
Pantau - Umbul-umbul Caruban Nagari Keraton Cirebon yang menjadi simbol kekuasaan sekaligus spiritual menyimpan jejak kemenangan pasukan Fatahillah atas Portugis di Sunda Kelapa pada 22 Juni 1527.
Wastra bersejarah tersebut kini dapat disaksikan masyarakat melalui pameran "Menjaga Warisan untuk Masa Depan" di Museum Tekstil Jakarta yang berlangsung hingga 30 Agustus 2026.
Caruban Nagari Berkibar dalam Pertempuran Sunda Kelapa
Armada gabungan Kerajaan Islam Cirebon, Demak, dan Banten yang berjumlah 1.967 prajurit di bawah komando Fatahillah berhasil mengusir armada Portugis dari Sunda Kelapa pada 22 Juni 1527.
Umbul-umbul Caruban Nagari berkibar di garis depan dalam pertempuran tersebut dan menjadi pengingat kemenangan pasukan Fatahillah.
Caruban Nagari berbahan katun berwarna putih dan biru dengan salah satu ujung meruncing serta dihiasi kaligrafi singa besar dan kecil, pedang Zulfikar, serta ayat-ayat Al-Qur'an.
Ayat yang tercantum pada kain tersebut meliputi Surah Al-Ikhlas, Al-An'am ayat 103, dan Ash-Shaff ayat 13 yang memiliki makna pertolongan serta kemenangan yang dekat.
Kaligrafi singa besar pada ujung kain menandakan pemimpin besar, sedangkan dua singa kecil menggambarkan kelompok idealis dan pragmatis.
Ornamen geometris berupa bintang juga menghiasi kain sebagai simbol cahaya dan petunjuk, sementara bunga delapan arah melambangkan kehidupan dan kesucian.
Replikasi Bersejarah Menjadi Koleksi Museum Tekstil
Sekitar 2,5 abad setelah pertempuran tersebut, replikasi Caruban Nagari dibuat pada 1776 menggunakan teknik batik tulis dengan ukuran 322 x 172 sentimeter.
Kain itu kemudian disumbangkan Gusti Kanjeng Putri Mangkunegara VIII kepada Museum Tekstil Jakarta pada 1976 dan menjadi bagian dari 500 koleksi perdana museum.
Usia kain yang sudah tua membuat koleksi asli tidak dipamerkan secara permanen dan disimpan secara khusus untuk menjaga kelestariannya.
Museum Tekstil kemudian membuat duplikat berukuran 310 x 196 sentimeter pada 2011 agar masyarakat tetap dapat menyaksikan wujud Caruban Nagari.
Puluhan Wastra Nusantara Turut Dipamerkan
Caruban Nagari kini bersanding dengan sekitar 49 koleksi wastra pilihan dan unggulan serta 12 koleksi istimewa pionir ragam keindahan ulos Torang Sitorus dalam pameran "Menjaga Warisan untuk Masa Depan".
Pameran yang digelar dalam rangka perayaan HUT ke-50 Museum Tekstil dan Himpunan Wastraprema itu turut menghadirkan kain Gajah Birawa dari Surakarta, Bulu Hayam dari Garut, Tumurun Sri Narendra, dan Sawunggaling.
Kain Sawunggaling karya Go Tik Swan Panembahan Hardjonagoro pada 1950-an dibuat atas perintah Presiden pertama RI Soekarno dengan motif ayam jago bertarung yang melambangkan heroisme, patriotisme, nasionalisme, dan romantisme.
Selain batik, pengunjung dapat menyaksikan songket, tapis, dan ulos yang memperlihatkan keragaman wastra Nusantara beserta nilai budaya, filosofi, dan perjalanan sejarahnya.
Kepala Unit Pengelola Museum Seni Dinas Kebudayaan DKI Jakarta Sri Kusumawati menyampaikan bahwa setiap wastra menceritakan perjalanan panjang pelestarian budaya yang dibangun melalui semangat gotong royong, kepedulian, dan kecintaan terhadap budaya bangsa.
Pameran tersebut diharapkan membuat masyarakat, khususnya generasi muda, semakin mengenal dan mencintai wastra warisan budaya Indonesia sehingga upaya pelestarian dapat terus berlanjut.
Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta Mochamad Miftahulloh Tamary juga menekankan bahwa pelestarian budaya merupakan proses panjang yang membutuhkan komitmen, kolaborasi, dan kepedulian bersama.
- Penulis :
- Aditya Yohan



