HOME  ⁄  Nasional

Palang Merah AS Kembali Umumkan Krisis Pasokan Darah Nasional akibat Turunnya Jumlah Pendonor

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Palang Merah AS Kembali Umumkan Krisis Pasokan Darah Nasional akibat Turunnya Jumlah Pendonor
Foto: (Sumber :Foto yang diambil pada 10 Juni 2026 ini menunjukkan bagian luar Stadion Los Angeles menjelang Piala Dunia FIFA di Los Angeles, Amerika Serikat. ANTARA/Xinhua/Bai Xuefei.)

Pantau - Palang Merah Amerika Serikat (AS) kembali mengumumkan krisis pasokan darah nasional setelah jumlah pendonor turun ke level terendah selama musim panas dalam empat tahun terakhir sehingga distribusi darah mulai dibatasi ke rumah sakit.

Pasokan Darah Golongan O Menipis

Palang Merah AS menyatakan pihaknya mulai membatasi distribusi darah golongan O ke masing-masing rumah sakit karena permintaan terus melampaui ketersediaan pasokan.

Organisasi tersebut menyebut pasokan darah golongan O positif yang tersedia saat ini hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional kurang dari satu hari.

Palang Merah AS menjelaskan darah golongan O positif merupakan jenis darah yang paling sering ditransfusikan, mencakup sekitar 60 persen dari distribusi darah organisasi tersebut dan dapat diberikan secara aman kepada sekitar 80 persen pasien.

Cuaca Ekstrem Perburuk Krisis

Palang Merah AS menyebut suhu panas ekstrem, kualitas udara yang buruk, serta meluasnya penyakit akibat konsumsi makanan menjadi faktor yang menyebabkan penurunan jumlah pendonor pada musim panas tahun ini.

Presiden Layanan Biomedis Palang Merah AS Chris Hrouda mengatakan organisasinya terus berupaya menjaga pasokan darah bagi rumah sakit di seluruh negeri.

Ia mengungkapkan, "bekerja tanpa kenal lelah" untuk memperkuat pasokan darah bagi mitra-mitra rumah sakitnya.

Ia mengatakan, "Setiap donasi berpotensi membantu menyelamatkan nyawa, dan kami sangat mengharapkan setiap orang yang memenuhi syarat untuk membuat janji temu guna menyumbangkan darah sesegera mungkin."

Palang Merah AS sebelumnya mendeklarasikan krisis pasokan darah nasional pertama pada Januari 2022 ketika negara tersebut masih menghadapi dampak berkepanjangan pandemi COVID-19.

Penulis :
Ahmad Yusuf