
Pantau - Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Manggarai Barat bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) memperkuat pendampingan psikologis dan spiritual bagi warga terdampak gempa Flores di Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk membantu pemulihan mental sekaligus menjaga ketahanan umat menghadapi gempa susulan.
Kepala Kantor Kemenag Manggarai Barat Fransiskus Xaverius Adi mengatakan masyarakat masih membutuhkan dukungan setelah gempa karena kecemasan akibat gempa susulan membayangi aktivitas sehari-hari dan kegiatan ibadah.
“Masyarakat sangat membutuhkan dukungan doa dan kehadiran fisik kita untuk memulihkan mental mereka. Kemenag Mabar bergerak cepat mendorong integrasi data ini ke dalam program Bantuan Sarana dan Prasarana Rumah Ibadah Kemenag agar segera mendapat atensi rehabilitasi dari pemerintah pusat,” kata Fransiskus dalam keterangannya di Kupang, Sabtu (5/9/2026).
Rumah Ibadah Terdampak Gempa
Berdasarkan data yang dikoordinasikan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), sejumlah rumah ibadah di Manggarai Barat mengalami kerusakan akibat gempa.
Sebanyak 64 Gereja Katolik terdampak dengan rincian 22 mengalami rusak ringan dan 42 rusak berat.
Sebanyak 44 masjid dan musala juga terdampak dengan lima lokasi mengalami rusak ringan dan 38 lokasi rusak berat, sementara lima Gereja Kristen dan satu pura turut mengalami kerusakan fisik.
Kemenag Manggarai Barat mengerahkan Penyuluh Agama Lintas Agama ke lokasi pengungsian untuk memberikan pendampingan psikospiritual atau Spiritual First Aid kepada masyarakat.
Pendampingan tersebut ditujukan untuk membantu masyarakat tetap tenang dan tangguh dalam menghadapi kondisi pascabencana.
Tokoh Lintas Agama Turun Bantu Korban
Asosiasi FKUB Republik Indonesia bersama Kemenag Manggarai Barat juga mengintegrasikan Program Penguatan Moderasi Beragama dengan aksi kemanusiaan bagi masyarakat terdampak gempa.
Ketua Umum Asosiasi FKUB RI Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet menyatakan penanganan pascabencana menjadi momentum bagi tokoh lintas agama untuk menunjukkan komitmen kemanusiaan dan kebangsaan.
“Kita semua bersaudara dalam rumah besar NKRI. Pertemuan ini didasari cinta kasih dan toleransi murni. Inilah esensi sejati dari Moderasi Beragama yang digaungkan oleh Kementerian Agama,” ujar Ida Pangelingsir.
Asosiasi FKUB RI turut menyalurkan bantuan tali kasih senilai Rp5 juta dan menggelar doa bersama lintas agama di Pendopo Katedral Labuan Bajo untuk mendukung pemulihan psikologis warga.
Ida Pangelingsir juga mendorong pemerintah pusat, badan usaha milik negara (BUMN), serta pengusaha mengalokasikan dana tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) untuk membantu rekonstruksi hunian warga yang rusak.
Ketua FKUB Kabupaten Manggarai Barat RD Rikardus Manggu mengatakan komunitas Katolik dan Muslim di wilayah pesisir utara, termasuk Paroki Stasi Wae Garloka, bergotong royong bertahan di tenda darurat melalui jaringan Caritas Indonesia.
“Kehadiran fisik antarsaudara di tengah krisis kebangsaan seperti ini jauh lebih berharga untuk menyelamatkan mental para korban daripada sekadar rutinitas kerja dinas,” ujar Rikardus.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




