
Pantau - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman memperkuat mitigasi bencana secara struktural dan nonstruktural menyusul aktivitas Gunung Merapi yang masih dinamis pada Level III atau Siaga dengan puluhan hingga ratusan guguran material setiap hari.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman Bambang Kuntoro mengatakan aktivitas vulkanik Merapi dapat mencapai 120 guguran per hari dan disertai luncuran awan panas secara berkala sehingga seluruh pemangku kepentingan dituntut menjaga kesiapsiagaan.
“Merapi saat ini dalam kondisi Siaga Darurat. Aktivitasnya masih dinamis dengan puluhan hingga ratusan guguran setiap hari. Oleh karena itu langkah mitigasi kebencanaan terus kami optimalkan sebelum potensi risiko berkembang ke tingkat Tanggap Darurat jika terjadi kenaikan status,” kata Bambang di Sleman, Jumat (4/9/2026).
Status Gunung Merapi pada Level III atau Siaga telah bertahan sejak 5 November 2020.
Jalur Evakuasi dan 37 Sistem Peringatan Dini Disiapkan
BPBD Sleman memfokuskan mitigasi struktural pada perbaikan infrastruktur evakuasi dan sistem peringatan dini di kawasan rawan bencana.
Upaya tersebut meliputi pelebaran dan perbaikan jalur evakuasi, pembenahan tebing rawan longsor di sepanjang jalur pengungsian, serta pemantauan kondisi dam sabo yang kerap dilalui kendaraan berat.
Sebanyak 37 sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) telah terpasang di Kabupaten Sleman dengan 34 unit berada di sepanjang lereng Merapi dan tiga unit di wilayah Prambanan untuk memantau luapan air.
“Kami mengecek, memperbaiki, dan merawat EWS digital, baik berupa sirene suara maupun kamera pengawas (CCTV) di wilayah lereng Merapi hingga di barak-barak pengungsian. Kesiapan barak serta pasokan logistik pangan dan non-pangan, termasuk stok masker anti-debu, juga telah disiagakan,” katanya.
Warga di Kawasan Rawan Bencana Diberi Edukasi
Mitigasi nonstruktural dilakukan melalui kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) kepada masyarakat di Kawasan Rawan Bencana (KRB) yang mencakup Kapanewon Turi, Cangkringan, dan Pakem.
BPBD juga menjalankan program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) untuk sekolah di lereng Merapi, meningkatkan kapasitas relawan, serta membagikan tas siaga bencana untuk mengamankan dokumen penting warga ketika evakuasi.
“Terkait kewaspadaan jangka pendek, BPBD Sleman meningkatkan pengawasan visual terhadap potensi kebakaran vegetasi di lereng atas akibat hempasan material panas Merapi,” katanya.
BPBD Sleman juga melakukan koordinasi berkala dengan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), serta forum koordinasi lingkar Merapi yang mencakup Kabupaten Sleman, Boyolali, Magelang, dan Klaten.
- Penulis :
- Aditya Yohan




