
Pantau - Pemerintah terus mengoptimalkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dengan memperkuat operasi terpadu, mengerahkan sekitar 12.880 personel gabungan, serta membangun sumur bor untuk mendukung ketersediaan air bagi kegiatan pemadaman.
Pembangunan sumur bor menjadi salah satu langkah penting karena sumber air permukaan untuk kegiatan pemadaman semakin terbatas seiring berlanjutnya kondisi kering.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan Ristianto Pribadi mengatakan sumur bor diharapkan menyediakan sumber air yang lebih dekat dengan lokasi operasi.
"Sumur bor diperlukan untuk memperpendek jarak pengambilan air, mempercepat pengisian peralatan pemadaman, serta menjaga kesinambungan pembasahan dan pendinginan," kata Ristianto.
Sumur Bor Dukung Pemadaman di Lahan Gambut
Ketersediaan air menjadi perhatian khusus pemerintah dalam menangani karhutla di kawasan lahan gambut karena bara api dapat tetap bertahan di bawah permukaan meskipun api di atas tanah telah dipadamkan.
Kondisi tersebut membuat api berpotensi kembali muncul apabila proses pembasahan tidak dilakukan secara menyeluruh.
Pemerintah karena itu menempatkan pemadaman, pembasahan, dan pendinginan sebagai bagian penting dalam operasi pengendalian karhutla.
Selain membangun sumur bor, pemerintah memperkuat operasi terpadu dengan melibatkan Kementerian Kehutanan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), BMKG, pemerintah daerah, serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Operasi tersebut turut melibatkan TNI, Polri, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, dunia usaha, relawan, dan masyarakat.
"Operasi terpadu pengendalian kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor, dengan penanganan yang disesuaikan berdasarkan perkembangan kondisi di lapangan," kata Ristianto.
Sebanyak 12.880 Personel Gabungan Dikerahkan
Berdasarkan data operasi, sekitar 12.880 personel gabungan telah dikerahkan untuk menangani karhutla di tiga provinsi yang menjadi prioritas.
Sebanyak 1.410 personel dikerahkan di Kalimantan Barat, sekitar 10.700 personel di Kalimantan Tengah, dan 770 personel di Kalimantan Selatan.
Para personel melakukan pemantauan titik panas, menindaklanjuti laporan masyarakat, menjalankan patroli terpadu, serta melakukan pemeriksaan langsung untuk mengetahui perkembangan kebakaran di lapangan.
Apabila ditemukan kebakaran, personel melakukan pemadaman melalui jalur darat dan melanjutkannya dengan pembasahan serta pendinginan area terdampak.
Pembasahan dan pendinginan dilakukan untuk mengurangi risiko bara yang masih tersimpan di dalam tanah, terutama pada lahan gambut, kembali memunculkan api.
Petugas juga melakukan penyekatan lokasi kebakaran untuk mencegah api menyebar ke kawasan lain serta menjaga wilayah rawan guna mengantisipasi kemunculan kembali titik api.
Posko Terpadu dan Dukungan Udara Diperkuat
Koordinasi seluruh unsur yang terlibat dilakukan melalui posko terpadu yang berfungsi menentukan lokasi prioritas sekaligus mengarahkan personel dan peralatan berdasarkan perkembangan situasi di lapangan.
Operasi darat didukung kendaraan untuk mobilisasi serta peralatan berupa pompa, pompa jinjing, selang pemadaman, dan flexible tank untuk memenuhi kebutuhan air.
Petugas turut dibekali alat komunikasi untuk menunjang koordinasi dan alat pelindung diri guna menjaga keselamatan selama operasi pemadaman.
Selain operasi darat, pemerintah mengerahkan helikopter patroli dan pesawat patroli fixed wing untuk membantu pemantauan kondisi kebakaran.
Helikopter water bombing juga dioperasikan untuk mendukung pemadaman karhutla melalui jalur udara.
Secara keseluruhan, penanganan karhutla di Kalimantan dilakukan melalui pembangunan sumur bor, pengerahan personel gabungan, pemadaman dan pendinginan lahan gambut, patroli wilayah rawan, koordinasi melalui posko terpadu, serta operasi pemantauan dan pemadaman melalui jalur darat dan udara.
- Penulis :
- Shila Glorya



