
Pantau - Dinas Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mendorong percepatan digitalisasi ribuan naskah kuno atau manuskrip guna memperkuat pelestarian dan pemanfaatan warisan budaya daerah agar tidak punah sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap khazanah budaya lokal.
Digitalisasi Didorong Selaras Visi Makmur Mendunia
Kepala Dinas Kebudayaan NTB Muhamad Ihwan mengatakan percepatan digitalisasi sejalan dengan visi Pemerintah Provinsi NTB dalam melindungi sekaligus memanfaatkan kekayaan budaya daerah.
Ia mengungkapkan, "Digitalisasi naskah kuno bagian dari visi misi kami dalam melakukan pelestarian dan perlindungan data, terutama khazanah kebudayaan."
Ihwan menegaskan digitalisasi tidak hanya berfungsi sebagai upaya penyimpanan dan perlindungan naskah kuno, tetapi juga menjadi bagian dari transformasi digital agar koleksi manuskrip dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
Menurutnya, hasil digitalisasi manuskrip NTB dapat diperkenalkan kepada masyarakat global sehingga sejalan dengan visi pembangunan daerah, yakni Makmur Mendunia.
Ia mengatakan, "Makmur artinya (potensi manuskrip) bisa dimanfaatkan, sedangkan Mendunia berarti melalui digitalisasi membuat khazanah naskah kuno bisa dieksplorasi dan dinikmati oleh masyarakat dunia."
Berdasarkan data Perpustakaan Nasional, terdapat sekitar 5.113 naskah kuno di Nusa Tenggara Barat sehingga menjadikan provinsi tersebut sebagai salah satu daerah dengan koleksi manuskrip terbanyak di Indonesia.
Sekitar 4.000 lebih naskah kuno masih berada di tangan masyarakat sehingga Dinas Kebudayaan NTB mendorong Perpustakaan Nasional menerapkan strategi jemput bola dengan mendatangi langsung para pemilik manuskrip di berbagai daerah untuk memperluas pelestarian, pendokumentasian, dan digitalisasi.
Museum NTB Butuh Peralatan Digitalisasi yang Lebih Memadai
Museum NTB saat ini menyimpan sekitar 1.200 naskah kuno, namun baru sekitar 16,67 persen atau sebanyak 200 naskah yang telah terdigitalisasi.
Kepala Museum NTB Ahmad Nuralam mengatakan naskah kuno tertua yang tersimpan di museum berupa Al Quran yang ditulis di atas kertas daluang pada abad ke-19 dan hingga kini belum terdigitalisasi.
Nuralam berharap Museum NTB memperoleh bantuan peralatan digitalisasi atau alih media agar mampu melakukan proses digitalisasi secara mandiri.
Saat ini Museum NTB telah memiliki kamera dan mesin pemindai (scanner), tetapi kualitas peralatan tersebut dinilai belum memadai untuk kebutuhan digitalisasi manuskrip.
Ia mengungkapkan, "Kami punya alat kamera dan mesin scanner, hanya saja itu belum begitu bagus. Peralatan digitalisasi manuskrip memerlukan piksel besar agar saat zoom gambar tidak pecah, karena membaca manuskrip lebih susah dibandingkan membaca tulisan di atas kertas."
Pada 22–25 Juni 2026, Perpustakaan Nasional melakukan digitalisasi terhadap 51 naskah kuno milik Museum NTB sehingga jumlah koleksi naskah digital museum bertambah dari sebelumnya 149 menjadi 200 naskah kuno.
- Penulis :
- Arian Mesa





