
Pantau - Nelayan perempuan di Desa Bajo, Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo, Gorontalo, menghadapi cuaca tidak menentu, gelombang tinggi, dan penurunan hasil tangkapan yang membatasi aktivitas mereka dalam mencari nafkah di laut.
Musna Labaso, nelayan perempuan berusia 40 tahun, telah menggantungkan hidup dari hasil tangkapan di perairan Gorontalo sejak 2003 dan sebelumnya kerap melaut hingga dua hari ke wilayah yang jauh dari permukiman.
Dalam beberapa bulan terakhir, ombak tinggi dan cuaca yang tidak menentu membuat Musna tidak lagi leluasa menuju laut lepas dan lebih banyak beroperasi di perairan dangkal.
Maret 2026 menjadi kali terakhir Musna menjangkau wilayah tangkapan yang jauh sebelum perahu kecil miliknya hancur dihantam ombak besar.
"Kalau cuaca tidak bagus, kami tidak bisa pergi jauh. Sekarang saya juga tidak punya perahu sendiri karena sudah rusak dihantam ombak. Jadi kalau mau melaut, saya harus ikut perahu orang lain," tuturnya.
Hasil Tangkapan Turun hingga Sekitar Empat Kilogram
Musna sebelumnya mampu membawa pulang sekitar 10 kilogram ikan dalam sehari atau mencapai 20 kilogram ketika melaut selama dua hari ke laut lepas.
Kini, hasil tangkapannya rata-rata menyusut menjadi sekitar empat kilogram, sementara ikan seperti goropa, katambak, dan oci semakin sulit diperoleh.
"Dulu kami bisa dapat banyak. Sekarang hasilnya sedikit sekali, ikan semakin susah didapat," keluh Musna.
Penurunan hasil tangkapan turut memengaruhi pendapatan Musna, sedangkan harga ikan di pasar juga tidak selalu memberikan hasil yang memadai.
Musna mengatakan kemarau panjang ikut menggerus daya beli masyarakat sehingga ikan yang dibawa nelayan ke daratan belum tentu terjual dengan harga yang diharapkan.
"Kadang kami susah dapat ikan. Kalaupun dapat, belum tentu harganya bagus," ujar Musna.
Musna mengaku tidak mempunyai pekerjaan lain sehingga aktivitas melaut tetap menjadi sumber utama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Kalau tidak melaut, saya tidak punya pekerjaan lain. Dari laut ini saya mencari kebutuhan sehari-hari," ungkapnya.
Tanpa perahu sendiri, Musna berharap dapat kembali memiliki sarana untuk melaut secara mandiri tanpa harus menumpang kepada nelayan lain.
"Saya berharap bisa punya perahu lagi agar bisa kembali mencari ikan tanpa harus selalu menumpang," ucap Musna.
Nelayan Andalkan Ikan Asin saat Tak Bisa Melaut
Kondisi serupa dialami Rusmi Copa, nelayan perempuan berusia 53 tahun sekaligus ibu tunggal di Desa Bajo yang kini harus menumpang perahu milik kakaknya setelah sampannya hancur.
"Kalau tidak ikut kakak, saya tidak bisa melaut," ujar Rusmi.
Menumpang perahu membuat hasil tangkapan ikan bobara atau oci harus dibagi, sementara biaya bahan bakar yang dibutuhkan mencapai lima hingga 10 liter dalam sekali perjalanan.
Cuaca buruk juga dapat membuat nelayan tidak melaut hingga berbulan-bulan, sedangkan bahan bakar yang sudah dibeli terkadang tidak menghasilkan tangkapan yang sebanding.
"Sudah keluar modal beli bahan bakar, kadang hanya dapat beberapa ekor ikan," keluhnya.
Rusmi menjual hasil tangkapan kepada pengepul ketika jumlahnya banyak dan membawanya ke tempat pelelangan apabila hasil yang diperoleh hanya sedikit.
Saat tidak memperoleh uang dari tangkapan, ikan lolosi berukuran kecil dikeringkan menjadi ikan asin untuk menjaga persediaan pangan keluarga.
"Kalau tidak bisa melaut, kami harus pikirkan mau makan apa. Makanya ikan kecil-kecil itu kami simpan dan keringkan supaya ada makanan," tutur Rusmi.
- Penulis :
- Gerry Eka




