HOME  ⁄  Nasional

F-PKB MPR Sebut Etnis Tionghoa Berperan sebagai Salah Satu Arsitek Utama Republik Indonesia

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

F-PKB MPR Sebut Etnis Tionghoa Berperan sebagai Salah Satu Arsitek Utama Republik Indonesia
Foto: Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa MPR RI Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz (kiri) menyampaikan sambutan pada dialog kebangsaan Peran Tionghoa dalam Pusaran Kebangsaan di Jakarta, Minggu (19/7/2026).

Pantau - Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (F-PKB) MPR RI Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz menyatakan etnis Tionghoa merupakan salah satu arsitek utama dalam pembangunan Republik Indonesia dan memiliki kontribusi besar sejak sebelum kemerdekaan.

Neng Eem menyampaikan pernyataan tersebut dalam dialog kebangsaan bertajuk Peran Tionghoa dalam Pusaran Kebangsaan di Jakarta sebagai respons terhadap masih adanya dikotomi antara pribumi dan nonpribumi.

Neng Eem mengatakan, “Jika kita berani menengok masa lalu dengan mata batin yang jernih, etnis Tionghoa bukanlah penumpang gelap di kapal besar bernama Indonesia, mereka adalah salah satu arsitek utama, pendiri sekaligus pemilik sah saham republik ini.”

Soroti Sejarah Pembauran dan Peran Gus Dur

Neng Eem menjelaskan pembauran budaya telah berlangsung sejak sebelum Indonesia merdeka melalui interaksi damai yang melahirkan akulturasi di berbagai bidang, mulai dari kuliner hingga arsitektur.

Ia mengatakan, “Di masa itu, Laskar Tionghoa dan pejuang Jawa bersatu di medan laga, menghantam kezaliman VOC. Sejarah ini menjadi bukti bahwa solidaritas lintas etnis demi menegakkan keadilan telah tumbuh subur di bumi pertiwi sejak berabad-abad silam.”

Menurutnya, Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur mengambil langkah penting dalam menghapus diskriminasi terhadap etnis Tionghoa melalui Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000.

Neng Eem mengatakan, “Melalui Keppres Nomor 6 Tahun 2000, Gus Dur mematahkan belenggu Inpres Nomor 14 Tahun 1967. Beliau memulihkan hak sipil etnis Tionghoa, mengembalikan kebebasan merayakan Imlek, dan menempatkan Khonghucu setara dengan agama lainnya.”

F-PKB Komitmen Perkuat Nilai Kebangsaan

Neng Eem menilai dikotomi antara pribumi dan nonpribumi masih menjadi tantangan yang harus dihapus karena merupakan warisan politik pecah belah pada masa kolonial.

F-PKB MPR RI berkomitmen menghapus sisa-sisa diskriminasi, menempatkan kontribusi etnis Tionghoa secara proporsional dalam kurikulum sejarah, serta memperkuat kolaborasi antarelemen bangsa.

Neng Eem mengatakan, “Menjadi Indonesia bukanlah soal garis keturunan atau asal-usul genetik. Menjadi Indonesia adalah sebuah kesepakatan spiritual, kesepakatan politik dan kebudayaan untuk hidup bersama, saling menopang, dan bahu-membahu mewujudkan kejayaan di bawah kibaran bendera Merah Putih.”

Dialog kebangsaan tersebut diselenggarakan oleh Badan Persaudaraan Antariman (Berani) dalam rangka menyambut Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa.

Penulis :
Gerry Eka