HOME  ⁄  Nasional

Saan Mustopa Tinjau Kekeringan Sukamaju, Bak Penampungan Air Segera Dibangun

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Saan Mustopa Tinjau Kekeringan Sukamaju, Bak Penampungan Air Segera Dibangun
Foto: Wakil Ketua DPR RI Saan Mustopa saat memberikan bantuan air bersih dan meninjau lokasi sumber mata air di Desa Sukamaju, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Kamis 10/9/2026 (sumber: DPR RI)

Pantau - Wakil Ketua DPR RI Saan Mustopa mengunjungi Desa Sukamaju, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Kamis (10/9/2026), untuk melihat langsung persoalan kekeringan dan mendorong pembangunan sistem penyediaan air bersih yang lebih permanen bagi masyarakat.

Kunjungan tersebut dilakukan setelah kekeringan dan sulitnya akses air bersih menjadi persoalan rutin yang dialami warga Desa Sukamaju setiap musim kemarau.

Sedikitnya 120 kepala keluarga atau 381 jiwa di Kampung Kurnia dan Kampung Sawah 2, Dusun 4, terdampak langsung kesulitan mendapatkan air bersih.

Warga Sukamaju Kesulitan Air Bersih Setiap Musim Kemarau

Sejak pagi, halaman Kantor Desa Sukamaju mulai ramai dengan persiapan menyambut kedatangan Saan Mustopa.

Petugas kepolisian bersama Hansip mengatur lalu lintas di depan kantor desa, sementara para pemuda membantu memastikan persiapan kegiatan berjalan dengan baik.

Spanduk ucapan selamat datang kepada Wakil Ketua DPR RI Saan Mustopa juga dipasang di pintu masuk aula Kantor Desa Sukamaju.

Kepala Desa Sukamaju Jenal Abidin turut sibuk mempersiapkan kedatangan rombongan dan menyebut kunjungan tersebut sebagai momentum istimewa karena untuk pertama kalinya selama dirinya menjabat, seorang pimpinan DPR RI datang langsung melihat persoalan masyarakat Sukamaju.

"Saya seperti sedang merayakan ulang tahun, antara senang sekaligus terharu karena desa kami akan dikunjungi oleh pimpinan DPR RI, Pak Saan Mustopa untuk memberikan bantuan air bersih kepada masyarakat Desa Sukamaju," ungkap Jenal.

Menurut Jenal, Saan tidak sekadar berkunjung, tetapi ingin menyaksikan langsung persoalan kekeringan yang berulang kali dialami masyarakat setiap musim kemarau.

Kesulitan mendapatkan air bersih telah menjadi persoalan rutin karena sumber mata air berada cukup jauh dari permukiman, sementara jumlah mata air yang tersedia terbatas dan tidak sebanding dengan kebutuhan masyarakat.

"Kekeringan disertai kesulitan akses air bersih di desa kami adalah masalah rutin yang selalu muncul di saat musim kemarau melanda. Penyebabnya lantaran jauhnya lokasi sumber air dan terbatasnya mata air dari perkampungan penduduk," kata Jenal.

Rombongan Saan tiba di Kantor Desa Sukamaju ketika matahari mulai berada di atas kepala dan disambut kepala desa, camat, Wakapolres, Danramil, BPBD, serta sejumlah pemangku kepentingan di Kabupaten Sukabumi.

Politisi Partai NasDem tersebut meminta kunjungannya tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial dan meminta para pemangku kepentingan menjelaskan kondisi sebenarnya mengenai kekeringan di Desa Sukamaju.

Saan meminta penjelasan mengenai jumlah warga terdampak, titik kekeringan, jarak sumber air, langkah yang telah dilakukan pemerintah, hingga berbagai kekurangan yang masih dihadapi.

Camat Cikakak Purnama Giri menjelaskan persoalan air di Sukamaju tidak terlepas dari kondisi geografis wilayah yang berbukit dengan struktur tanah didominasi batuan.

Desa Sukamaju memiliki 7.485 penduduk yang tergabung dalam 2.280 kepala keluarga, dengan dampak kekeringan paling terasa di Dusun 4, khususnya Kampung Kurnia dan Kampung Sawah 2.

Kampung Kurnia dihuni 66 kepala keluarga atau sekitar 205 jiwa, sedangkan Kampung Sawah 2 dihuni 54 kepala keluarga atau sekitar 176 jiwa.

Kesulitan air tersebut berdampak terhadap kehidupan sehari-hari warga, mulai dari ibu rumah tangga, anak-anak yang harus membawa jeriken, hingga warga lanjut usia yang membutuhkan air untuk keperluan harian.

BPBD Hanya Punya Dua Truk Tangki untuk Layani 47 Kecamatan

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sukabumi Eki Radiana Rizki menjelaskan kekeringan tidak hanya melanda Desa Sukamaju, tetapi telah terjadi di 22 dari total 47 kecamatan di Kabupaten Sukabumi.

Sebanyak 45 desa juga telah meminta bantuan BPBD Kabupaten Sukabumi untuk memperoleh distribusi air bersih.

Di tengah luasnya wilayah yang harus ditangani, BPBD Kabupaten Sukabumi hanya memiliki dua unit truk tangki air dengan kapasitas masing-masing sekitar 5.000 liter.

"Dari 47 kecamatan di Kabupaten Sukabumi, ada 22 kecamatan yang dilanda kekeringan dan sebanyak 45 desa yang meminta bantuan kepada kami untuk pendistribusian air bersih. Dengan luas wilayah seperti ini, BPBD Kabupaten Sukabumi hanya memiliki dua unit truk tangki dan harus melayani 47 kecamatan," ungkap Eki.

Keterbatasan armada membuat BPBD harus berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk PDAM dan BUMD, untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.

Setelah mendengarkan penjelasan tersebut, Saan menilai distribusi menggunakan truk tangki hanya dapat menjadi solusi sementara.

Menurut Saan, masyarakat membutuhkan sistem penyediaan air yang permanen dan berkelanjutan agar persoalan serupa tidak terus berulang setiap musim kemarau.

Saan kemudian meminta pemerintah desa, pemerintah daerah, BPBD, dan pemangku kepentingan lainnya bergerak bersama membangun sistem penyediaan air dengan memanfaatkan sumber mata air yang tersedia.

"Secepatnya kita akan bangun bak kontrol penampungan sumber mata air agar persoalan yang dihadapi masyarakat terkait dengan akses untuk mendapatkan air bersih itu bisa cepat kita tangani," kata Saan.

Saan mendorong pembangunan fasilitas tersebut dilakukan secepat mungkin agar manfaatnya segera dirasakan masyarakat.

"Kalau bisa kita bangun dalam seminggu bisa selesai, itu akan jauh lebih baik," ungkap Saan.

Saan Ikut Bagikan Air hingga Datangi Mata Air Cirendeu

Setelah pertemuan di Kantor Desa Sukamaju, Saan bersama perangkat desa, BPBD Kabupaten Sukabumi, dan sejumlah pemangku kepentingan mendatangi kawasan permukiman yang mengalami kesulitan air bersih.

Sebuah truk tangki berkapasitas sekitar 5.000 liter disiapkan untuk mendistribusikan air kepada warga.

Lansia, ibu-ibu, dan anak-anak mendatangi lokasi dengan membawa jeriken serta ember untuk mendapatkan air yang digunakan untuk memasak, mandi, dan minum.

Saat pembagian berlangsung, Saan meminta warga lanjut usia mendapatkan giliran terlebih dahulu.

"Ayo nenek-nenek silakan maju lebih dulu ya, bawa sini dirigen dan embernya," kata Saan.

Saan kemudian turut memegang selang dan membantu mengisi wadah air yang dibawa masyarakat.

Usai pembagian air bersih, Saan dan rombongan melanjutkan perjalanan menuju sumber mata air Cirendeu yang berada cukup jauh dari kawasan permukiman.

Rombongan harus meninggalkan kendaraan dan berjalan kaki melalui kawasan perkebunan dengan medan menanjak dan menurun serta tingkat kemiringan cukup curam.

Kondisi perjalanan tersebut memperlihatkan jauhnya sumber air yang selama ini digunakan masyarakat dari kawasan permukiman.

Sumber mata air Cirendeu yang belum dikelola secara optimal kemudian diproyeksikan menjadi titik awal pembangunan sistem penyediaan air yang lebih permanen.

Saan berencana menata sumber mata air tersebut dan membangun bak penampungan dengan kapasitas memadai sebelum air didistribusikan kepada masyarakat Desa Sukamaju.

"Sumber air ini akan kita tata, dikelola dengan baik, dan nanti kita akan membuat semacam bak penampungan dari sumber air itu. Bakpenampungan yang nanti ya sangat memadai lah ya, jadi nggak asal-asalan. Bak penampungan ini yang akan distribusi ke masyarakat di wilayah Desa Sukamaju," ungkap Saan.

Saan menekankan bak penampungan tidak boleh dibangun secara asal-asalan dan harus memiliki kapasitas yang memadai untuk mendukung kebutuhan masyarakat.

"Mudah-mudahan sumber airnya sudah ketemu dan kita akan mulai, ini nanti Kepala Desa, Pak Camat, Pak Kadis ini semua hadir, juga ada Pak Kapolsek. Nanti mereka rundingkan dan kita ingin secepatnya bak penampungan ini akan kita bangun," kata Saan.

Kepala desa, camat, kepala dinas, kepolisian, dan pemangku kepentingan lainnya diharapkan segera berkoordinasi untuk merealisasikan pembangunan tersebut.

Pembangunan bak penampungan diharapkan menjadi solusi berkelanjutan bagi sedikitnya 120 kepala keluarga atau 381 jiwa di Kampung Kurnia dan Kampung Sawah 2 yang selama ini kesulitan mendapatkan air bersih.

Upaya tersebut diarahkan untuk mengubah penanganan kekeringan di Sukamaju dari distribusi air menggunakan truk tangki menjadi pengelolaan sumber mata air secara permanen dan berkelanjutan.

Saan Mustopa merupakan legislator dari Daerah Pemilihan Jawa Barat VII yang meliputi Kabupaten Karawang, Kabupaten Purwakarta, dan Kabupaten Bekasi.

Penulis :
Arian Mesa
FLOII 2026