HOME  ⁄  Nasional

Kemenag Sebut Keberagaman Jadi Modal Kuat Indonesia Bangun Perdamaian Antarbangsa

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Kemenag Sebut Keberagaman Jadi Modal Kuat Indonesia Bangun Perdamaian Antarbangsa
Foto: (Sumber :Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Kamaruddin Amin. ANTARA/HO-Kemenag.)

Pantau - Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Kamaruddin Amin menyebut Indonesia memiliki modal sosial yang kuat untuk membangun perdamaian di tengah keberagaman suku, ras, budaya, dan agama.

Pernyataan itu disampaikan Kamaruddin dalam Seminar Nasional dan Peluncuran Indonesia Friends of Silk Road Club (IFSRC) di Jakarta, Rabu (16/9/2026).

Seminar tersebut mengangkat tema “Memahami Global Civilization Initiative (GCI) dari Perspektif Hubungan Indonesia–Tiongkok”.

“Perspektif Kementerian Agama melihat bahwa kerukunan tidak cukup dimaknai sebagai sekadar tidak adanya konflik atau kekerasan, tetapi harus diwujudkan sebagai harmoni aktif melalui tindakan nyata yang mencerminkan cinta kemanusiaan lintas bangsa, budaya, dan agama,” ujar Kamaruddin Amin.

Keberagaman Jadi Modal Bangun Saling Pengertian

Menurut Kamaruddin, pengalaman Indonesia dalam mengelola keberagaman dapat menjadi modal untuk membangun saling pengertian antarbangsa, budaya, dan agama.

Ia mengatakan kerukunan tidak berhenti pada kondisi tanpa konflik, tetapi perlu diwujudkan melalui tindakan nyata yang dapat memperkuat hubungan kemanusiaan lintas batas.

Kamaruddin menilai gagasan tersebut relevan dengan Global Civilization Initiative (GCI) yang diperkenalkan Presiden China Xi Jinping dengan penekanan pada dialog, penghormatan terhadap keberagaman, pelestarian warisan budaya, serta hubungan antarmasyarakat dalam kerja sama antarperadaban.

Menurut Kamaruddin, kebudayaan memiliki peran penting dalam membangun penghormatan terhadap perbedaan sehingga potensi Indonesia dan China dapat dimanfaatkan untuk memperkuat hubungan antarmasyarakat.

“Dari sisi kebudayaan, bagaimana kebudayaan menghargai perbedaan, menghargai diversity. Itu sesuatu yang dikapitalisasi oleh kedua negara, Indonesia dan China,” ujarnya.

Kamaruddin mengatakan China merupakan salah satu peradaban besar dunia dengan pengalaman panjang dalam membangun kebudayaan.

Menurut dia, inisiatif yang mempertemukan masyarakat Indonesia dan China dapat membuka ruang kerja sama yang lebih luas.

Diplomasi Antarmasyarakat Dinilai Semakin Penting

Wakil Ketua DPR RI Sari Yuliati yang menjadi salah satu pembicara kunci mengatakan tantangan hubungan internasional pada abad ke-21 tidak cukup dihadapi melalui pendekatan ekonomi dan diplomasi formal.

Menurut Sari, stabilitas jangka panjang membutuhkan kepercayaan, penghormatan, dan saling pengertian antarmasyarakat.

“Diplomasi pada abad ke-21 tidak dapat lagi hanya mengandalkan Government-to-Government (G2G), tetapi juga harus berakar kuat pada People-to-People (P2P) exchanges,” kata dia.

Dalam seminar tersebut disebutkan sekitar 20.000 mahasiswa Indonesia tengah menempuh pendidikan di berbagai universitas di China.

Bersama peneliti, jurnalis, dan komunitas bisnis dari kedua negara, para mahasiswa tersebut dinilai memiliki posisi strategis sebagai grassroots diplomat atau duta budaya informal dalam memperkuat hubungan Indonesia-China.

IFSRC diharapkan menjadi ruang kolaborasi lintas sektor yang mempertemukan akademisi, peneliti, media, tokoh agama dan budaya, organisasi kepemudaan, institusi pendidikan, serta dunia usaha.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026