HOME  ⁄  Nasional

BPMA Dorong Studi JOGMEC dan JAPEX Berlanjut ke Eksplorasi dan Investasi Migas di Aceh

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

BPMA Dorong Studi JOGMEC dan JAPEX Berlanjut ke Eksplorasi dan Investasi Migas di Aceh
Foto: Kepala BPMA Mawardi Nur saat berbincang dengan perwakilan perusahaan Jepang usai melakukan pertemuan joint study, di Banda Aceh, Jumat 28/6/2026 (sumber: Humas BPMA)

Pantau - Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) mendorong hasil joint study (JS) yang dilakukan Japan Organization for Metals and Energy Security (JOGMEC) dan Japan Petroleum Exploration (JAPEX) berlanjut ke tahap eksplorasi hingga investasi minyak dan gas bumi (migas) di Aceh.

Kepala BPMA Mawardi Nur berharap studi bersama tersebut menjadi langkah awal untuk membangun kemitraan yang lebih kuat dalam pengembangan sektor hulu migas Aceh.

“Kami berharap hasil joint study ini dapat menjadi langkah awal untuk membangun kemitraan yang lebih kuat dan membuka peluang konkret bagi pengembangan eksplorasi serta investasi di Aceh,” kata Mawardi Nur.

Pernyataan itu disampaikan Mawardi setelah melakukan pertemuan dengan perwakilan JOGMEC dan JAPEX di Banda Aceh terkait pelaksanaan Joint Study Wilayah North Sumatra Basin (NSB) yang telah berlangsung sekitar enam bulan.

Pertemuan tersebut sekaligus dimanfaatkan untuk mengeksplorasi peluang tindak lanjut kerja sama para pihak di sektor hulu migas Aceh.

Evaluasi Potensi Migas North Sumatra Basin

Sejumlah hal dibahas dalam pertemuan tersebut, mulai dari perkembangan pelaksanaan studi hingga evaluasi potensi geologi dan sumber daya migas di wilayah North Sumatra Basin.

Para pihak turut membahas hasil kajian serta peluang pengembangan kerja sama menuju tahapan berikutnya.

Joint study NSB merupakan kerja sama yang melibatkan JOGMEC, JAPEX, dan Universitas Padjadjaran (UNPAD).

Studi tersebut mencakup kegiatan survei, analisis, serta evaluasi data geologi dan geofisika pada kawasan darat maupun lepas pantai North Sumatra Basin.

Kajian diarahkan untuk mengevaluasi potensi sumber daya migas yang hingga kini belum ditemukan di kawasan tersebut.

Mawardi menilai joint study memiliki arti penting tidak hanya dari aspek teknis dalam pemetaan dan evaluasi potensi migas, tetapi juga sebagai pintu masuk untuk membangun kemitraan dengan calon investor.

BPMA berharap hasil studi dapat membuka peluang investasi baru di sektor hulu migas Aceh sekaligus memberikan landasan kuat bagi pembahasan tahapan kerja sama berikutnya.

Menurut Mawardi, pengembangan kerja sama perlu didorong secara bertahap dengan dimulai dari kajian dan evaluasi, kemudian berkembang menuju eksplorasi hingga investasi serta pengembangan sumber daya migas.

“Harapan kami sangat jelas, joint study ini tidak berhenti pada sebuah laporan teknis, tetapi dapat menjadi dasar untuk melangkah ke tahap berikutnya, termasuk evaluasi lebih lanjut, eksplorasi dan pada akhirnya investasi di Aceh,” ujar Mawardi.

BPMA Siap Fasilitasi Investor

BPMA menegaskan tidak menginginkan hasil joint study hanya berhenti menjadi laporan teknis tanpa tindak lanjut konkret.

Mawardi mengatakan BPMA berkomitmen mendukung terciptanya iklim investasi sektor hulu migas yang aman, kondusif, transparan, serta memberikan kepastian kepada investor.

BPMA juga menyatakan siap memberikan fasilitasi dan melakukan koordinasi dengan pemangku kepentingan sesuai kewenangannya apabila terdapat tantangan selama pelaksanaan studi maupun tindak lanjut kerja sama.

“Kami terbuka terhadap investor yang memiliki komitmen jangka panjang, kapasitas teknis dan finansial yang kuat. Kami siap mendukung proses ini melalui koordinasi dan fasilitasi sesuai kewenangan BPMA, sehingga berbagai tantangan dapat dibahas secara terbuka dan konstruktif,” tegas Mawardi.

Perusahaan Jepang Bidik Peluang Eksplorasi

Perwakilan JAPEX Naohiro Yoshino mengatakan pelaksanaan joint study di North Sumatra Basin menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk mengevaluasi lebih lanjut potensi eksplorasi migas di kawasan tersebut.

Naohiro menjelaskan North Sumatra Basin memiliki sejarah panjang dalam kegiatan produksi minyak dan gas bumi.

Menurut dia, penemuan lapangan gas berskala besar dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kawasan tersebut masih berpotensi menyimpan sumber daya migas yang belum ditemukan.

“Melalui joint study ini, kami ingin mengevaluasi lebih lanjut potensi eksplorasi di kawasan tersebut,” ujar Naohiro.

Perwakilan JOGMEC Mashashi Muramoto mengatakan kerja sama tersebut merupakan bagian dari upaya memahami lebih jauh potensi sumber daya minyak dan gas bumi di wilayah Sumatera bagian utara melalui kajian kondisi geologi dan geofisika.

“Melalui joint study ini, kami berharap dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai potensi migas di wilayah tersebut sekaligus membangun dasar yang kuat untuk pengembangan kegiatan eksplorasi ke depan,” ujar Mashashi.

Mashashi mengatakan JOGMEC bersama JAPEX dan mitra akademik di Indonesia terus melakukan kajian dan evaluasi agar memperoleh gambaran komprehensif mengenai potensi sumber daya migas di kawasan tersebut.

Hasil kajian itu sekaligus diharapkan membuka peluang pengembangan kegiatan migas lebih lanjut.

“Kerjasama dengan Indonesia sangat penting. Kami berharap hasil joint study ini memberikan manfaat bagi kedua negara, baik dalam mendukung pengembangan sumber daya migas Indonesia maupun memperkuat kerja sama energi antara Indonesia dan Jepang,” demikian Mashashi Muramoto.

JOGMEC dan JAPEX Minati Blok Andaman 1

Sebelumnya, BPMA melaporkan JOGMEC dan JAPEX memiliki minat untuk melakukan eksplorasi migas di Blok Andaman 1 yang berada di wilayah lepas pantai Kabupaten Pidie Jaya dan Bireuen, Aceh.

Kawasan tersebut sebelumnya pernah menjadi lokasi kegiatan pengeboran oleh Repsol.

JOGMEC dan JAPEX juga disebut telah menunjukkan keseriusan untuk berinvestasi di Aceh melalui presentasi mengenai rencana mereka.

Selain melakukan presentasi, kedua perusahaan Jepang tersebut telah mengurus seluruh proses administrasi yang diperlukan di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Penulis :
Arian Mesa
FLOII 2026