
Pantau - Akademisi sekaligus anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Daryono, menegaskan aktivitas puluhan gempa swarm di Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, tidak dapat diartikan sebagai pertanda pasti akan terjadinya gempa bumi berkekuatan besar.
"Swarm tidak selalu berarti gempa akan terus membesar. Sebagian rangkaian swarm dapat mereda secara bertahap," katanya di Bandung, Kamis (17/9/2026).
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), puluhan gempa terjadi di kawasan Pangalengan dan sekitarnya sejak Rabu (16/9/2026), dengan beberapa di antaranya dirasakan masyarakat.
Aktivitas gempa masih berlangsung hingga Kamis pagi, termasuk gempa magnitudo 2,6 pada pukul 04.59 WIB yang berlokasi di darat sekitar 23 kilometer sebelah selatan Kabupaten Bandung dengan kedalaman tiga kilometer.
Gempa Swarm Tak Memiliki Satu Gempa Utama
Daryono menjelaskan earthquake swarm merupakan rangkaian gempa yang terjadi berulang dalam suatu kawasan dan periode tertentu tanpa satu gempa utama atau mainshock yang secara jelas mendominasi rangkaian tersebut.
Menurut dia, kemunculan swarm menunjukkan adanya aktivitas deformasi dan pelepasan tegangan di kerak bumi.
Fenomena tersebut dapat berkaitan dengan pergeseran sesar maupun aktivitas vulkanik atau hidrotermal.
"Pola swarm harus dibaca berdasarkan data seismologi secara terus-menerus, bukan berdasarkan jumlah gempa semata," ujarnya.
Daryono mengatakan Pangalengan berada di wilayah Jawa Barat bagian selatan yang memiliki kondisi deformasi kerak bumi kompleks dan berdekatan dengan sistem Sesar Garsela atau Garut Selatan.
Sesar Garsela merupakan salah satu struktur sesar aktif yang memiliki aktivitas seismik di Jawa Barat.
Gempa dengan sumber relatif dangkal juga dapat menghasilkan guncangan yang terasa cukup kuat meskipun magnitudonya kecil, sementara kondisi geologi setempat dapat memengaruhi tingkat guncangan yang dirasakan masyarakat.
Masyarakat Diminta Tetap Waspada dan Ikuti BMKG
Daryono mengimbau masyarakat tetap meningkatkan kesiapsiagaan dengan memastikan kondisi bangunan, mengamankan perabot yang mudah jatuh, serta memahami prosedur drop, cover, and hold on ketika terjadi guncangan.
"Karena itu, masyarakat tidak perlu mengaitkan setiap peningkatan aktivitas gempa swarm dengan kemungkinan terjadinya gempa besar. Yang terpenting adalah tetap waspada dan mengikuti informasi resmi," katanya.
Daryono juga mengingatkan kesiapsiagaan perlu mencakup potensi bahaya sekunder, termasuk longsor.
Masyarakat di sekitar Pangalengan diminta terus mengikuti informasi resmi dan perkembangan aktivitas gempa yang disampaikan BMKG.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




