HOME  ⁄  Nasional

Program Cek Kesehatan Gratis Membantu Deteksi Dini TBC di Tengah Tantangan Kepulauan Maluku

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Program Cek Kesehatan Gratis Membantu Deteksi Dini TBC di Tengah Tantangan Kepulauan Maluku
Foto: (Sumber :Program Cek Kesehatan Gratis di Puskesmas Ambon. ANTARA/Dedy Azis.)

Pantau - Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menjadi salah satu pintu deteksi dini tuberkulosis (TBC) bagi masyarakat Maluku di tengah keterbatasan dokter spesialis dan kondisi geografis kepulauan yang menyulitkan akses pelayanan kesehatan.

Dokter spesialis paru Reza Pahlevi Amahoru menjadi salah satu tenaga medis yang harus rutin menyeberangi perairan antara Ambon dan Masohi untuk melayani pasien TBC.

Tiga hari Reza menjalani praktik di Masohi dan tiga hari berikutnya bertugas di Ambon untuk mengikuti kebutuhan pelayanan pasien.

"Sekarang petugas loket pelabuhan mungkin sudah hafal dengan wajah saya karena terlalu sering menyeberang Ambon-Masohi," ujar Reza.

CKG Membantu Menemukan TBC Lebih Dini

Reza mengatakan tidak semua gangguan kesehatan memperlihatkan gejala sejak awal sehingga pemeriksaan dini diperlukan agar penyakit dapat ditangani sebelum semakin parah.

Program CKG melalui fasilitas kesehatan tingkat pertama memungkinkan masyarakat memantau kondisi kesehatan sekaligus mendeteksi risiko TBC lebih awal.

"Program cek kesehatan gratis maupun program pemeriksaan kesehatan lainnya sangat membantu dalam mendeteksi penyakit, termasuk tuberkulosis," kata Reza.

Salah satu pasien Reza merupakan pria paruh baya yang datang dengan keluhan batuk berdahak darah dan demam berkepanjangan setelah memperoleh surat rujukan dari puskesmas.

Pasien yang terkonfirmasi TBC harus segera menjalani pengobatan dan pemantauan sampai dinyatakan sembuh.

Pengobatan TBC umumnya berlangsung selama enam bulan yang terdiri atas dua bulan fase awal dan empat bulan fase lanjutan.

Obat antituberkulosis dapat diperoleh secara gratis melalui program nasional di puskesmas, tetapi kepatuhan menjalani pengobatan tetap menjadi tantangan.

Pasien terkadang menghentikan pengobatan sebelum waktunya setelah batuk mereda, nafsu makan membaik, dan kondisi tubuh kembali bertenaga.

Pasien pria yang ditangani Reza diketahui tidak patuh menjalani pengobatan sehingga pemeriksaan setelah terapi masih menunjukkan tanda-tanda infeksi.

Kondisi tersebut membuat dokter perlu memastikan kemungkinan resistensi obat sebelum menentukan langkah pengobatan berikutnya.

Maluku Menghadapi Keterbatasan Dokter Spesialis Paru

Penanganan TBC di Maluku menghadapi tantangan tambahan karena wilayah tersebut didominasi laut dengan penduduk yang tersebar di berbagai pulau.

Reza merupakan satu dari hanya 14 dokter spesialis paru yang melayani wilayah Maluku dan Maluku Utara.

Keterbatasan tersebut membuat dokter harus bergiliran memberikan pelayanan, termasuk berpindah antara Ambon dan Masohi, agar pengobatan pasien tidak terputus.

Reza menilai penyebaran tenaga dokter baru, terutama dokter spesialis, ke berbagai kabupaten dan kota diperlukan untuk menjawab tantangan pelayanan kesehatan di wilayah kepulauan.

"Oleh sebab itu, penyebaran dokter baru, terutama dokter spesialis, ke seluruh kabupaten dan kota mungkin akan menjawab tantangan wilayah kepulauan ini, supaya akses pelayanan kesehatan bisa lebih cepat," ungkapnya.

Pengobatan TBC Harus Dijalani hingga Tuntas

Penanganan TBC tidak berhenti setelah penyakit berhasil didiagnosis karena pasien harus menjalani terapi dan pemantauan secara disiplin hingga sembuh.

Pengobatan yang tidak tuntas berisiko membuat infeksi terus menular sekaligus menyebabkan gangguan permanen pada paru-paru.

Salah satu kerusakan yang dapat muncul akibat infeksi berkepanjangan adalah bronkiektasis atau kondisi ketika saluran pernapasan mengalami kerusakan dan pelebaran permanen.

Deteksi dini melalui CKG, ketersediaan obat gratis, kepatuhan pasien, serta pemerataan tenaga kesehatan menjadi bagian penting dalam memperkuat penanganan TBC di wilayah kepulauan.

Penulis :
Aditya Yohan