HOME  ⁄  Nasional

Pakar Sebut Konsep PRESISI Menjadi Arsitektur Reformasi Polri dan Dorong Kepercayaan Publik

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Pakar Sebut Konsep PRESISI Menjadi Arsitektur Reformasi Polri dan Dorong Kepercayaan Publik
Foto: (Sumber :Ilustrasi - Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo saat agenda seremoni peletakan batu pertama peresmian dimulainya pembangunan Markas Polda Daerah Istimewa Yogyakarta, Minggu (3/5/2026). ANTARA/HO-Polri/pri.)

Pantau - Pakar hukum Universitas Krisnadwipayana Hartanto menilai konsep PRESISI (Prediktif, Responsibilitas, dan Transparansi Berkeadilan) merupakan arsitektur reformasi Kepolisian Negara Republik Indonesia yang menjadi landasan perubahan internal serta berkontribusi terhadap meningkatnya kepercayaan publik terhadap Polri.

Tiga Pilar PRESISI Dinilai Mendorong Reformasi Polri

Hartanto mengatakan konsep PRESISI menjadi ruh berbagai kebijakan baru yang diterapkan di tubuh Polri.

"Konsep ini menjadi ruh dari berbagai kebijakan baru yang diterapkan di tubuh Polri dan dianggap sebagai penjelasan substantif atas meningkatnya angka kepercayaan publik," ungkapnya.

Ia menjelaskan aspek prediktif mendorong Polri mengantisipasi potensi gangguan keamanan melalui pemanfaatan data intelijen dan analitik sosial, sedangkan responsibilitas menekankan akuntabilitas setiap anggota melalui pengawasan internal yang lebih kuat.

Menurutnya, transparansi berkeadilan diwujudkan melalui keterbukaan informasi dalam proses hukum dan pelayanan publik sehingga kepercayaan masyarakat dibangun berdasarkan pengalaman yang adil dan setara.

Kepercayaan Publik Disebut Mencerminkan Perubahan Internal

Hartanto menyebut hasil survei Litbang Kompas yang mencatat tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Polri mencapai 80,6 persen merupakan refleksi dari perubahan struktural di dalam institusi.

"Ketiga dimensi ini saling menopang satu sama lain dalam membentuk wajah baru Polri di mata masyarakat," ujarnya.

Ia menambahkan peningkatan kepercayaan publik ditopang oleh perbaikan kinerja institusi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta transformasi budaya organisasi yang mengedepankan keterbukaan, antikorupsi, dan pelayanan kepada masyarakat.

Hartanto juga menilai pembinaan karakter dan etika profesi menjadi bagian penting dalam pengembangan personel agar reformasi Polri dapat berjalan secara berkelanjutan.

Penulis :
Ahmad Yusuf