HOME  ⁄  Nasional

Pakar UMY Nilai El Nino Memperparah Karhutla di Kalimantan, Aktivitas Manusia Jadi Pemicu Api

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Pakar UMY Nilai El Nino Memperparah Karhutla di Kalimantan, Aktivitas Manusia Jadi Pemicu Api
Foto: (Sumber :Pakar Kebijakan Lingkungan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Rijal Ramdani. ANTARA/HO-Humas UMY.)

Pantau - Pakar Kebijakan Lingkungan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Rijal Ramdani menilai fenomena El Nino memperparah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan karena memperpanjang kekeringan, sementara aktivitas manusia menjadi penyulut utama titik api.

Rijal mengatakan El Nino menurunkan curah hujan dan memperpanjang kondisi kering sehingga vegetasi serta lahan gambut kehilangan kelembapan dan semakin rentan terbakar.

"Musim kemarau menjadi lebih panjang karena El Nino, sehingga ilalang dan hutan yang kering rentan terbakar. Kondisi diperparah oleh cuaca panas dan angin kencang yang mempercepat penyebaran api," kata Rijal di Yogyakarta, Kamis (27/8/2026).

El Nino Ciptakan Kondisi Rentan Terbakar

Rijal menegaskan El Nino hanya menciptakan kondisi lingkungan yang lebih mudah terbakar dan bukan menjadi sumber api secara langsung.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) per akhir Agustus 2026, El Nino kategori sangat kuat memicu kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia, tetapi kebakaran tetap membutuhkan pemicu.

Menurut Rijal, sumber api dalam mayoritas kejadian karhutla berasal dari aktivitas manusia, baik yang dilakukan secara sengaja maupun akibat kelalaian.

"Praktik pembukaan lahan untuk bercocok tanam dengan cara membakar menjadi pemicu utama. Dalam kondisi normal mungkin bisa dikendalikan, tetapi saat kering dan berangin, api cepat meluas dan sulit dipadamkan," katanya.

Selain pembukaan lahan, pencarian madu hutan menggunakan asap, api unggun yang tidak dipadamkan sempurna, serta pembuangan puntung rokok sembarangan di lahan gambut kering juga dapat memicu kebakaran bawah permukaan atau ground fire.

Kebakaran bawah permukaan tersebut menjadi salah satu jenis kebakaran yang sulit dipadamkan karena api dapat menjalar di lapisan gambut.

Pencegahan Karhutla Diminta Jadi Prioritas

BMKG memprediksi periode kritis karhutla masih berlangsung hingga September 2026 sehingga langkah pencegahan dinilai perlu dikedepankan dibandingkan pemadaman ketika api telah membesar.

Rijal meminta pencegahan difokuskan pada sumber api melalui edukasi kepada masyarakat, patroli berkala, deteksi dini, dan pembasahan lahan gambut secara berkelanjutan.

"Pencegahan harus menyasar sumber api melalui edukasi masyarakat, patroli berkala, deteksi dini, serta pembasahan lahan gambut secara berkelanjutan sebelum api muncul dan meluas," katanya.

Penulis :
Ahmad Yusuf
Editor :
Tria Dianti