
Pantau - Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi menduga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi berkaitan dengan aktivitas manusia, terutama pembukaan lahan untuk perkebunan, dengan luas areal terbakar hingga 3 September 2026 telah mencapai lebih dari 10 ribu hektare.
Manager Komunikasi KKI Warsi Rudi Syaf mengatakan penggunaan api untuk membuka lahan memiliki risiko tinggi ketika kondisi wilayah sedang mengalami kemarau.
"Pembukaan lahan dengan api mungkin dianggap murah dan cepat, tetapi dalam kondisi kemarau seperti sekarang, risikonya sangat besar," kata Rudi.
Menurut Rudi, kondisi lahan yang sangat kering membuat api dalam proses pembukaan lahan berpotensi sulit dikendalikan dan merembet ke kawasan sekitarnya.
Pengeringan gambut juga menyebabkan kandungan air dalam tanah menurun sehingga material organik menjadi lebih mudah terbakar.
Api pada lahan gambut dapat menjalar di bawah permukaan dan sulit terlihat sehingga proses penanganannya membutuhkan upaya lebih besar dibandingkan kebakaran di permukaan tanah mineral.
Karhutla Meluas di Sembilan Kabupaten dan Kota
Hasil analisis citra satelit Sentinel-2 oleh tim sistem informasi geografis (GIS) KKI Warsi hingga 3 September 2026 menunjukkan luas areal terbakar di Jambi telah mencapai lebih dari 10 ribu hektare.
Luas kebakaran tersebut meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan hasil pemantauan pada pekan sebelumnya.
Karhutla terpantau terjadi pada lahan gambut maupun tanah mineral yang tersebar di sembilan kabupaten dan kota di Provinsi Jambi.
Kebakaran terluas terpantau di Kabupaten Sarolangun dengan luas 2.984 hektare, disusul Tebo 2.464 hektare, dan Batang Hari 2.338 hektare.
Hasil analisis yang ditumpangsusunkan dengan peta perizinan lahan di Provinsi Jambi menunjukkan kebakaran melibatkan 23 perkebunan kelapa sawit dan 11 perizinan berusaha pemanfaatan hutan (PBPH).
Berdasarkan fungsi kawasan, kebakaran terbesar terjadi di hutan produksi seluas 4.534 hektare, kemudian hutan produksi terbatas 2.960 hektare, serta areal penggunaan lain seluas 2.144 hektare.
Sebanyak 1.344 Hektare Gambut Terbakar
KKI Warsi mencatat karhutla juga telah membakar kawasan gambut seluas 1.344 hektare.
Dari jumlah tersebut, sekitar 87 hektare berada di kawasan gambut dengan kedalaman lebih dari tiga meter.
Rudi mengatakan risiko karhutla masih tinggi apabila mengacu pada prediksi BMKG bahwa puncak musim kemarau di Jambi berlangsung hingga September dan kondisi kering berpotensi berlanjut.
"Kondisi lahan yang semakin kering membuat vegetasi lebih mudah terbakar dan api berpotensi cepat meluas, terutama di wilayah yang memiliki riwayat kebakaran serta lahan gambut yang rentan terbakar," ungkapnya.
- Penulis :
- Aditya Yohan




