
Pantau - Perkumpulan Pelaku Logistik Indonesia (PPLI) mendorong penguatan sistem logistik, data produksi, teknologi pascapanen, dan infrastruktur rantai dingin untuk memitigasi dampak musim kemarau terhadap pasokan serta harga produk hortikultura.
Kepala Bidang Rantai Dingin PPLI Tejo Mulyono mengatakan cuaca ekstrem dapat memicu gagal panen yang berujung pada penurunan produksi secara nasional.
“Saat cuaca ekstrem, tentu saja ada kekurangan supply karena gagal panen, secara agregat tingkat produksi nasional akan menurun bila terjadi cuaca ekstrem,” kata Tejo di Jakarta, Rabu.
BMKG memprediksi puncak musim kemarau berlangsung pada Juli hingga September 2026 dengan cakupan terbesar pada Agustus yang meliputi 369 zona musim atau 48,84 persen luas daratan Indonesia.
Rantai Dingin Dibutuhkan untuk Mengurangi Kehilangan Pangan
Tejo mengatakan penguatan cold chain dapat menjaga kualitas sekaligus memperpanjang masa simpan produk hortikultura setelah dipanen, meski bukan satu-satunya faktor yang menentukan stabilitas harga.
“Pembangunan cold chain berperan hanya pada menjaga kualitas produk dan daya simpan yang lama,” ujarnya.
Sebagian besar distribusi buah dan sayuran saat ini masih menggunakan kendaraan konvensional tanpa fasilitas pendingin, sementara kebutuhan penanganan setiap komoditas berbeda.
Cabai merupakan komoditas yang cepat mengalami kerusakan, sedangkan bawang merah lebih membutuhkan fasilitas penyimpanan kering.
Tejo memperkirakan kehilangan pangan atau food loss masih mencapai sekitar 25–30 persen dari total produksi komoditas mulai dari proses panen hingga perdagangan.
“Perkiraan food loss masih sekitar 25–30 persen dari total produksi komoditas. Persentase tersebut merupakan total food loss dari saat proses panen, pengepakan, pengangkutan, penyimpanan di gudang-gudang distribusi dan saat transaksi perdagangan,” ungkap Tejo.
Kajian Kementerian PPN/Bappenas memperkirakan kehilangan dan pemborosan seluruh jenis pangan di Indonesia sepanjang 2000–2019 mencapai 23–48 juta ton per tahun dengan potensi kerugian ekonomi Rp213 triliun hingga Rp551 triliun per tahun.
“Di pasar-pasar induk perlu cold storage untuk penyimpanan stok pedagang besar. Kendaraan-kendaraan berpendingin masih sangat dibutuhkan untuk mengurangi food loss,” ucapnya.
Data Produksi dan Teknologi Pascapanen Perlu Diperkuat
PPLI juga menilai informasi produksi dan harga secara waktu nyata hingga tingkat kabupaten dan kota diperlukan agar pasokan bisa segera dikirim dari wilayah surplus menuju daerah yang mengalami kekurangan.
“Perlu adanya informasi realtime atas jumlah produksi dan harga komoditas di setiap wilayah kota/kabupaten. Dengan adanya data harga per wilayah, maka bila terjadi harga tinggi di satu wilayah, dapat didrop komoditas dari wilayah surplus produksi,” ucap Tejo.
Teknologi pascapanen dan hilirisasi juga dinilai dapat memperpanjang masa simpan, seperti mengolah cabai menjadi pasta dan tomat menjadi saus agar hasil produksi tidak hanya bergantung pada pasar produk segar.
PPLI turut mendorong kemitraan closed loop antara petani dengan industri pengolahan maupun eksportir serta keberadaan agregator untuk membantu pengumpulan hasil produksi, pengendalian mutu, dan penguatan posisi tawar petani.
“Tantangan terbesar dalam pembangunan infrastruktur (rantai dingin) adalah biaya listrik yang mahal serta produk bersifat musiman, yang menyebabkan biaya operasional tinggi,” tutur Tejo.
Pemerintah Menyiapkan 56 Ribu Pompa Air
Kementerian Pertanian menyiapkan 56 ribu pompa air pada 2026 sebagai bagian dari upaya mitigasi kekeringan untuk mempertahankan produksi pangan.
Pemerintah juga menjalankan pemetaan wilayah rawan kekeringan, penguatan irigasi, pembangunan embung dan perpipaan, percepatan tanam, serta penggunaan varietas tahan kekeringan.
Kementan mencatat potensi produksi beras pada Januari–Agustus 2026 mencapai 25,28 juta ton atau meningkat 0,05 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Potensi produksi beras pada Juni–Agustus diperkirakan mencapai 8,42 juta ton sehingga mitigasi kekeringan diperlukan untuk menjaga produksi selama musim kering.
- Penulis :
- Aditya Yohan



