
Pantau - Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Ketenagakerjaan Kabupaten Agam, Sumatera Barat mencatat delapan dari 11 titik program padat karya bencana Kementerian Ketenagakerjaan telah selesai dilaksanakan.
Program tersebut ditujukan untuk memberdayakan masyarakat sekaligus membuka lapangan kerja sementara bagi warga yang terdampak bencana hidrometeorologi.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Ketenagakerjaan Agam Budi Perwira Negara mengatakan tiga titik lainnya masih dalam proses pengerjaan.
"Sudah delapan titik program padat karya sudah selesai dan tiga titik lagi dalam proses pengerjaan," kata Budi Perwira Negara di Lubuk Basung, Rabu.
Delapan Titik Padat Karya Tersebar di Tiga Nagari
Delapan titik program padat karya yang telah rampung tersebar di tiga nagari di Kabupaten Agam.
Sebanyak dua titik berada di Nagari Koto Kaciak, empat titik di Nagari Bayua, dan dua titik lainnya di Nagari Tigo Koto Silungkang.
Sementara itu, tiga titik yang masih dikerjakan terdiri atas satu titik di Nagari Bayua dan dua titik di Nagari Tigo Koto Silungkang.
Pekerjaan di satu titik Nagari Bayua yang belum selesai berupa pemasangan pipa air dengan waktu pengerjaan tersisa tiga hari.
"Satu titik di Nagari Bayua belum selesai pemasangan pipa air dan waktu pekerjaan masih bersisa tiga hari lagi. Diperkirakan tiga hari ke depan sudah selesai," kata Budi.
Program padat karya dari Kementerian Ketenagakerjaan tersebut secara khusus diperuntukkan bagi wilayah yang terdampak bencana hidrometeorologi.
Jenis pekerjaan pada setiap titik disesuaikan dengan usulan yang disampaikan masing-masing nagari berdasarkan kebutuhan masyarakat.
Kegiatan yang dilaksanakan antara lain pembangunan rebat beton, saluran irigasi, dam parit, serta berbagai infrastruktur lainnya.
Setiap Titik Mendapat Anggaran Rp100 Juta
Setiap titik kegiatan padat karya mendapatkan anggaran sebesar Rp100 juta yang ditransfer langsung ke rekening kelompok pelaksana.
Dari anggaran tersebut, sebanyak 60 persen dialokasikan untuk membeli bahan bangunan, sedangkan 40 persen digunakan untuk membiayai tenaga kerja.
Tukang mendapatkan ransum sebesar Rp120 ribu per orang setiap hari, sementara pekerja memperoleh Rp95 ribu per orang setiap hari.
Pekerjaan berlangsung selama 12 hari dengan waktu kerja mulai pukul 08.00 hingga 13.00 WIB setiap harinya.
Skema tersebut membuat pembangunan infrastruktur berjalan sekaligus memberikan penghasilan sementara bagi masyarakat yang terdampak bencana.
"Program ini untuk membuka lapangan kerja sementara bagi warga terdampak dan pembangunan sangat dirasakan masyarakat," katanya.
- Penulis :
- Arian Mesa




