepala BPOM Taruna Ikrar menyatakan health tourism memiliki potensi besar menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi nasional seiring berkembangnya industri wellness tourism dan medical tourism di tingkat global.

Ia mengungkapkan, "Secara global, nilai ekonomi wellness tourism diperkirakan mencapai US$1,08 triliun pada 2026 dan diproyeksikan meningkat menjadi US$2,4 triliun pada 2035. Sementara itu, pasar medical tourism diperkirakan tumbuh dari US$38,6 miliar pada 2026 menjadi US$126,2 miliar pada 2035."

Data tersebut menunjukkan besarnya peluang ekonomi yang dapat dimanfaatkan Indonesia melalui pengembangan sektor wisata kesehatan.

BPOM Perluas Dukungan untuk Medical Tourism

Sejak Juni 2025, BPOM telah menerbitkan 19 persetujuan Special Access Scheme (SAS) untuk berbagai jenis obat yang digunakan dalam pelayanan kesehatan di kawasan pengembangan medical tourism.

Obat-obatan yang memperoleh persetujuan SAS antara lain obat antikanker dan imunoglobulin.

BPOM menegaskan setiap obat yang masuk melalui mekanisme SAS harus dapat ditelusuri penggunaannya.

Penggunaan obat tersebut hanya diperbolehkan sesuai tujuan pelayanan kesehatan yang telah mendapatkan persetujuan.

Taruna mengatakan, "BPOM mendukung penuh pengembangan medical tourism Indonesia. Namun, seluruh proses tetap dilaksanakan dengan prinsip kehati-hatian, pengawasan ketat, dan jaminan mutu agar keselamatan pasien tetap menjadi prioritas utama."

BPOM menekankan aspek keselamatan pasien dan pengawasan mutu tetap menjadi prioritas utama dalam pengembangan medical tourism nasional.

Desa Wisata Disiapkan Jadi Pusat Herbal dan Wellness

Taruna menjelaskan Indonesia memiliki sekitar 6.261 desa wisata yang terdiri atas 36 desa wisata mandiri, 330 desa wisata maju, 1.015 desa wisata berkembang, dan 4.880 desa wisata rintisan.

Menurutnya, desa wisata tidak hanya berfungsi sebagai destinasi wisata alam dan budaya.

Desa wisata juga memiliki potensi menjadi pusat produksi jamu, herbal, dan pangan lokal yang dapat mendukung pengembangan health tourism bernilai ekonomi tinggi.

Ia mengungkapkan, "Desa wisata tidak hanya menawarkan keindahan alam dan budaya, tetapi juga dapat menjadi pusat pengembangan produk jamu, herbal, dan pangan lokal yang aman serta bernilai ekonomi tinggi."

BPOM menyatakan siap memberikan pendampingan kepada pelaku usaha agar produk herbal dan pangan lokal memenuhi standar keamanan, mutu, dan khasiat.

Pendampingan tersebut diharapkan meningkatkan daya saing produk sekaligus kesejahteraan masyarakat.

BPOM juga akan memperluas program pendampingan bagi UMKM herbal di desa wisata.

Selain itu, BPOM akan mengembangkan program keamanan pangan melalui Desa Pangan Aman.

Program Kuliah Kerja Nyata Tematik Keamanan Pangan di berbagai destinasi wisata juga akan diperkuat.

Taruna mengatakan, "Kita harus melaporkan progress dan hasilnya kepada Presiden. Karena banyak sekali titik temu antara program BPOM dan Kementerian Pariwisata yang bisa memberikan manfaat bagi masyarakat."

Kementerian Pariwisata Dorong Wellfest 2026

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyambut positif penguatan kerja sama dengan BPOM.

Widiyanti menilai tren wisata kesehatan terus berkembang di tingkat global.

Menurutnya, Indonesia memiliki peluang besar menjadi salah satu destinasi unggulan wisata kesehatan dunia.

Potensi tersebut didukung oleh kekayaan jamu tradisional Indonesia, layanan kesehatan modern yang terus berkembang, serta keindahan alam dan budaya nasional.

Widiyanti mengatakan, "Kita memiliki modal kuat untuk memimpin pasar ini. Indonesia dapat memadukan keunggulan jamu tradisional warisan leluhur dengan fasilitas medis modern yang didukung keindahan alam nusantara."

Salah satu bentuk kerja sama yang diusulkan adalah kolaborasi dalam penyelenggaraan Wellness Festival (Wellfest) 2026.

Wellfest 2026 direncanakan menjadi agenda tahunan yang berfokus pada edukasi gaya hidup sehat secara holistik.

Kegiatan tersebut juga bertujuan mempromosikan produk kesehatan kepada masyarakat.

Wellfest 2026 diharapkan menjadi sarana mendukung UMKM lokal di sektor wellness, kosmetik, dan pangan olahan.

Kolaborasi BPOM dan Kementerian Pariwisata diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi wisata kesehatan yang kompetitif di tingkat global.

Penulis :
Shila Glorya