
Pantau - Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja menggelar upacara metatah atau potong gigi massal yang diikuti 351 umat Hindu dari sejumlah wilayah di Bali dan luar Bali di kampus tersebut, Minggu (30/8/2026).
"Sebanyak 351 peserta mengikuti upacara metatah bersama Ke-10 yang diselenggarakan di Kampus Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja," kata Ketua Panitia Pelaksana Metatah Ida Bhawati Dr. Ketut Agus Nova.
Peserta metatah berasal dari Kabupaten Buleleng, Jembrana, Karangasem, dan Tabanan serta sejumlah daerah di luar Bali seperti Kediri, Blitar, dan Nusa Tenggara Timur.
Metatah merupakan upacara potong gigi dalam agama Hindu yang dimaknai sebagai proses pengendalian sifat buruk dalam diri manusia sekaligus penanda kedewasaan secara keagamaan.
Ida Bhawati menjelaskan rangkaian kegiatan dimulai dengan registrasi peserta sebelum dilanjutkan dengan upacara penyekeban atau magekeb sebagai prosesi persiapan dan penyucian diri menjelang upacara utama.
Peserta kemudian menjalani mabiyakala sebagai upacara pembersihan dari pengaruh negatif, durmanggala untuk penyucian dari hal-hal tidak baik, serta prayascita sebagai penyucian lahir dan batin.
"Peserta kemudian mengikuti persembahyangan untuk memohon anugerah kepada Dewaning Tatah, yaitu manifestasi Tuhan yang diyakini memberikan perlindungan dan kelancaran dalam pelaksanaan upacara potong gigi," paparnya.
Rangkaian berikutnya meliputi natab banten menek bajang, ngeraja swala bagi perempuan, ngeraja singa bagi laki-laki, mapetik atau pemotongan rambut secara simbolis, serta merajah atau pemberian simbol suci pada tubuh.
Peserta selanjutnya menjalani prosesi metatah di balai yang telah disiapkan dengan didampingi keluarga masing-masing.
Setelah potong gigi selesai, sulinggih melaksanakan ngarga tirta untuk memohon air suci dan mapedudusan sebagai upacara penyucian sebelum rangkaian berlanjut dengan natab banten petatahan serta pangubaktian.
"Kegiatan ditutup dengan acara seremonial, sembah sungkem atau penghormatan kepada orang tua, serta pembacaan 'Parama Santi', yaitu doa penutup untuk memohon kedamaian dan keselamatan," katanya.
Wakil Rektor III IAHN Mpu Kuturan Singaraja Dr. I Nyoman Miarta Putra mengatakan metatah bersama tersebut merupakan bentuk komitmen kampus mendukung program Kementerian Agama Berdampak yang digagas Kementerian Agama RI dan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu.
"Melalui UKM Upakara yang didukung civitas akademika, IAHN Mpu Kuturan kembali menyelenggarakan Metatah Bersama yang diikuti ratusan masyarakat dari berbagai wilayah di Bali hingga Jawa Timur," katanya.
Menurut Miarta, kegiatan tersebut mendapat dukungan Rektor IAHN Mpu Kuturan beserta jajaran karena menjadi bagian dari pengabdian kepada masyarakat dan pelayanan keagamaan Hindu yang memberikan dampak langsung kepada umat.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh umat yang telah mempercayakan pelaksanaan kegiatan ini kepada IAHN Mpu Kuturan. Semoga kegiatan serupa dapat terus terlaksana dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat pada masa yang akan datang," ujarnya.
- Penulis :
- Aditya Yohan




