
Pantau - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN terus memperkuat peran keluarga sebagai lingkungan pengasuhan pertama guna mewujudkan ruang yang aman dan nyaman bagi anak, termasuk dalam menghadapi tantangan era digital.
Keluarga Jadi Fondasi Perlindungan Anak
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji menegaskan keluarga tetap menjadi fondasi utama dalam menciptakan ruang aman bagi anak di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
"Perubahan peradaban atau new civilization telah menghadirkan tantangan baru dalam kehidupan keluarga. Kehadiran gawai yang semakin dekat dengan anak menuntut orang tua untuk mampu beradaptasi dalam pola pengasuhan, tanpa kehilangan peran sebagai lingkungan pertama dan utama pembentukan karakter. Dalam perspektif kementerian kita, gawai adalah keluarga baru yang mempengaruhi algoritma kita semua," ungkap Wihaji.
Berdasarkan hasil Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022, sekitar 15,5 juta atau 34,9 persen remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental.
Kemendukbangga/BKKBN menilai penguatan keluarga menjadi langkah penting untuk menyiapkan generasi yang sehat, tangguh, dan berkualitas.
Kolaborasi Lewat GERNAS RANA
Kemendukbangga/BKKBN memperkuat kolaborasi melalui Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman Anak (GERNAS RANA) yang diinisiasi Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK).
"Isu GERNAS RANA ini sangat mendasar dan urgent (penting) karena berkaitan dengan sumber daya manusia ke depan," ujar Wihaji.
Program tersebut memperkuat implementasi delapan fungsi keluarga, yakni fungsi keagamaan, sosial budaya, cinta kasih, perlindungan, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi, serta pembinaan lingkungan sebagai pedoman menghadapi perubahan zaman dan tantangan ruang digital.
Pemerintah juga melibatkan enam kementerian dalam pelaksanaan GERNAS RANA, yaitu Kemenko PMK, Kementerian Komunikasi dan Digital, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Agama, serta Kemendukbangga.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno menegaskan penurunan angka kekerasan terhadap anak menjadi indikator utama keberhasilan program tersebut.
"Dan tentu saja indikator kita adalah menurunnya angka kekerasan. Jadi itu indikator yang paling mudah untuk dilihat, kekerasan. Sekali lagi kekerasan dalam keluarga, dalam satuan pendidikan, di ruang publik, dan juga di ruang digital," kata Pratikno.
Pemerintah berharap sinergi antarkementerian dan penguatan peran keluarga dapat menciptakan lingkungan yang aman sehingga anak Indonesia tumbuh sehat, berkarakter, dan siap menghadapi masa depan.
- Penulis :
- Aditya Yohan



