HOME  ⁄  Nasional

Erupsi Gunung Anak Krakatau Kembali ke Fase Strombolian, Status Siaga Tetap Berlaku

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Erupsi Gunung Anak Krakatau Kembali ke Fase Strombolian, Status Siaga Tetap Berlaku
Foto: Kepala Badan Geologi Lana Saria saat memberikan keterangan di Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa 8/9/2026 (sumber: ANTARA/Rubby Jovan)

Pantau - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melaporkan erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda telah kembali memasuki fase Strombolian dengan aktivitas vulkanik yang cenderung menurun, tetapi status gunung masih dipertahankan pada Level III atau Siaga.

Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan karakter erupsi Gunung Anak Krakatau saat ini telah kembali seperti kondisi normal gunung tersebut dengan durasi dan amplitudo letusan yang relatif pendek.

"Sekarang sudah kembali kepada fase sesuai karakter Gunung Anak Krakatau, yaitu fase Strombolian. Erupsi terjadi dengan amplitudo yang tidak terlalu luas, tidak terlalu panjang, dan durasi letusannya hanya beberapa detik," kata Lana.

Delapan Letusan Kecil Terekam pada 8 September

Berdasarkan pemantauan seismik dari pos pengamatan gunung api, penurunan getaran seismik Gunung Anak Krakatau tercatat secara konsisten sejak 5 September.

Kondisi tersebut menunjukkan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau mulai mengalami penurunan dibandingkan sebelumnya.

Berdasarkan pengamatan terbaru hingga 8 September, Badan Geologi mencatat delapan kali letusan kecil dengan durasi masing-masing sekitar 10 hingga 15 detik.

"Pada pengamatan mutakhir per 8 September, terekam delapan kali letusan kecil dengan durasi berkisar antara 10 hingga 15 detik. Sebaran material letusan dan abu vulkanik terpantau hanya terkonsentrasi di sekitar lereng dan tubuh kawah," ungkap Lana.

Material hasil letusan dan abu vulkanik saat ini terpantau hanya terkonsentrasi di sekitar lereng dan tubuh kawah Gunung Anak Krakatau.

Badan Geologi memastikan kondisi Gunung Anak Krakatau saat ini berbeda dengan erupsi pada Desember 2018 yang memicu tsunami setelah sebagian tubuh gunung runtuh ke laut.

Berdasarkan analisis data deformasi terkini, Badan Geologi tidak mendeteksi pergeseran dinding kawah yang berpotensi menyebabkan longsoran lereng menuju perairan.

"Sementara saat ini, analisis data deformasi menunjukkan tidak adanya pergeseran dinding kawah yang berpotensi memicu longsoran lereng ke perairan," kata Lana.

Bandara Kembali Beroperasi, Nelayan Bisa Melaut

Berkurangnya sebaran kolom abu vulkanik membuat kondisi atmosfer mulai membaik dan memberikan dampak positif terhadap operasional penerbangan komersial.

Sejumlah bandara yang sebelumnya terdampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau telah kembali beroperasi setelah aspek keselamatan penerbangan dinyatakan terpenuhi.

Kondisi yang membaik juga memungkinkan aktivitas nelayan di kawasan pesisir Selat Sunda kembali berjalan normal.

Meski telah dapat kembali melaut, nelayan tetap diimbau mengenakan pelindung mata dan masker untuk mengantisipasi kemungkinan paparan abu vulkanik tipis.

"Sementara bagi nelayan di pesisir Selat Sunda, aktivitas melaut telah dapat kembali berjalan normal dengan imbauan tetap mengenakan pelindung mata dan masker untuk mengantisipasi paparan abu tipis," ungkap Lana.

Status Anak Krakatau Tetap Siaga

Walaupun aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau mulai melandai, Badan Geologi belum menurunkan tingkat aktivitas gunung tersebut.

Status Gunung Anak Krakatau masih dipertahankan pada Level III atau Siaga dengan radius aman sejauh tiga kilometer.

"Meskipun aktivitas vulkanik mulai melandai sejak 5 September, status tetap Siaga (Level III) dengan radius aman tiga kilometer," tegas Lana.

Dengan demikian, meski karakter erupsi telah kembali ke fase Strombolian dan aktivitas vulkanik menunjukkan kecenderungan menurun, kewaspadaan tetap diberlakukan dengan mempertahankan status Siaga serta radius aman tiga kilometer.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026