
Pantau - Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno mendorong ekonomi karbon menjadi salah satu mesin pertumbuhan baru Indonesia setelah Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintah mengembangkan ekonomi hijau dan perdagangan karbon dalam Sidang Tahunan MPR RI 2026, Jumat (14/8/2026).
Eddy mengapresiasi perhatian Prabowo terhadap pengembangan ekonomi hijau, ekonomi karbon, Sistem Registri Unit Karbon (SRUK), serta bursa nilai ekonomi karbon.
“Kita juga menggerakkan ekonomi hijau. Sistem Registri Unit Karbon dan bursa nilai ekonomi karbon telah kita dirikan dan telah berjalan dengan mengadopsi standar karbon dunia,” kata Presiden Prabowo dalam pidatonya di hadapan Sidang Tahunan MPR RI, Jumat (14/8).
Ekonomi Karbon Didorong Jadi Pilar Baru
Eddy menilai pernyataan Presiden menunjukkan komitmen politik untuk menempatkan ekonomi karbon sebagai bagian dari strategi pertumbuhan nasional dan bukan hanya instrumen pencapaian target penurunan emisi.
“Saya sangat mengapresiasi perhatian Presiden terhadap ekonomi karbon. Ini sejalan dengan apa yang selama ini saya dorong bahwa ekonomi karbon harus kita jadikan salah satu pilar ekonomi baru Indonesia. Dekarbonisasi harus dilihat dalam cara pandang luas sebagai isu lingkungan sekaligus peluang untuk menciptakan investasi, penerimaan negara, lapangan kerja, dan sumber pertumbuhan ekonomi baru,” ujar Eddy.
Menurut Eddy, kehadiran SRUK menjadi langkah strategis untuk memastikan setiap unit karbon yang diperdagangkan mempunyai pencatatan, verifikasi, dan keterlacakan yang jelas.
“SRUK adalah fondasi kepercayaan terhadap pasar karbon Indonesia. Kalau kita ingin menarik investasi dan menjadikan karbon sebagai komoditas ekonomi yang kredibel, maka integritas data, transparansi, keterlacakan, dan standar internasional harus menjadi prinsip utama,” tegasnya.
Indonesia Dinilai Punya Potensi Karbon Besar
Eddy mengatakan penguatan SRUK perlu berjalan beriringan dengan kepastian regulasi, kesiapan proyek karbon, serta koordinasi lintas kementerian dan lembaga.
Menurutnya, berbagai proyek karbon yang telah memasuki tahap persiapan teknis, finansial, dan kelembagaan perlu memiliki jalur yang jelas menuju monetisasi karbon serta integrasi dengan sistem nasional.
Indonesia dinilai memiliki modal besar untuk mengembangkan ekonomi karbon melalui kekayaan hutan, lahan gambut, mangrove, energi terbarukan, pengelolaan sampah, hingga teknologi Carbon Capture and Storage (CCS).
“Pesan Presiden hari ini harus kita tindak lanjuti dengan kerja konkret. Dengan potensi karbon yang besar maka nilai ekonominya harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Kita harus membangun pasar karbon yang kredibel, kompetitif, dan memberikan manfaat ekonomi bagi Indonesia,” tutup Eddy.
- Penulis :
- Aditya Yohan



