
Pantau - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan program kompor listrik masih berada pada tahap uji coba, sementara hasil pengujian akan menjadi dasar penyusunan konsep program sebelum dibahas bersama Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
Uji Coba Libatkan PLN dan Perguruan Tinggi
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengatakan pengujian kompor listrik baru saja dimulai di Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa (BBSP).
Ia mengungkapkan, "Ini baru dites. Baru dites. Kita baru tes (kompor listrik) di BBSP (Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa). Jadi kita bekerja sama sama dengan tim PLN, bersama universitas (seperti) UGM dan ITB."
ESDM bekerja sama dengan tim PT PLN (Persero), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam pelaksanaan pengujian tersebut.
Selain itu, ESDM juga berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi untuk menguji beberapa jenis kompor listrik.
Eniya mengatakan pengujian dilakukan untuk membandingkan berbagai jenis kompor listrik sekaligus mengukur tingkat efisiensinya.
Ia mengungkapkan, "Jadi tes itu sedang kita lakukan sekarang. Perbedaan berbagai kompor listrik, terus nanti efisiensinya berapa."
Hasil Pengujian Akan Dibahas Bersama Menteri ESDM
Setelah hasil uji coba diperoleh, pemerintah akan menghitung konsumsi listrik bulanan serta perkiraan biaya penggunaan kompor listrik sebagai dasar penyusunan konsep program.
Eniya mengatakan, "Berdasarkan itu nanti kita hitung konsumsi per bulan, terus kira-kira berapa harganya. Terus bagaimana konsepnya itu nanti kita bahas dulu dengan Pak Menteri (ESDM, Bahlil Lahadalia)."
Sebelumnya, pada Senin, 15 Juni, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan pemerintah menyiapkan kompor listrik berdaya di bawah 900 kilovolt ampere (kVA) untuk rumah tangga sebagai bagian dari rencana konversi kompor LPG menjadi kompor listrik.
Bahlil juga mengusulkan anggaran sebesar Rp815,56 miliar dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 untuk mendukung program tersebut.
Pemerintah menyebut salah satu tujuan program itu adalah mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG.
Wacana pengalihan dari kompor LPG ke kompor listrik sebelumnya pernah muncul pada masa pemerintahan Joko Widodo.
Pada September 2022, PT PLN (Persero) membatalkan program pengalihan kompor LPG 3 kilogram ke kompor listrik demi menjaga kenyamanan masyarakat selama masa pemulihan ekonomi pascapandemi COVID-19.
Setelah terjadi lonjakan harga energi akibat perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran, Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno kembali mendorong pemerintah melakukan transisi dari kompor gas ke kompor listrik karena dinilai lebih murah dibandingkan biaya subsidi impor LPG dan harga LPG sangat dipengaruhi kenaikan harga minyak dunia.
- Penulis :
- Arian Mesa





