
Pantau - Kementerian Koordinator Bidang Pangan mengembangkan program Desa Tematik sebagai strategi memperkuat kemandirian pangan nasional dengan mengoptimalkan komoditas dan sumber daya sesuai karakteristik serta keunggulan setiap wilayah.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan program tersebut diarahkan agar desa tidak hanya menjadi penerima program pemerintah, tetapi mampu menghasilkan pangan secara mandiri berdasarkan potensi yang tersedia.
"Kita mengembangkan tiap desa harus mandiri pangan lewat program desa tematik, apakah itu wisata, ikan, beras dan lain-lain," kata Zulkifli Hasan saat melakukan kunjungan ke Universitas Pattimura (Unpatti) di Ambon, Maluku, Kamis.
Pemerintah secara bertahap menyiapkan puluhan ribu desa untuk menjadi penopang ketahanan pangan mulai dari tingkat pemerintahan terkecil.
Potensi Lokal Jadi Basis Produksi Pangan
Model pengembangan Desa Tematik akan disesuaikan dengan potensi lokal melalui sektor pertanian, perikanan, budi daya ikan, maupun sektor lain yang menjadi keunggulan masing-masing wilayah.
Pemanfaatan potensi tersebut diharapkan tidak hanya menopang kebutuhan pangan, tetapi juga meningkatkan perekonomian masyarakat desa.
Zulkifli Hasan menilai swasembada pangan penting untuk menjaga keberlangsungan usaha petani dan pelaku usaha pangan dalam negeri.
Menurutnya, ketergantungan terhadap impor pangan berpotensi merugikan petani karena dapat memengaruhi keuntungan usaha mereka.
"Kalau kita impor, petani kita jadi korban, karena mereka akan tertimpa rugi. Usahanya tidak untung. Oleh karena itu, swasembada pangan penting untuk melindungi petani kita," ujar Zulkifli Hasan.
Dalam pengembangan Desa Tematik Perikanan dan Budi Daya Ikan Tematik, pemerintah turut mendorong pemanfaatan teknologi yang dapat diterapkan sesuai kondisi masing-masing wilayah.
Salah satu teknologi yang didorong ialah Mini Recirculating Aquaculture System atau Mini RAS, yakni sistem budi daya ikan dengan sirkulasi air yang dapat membantu menghemat penggunaan air dan lahan.
Komoditas seperti lele dan nila menjadi beberapa pilihan yang dapat dikembangkan melalui sistem tersebut untuk turut memenuhi kebutuhan protein masyarakat.
Hasil produksi Desa Tematik juga direncanakan terhubung dengan berbagai program pemenuhan gizi pemerintah, termasuk menjadi pasokan pangan bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Pemerintah Gandeng Perguruan Tinggi Perkuat Ekosistem Pangan
Zulkifli Hasan mengatakan keberhasilan program Desa Tematik membutuhkan kolaborasi lintas sektor, termasuk keterlibatan perguruan tinggi yang memiliki kapasitas penelitian, teknologi, dan sumber daya manusia.
Dalam konteks wilayah kepulauan seperti Maluku, kolaborasi dengan Universitas Pattimura dinilai penting untuk mendukung pengembangan sektor pangan dan perikanan.
Kerja sama tersebut dapat diarahkan untuk memperkuat pengembangan kampung nelayan dan kegiatan budi daya perikanan.
Kolaborasi lintas sektor juga diperlukan untuk memperkuat rantai pasok pangan dan protein, terutama di kawasan Indonesia timur serta daerah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T.
"Kampus harus menjadi tempat untuk berdiskusi dan mengkritisi kebijakan. Kita belajar cepat, karena persoalan bangsa membutuhkan solusi yang cepat," kata Zulkifli Hasan.
Pengembangan Desa Tematik tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan produksi pangan, tetapi juga membangun ekosistem pangan yang terintegrasi dari sektor hulu hingga hilir.
Melalui ekosistem tersebut, hasil produksi masyarakat diharapkan mempunyai pasar yang jelas sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat desa.
Pendekatan Desa Tematik diharapkan menjadikan desa sebagai basis produksi pangan terintegrasi sekaligus meningkatkan ketersediaan pangan nasional dan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pasokan dari luar negeri.
Pemerintah selanjutnya akan mendorong pengembangan Desa Tematik secara bertahap di puluhan ribu desa dengan implementasi yang disesuaikan dengan karakteristik wilayah, potensi sumber daya, dan kebutuhan pangan masing-masing daerah.
- Penulis :
- Arian Mesa




