HOME  ⁄  Nasional

Pengalaman Eropa Menunjukkan Koperasi Bisa Menjadi Kekuatan Ekonomi Modern melalui Jaringan Usaha

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Pengalaman Eropa Menunjukkan Koperasi Bisa Menjadi Kekuatan Ekonomi Modern melalui Jaringan Usaha
Foto: (Sumber :Juru masak menunjukkan bumbu randang (rendang) dan kalio yang sudah dikemas di dapur Koperasi Wanita Ikaboga Padang, Sumatera Barat, Selasa (29/10/2024). ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/Spt..)

Pantau - Pengalaman sejumlah negara Eropa menunjukkan koperasi dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi modern melalui jaringan usaha, pengelolaan profesional, pemanfaatan teknologi, serta kepemilikan bersama yang tetap mempertahankan prinsip demokratis.

International Cooperative Alliance (ICA) mendefinisikan koperasi sebagai perkumpulan orang yang secara sukarela bersatu untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, sosial, dan budaya bersama melalui perusahaan yang dimiliki bersama dan dikendalikan secara demokratis.

Model tersebut dinilai relevan bagi Indonesia karena prinsip koperasi sejalan dengan tradisi gotong royong, musyawarah, kebersamaan, dan kekeluargaan yang juga mendapat landasan melalui Pasal 33 UUD 1945.

Namun, koperasi di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan berupa keterbatasan skala usaha, profesionalisme pengelolaan, sumber daya manusia, permodalan, teknologi, pemasaran, hingga regenerasi anggota.

Uni Eropa menempatkan ekonomi sosial sebagai bagian penting perekonomian dan pasar tenaga kerja dengan sekitar 2,8 juta entitas ekonomi sosial yang diperkirakan mempekerjakan sekitar 13,6 juta pekerja.

Kondisi tersebut memperlihatkan koperasi dan organisasi ekonomi sosial dapat berkembang melampaui kegiatan sosial maupun usaha berskala kecil untuk menjadi bagian dari sistem ekonomi.

Mondragon di wilayah Basque, Spanyol, menjadi salah satu contoh jaringan koperasi pekerja yang berkembang di berbagai bidang usaha dengan menggabungkan prinsip kepemilikan pekerja, profesionalisme, dan kemampuan menghadapi persaingan global.

Kekuatan model Mondragon antara lain terletak pada pembangunan jaringan yang memungkinkan koperasi mengembangkan pusat pembelian, distribusi, pemasaran, pembiayaan, teknologi, pendidikan, dan pelatihan secara bersama.

Prinsip serupa berkembang di Jerman dengan memungkinkan pengusaha kecil tetap menjalankan usaha secara independen sambil memenuhi sebagian kebutuhan bisnis secara kolektif melalui koperasi.

Pengadaan bahan baku, pergudangan, distribusi, teknologi, pembiayaan, pelatihan, mesin, pemasaran, hingga ekspor secara kolektif dapat meningkatkan daya tawar pengusaha kecil.

Pengalaman Denmark dan Belanda turut menunjukkan bahwa koperasi tidak harus terbatas pada sektor yang selama ini identik dengan model tersebut, seperti simpan pinjam, pertanian, konsumsi, maupun perdagangan.

Pembelajaran dari berbagai negara Eropa dapat digunakan Indonesia untuk menerjemahkan nilai kebersamaan menjadi organisasi ekonomi modern tanpa sekadar meniru model yang telah diterapkan negara lain.

Penulis telaah I Wayan Dipta menegaskan pentingnya menempatkan koperasi sebagai model bisnis yang relevan dengan perkembangan ekonomi masa depan dengan menyatakan, "Koperasi harus dipandang bukan sebagai organisasi ekonomi masa lalu, melainkan sebagai salah satu model kepemilikan bisnis masa depan yang dimiliki bersama."

Penguatan jaringan, profesionalisme, teknologi, permodalan, pemasaran, dan regenerasi menjadi bagian penting agar modal sosial koperasi Indonesia dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi kolektif yang lebih besar.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026