
Pantau - Kementerian Transmigrasi (Kementrans) menyatakan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) memperkuat akses telekomunikasi dan air bersih di Kawasan Transmigrasi Lereh, Kabupaten Jayapura, Papua, berdasarkan kebutuhan masyarakat yang ditemukan langsung di lapangan.
Berdasarkan keterangan resmi Kementrans yang diterima di Jakarta, Jumat, Tim Telekomunikasi TEP Institut Teknologi Bandung (ITB) telah memetakan sejumlah titik yang mengalami kendala jaringan telekomunikasi.
Tim tersebut juga menguji pemasangan penguat sinyal lokal di Puskesmas Pembantu SP4 sebagai salah satu solusi terhadap keterbatasan jaringan.
“Solusi yang kami usulkan adalah membangun penguat atau perluasan jaringan lokal yang bersumber dari sinyal Telkomsel di kawasan yang sulit sinyal. Pada bulan kedua, kami mengujicobanya di Puskesmas Pembantu SP4,” kata anggota Tim Telekomunikasi TEP ITB Aldo Gusti Rahman.
Jaringan dan Air Bersih Diperkuat di Lereh
Keterbatasan jaringan telekomunikasi menjadi salah satu kendala masyarakat di Kawasan Transmigrasi Lereh karena wilayah tersebut memiliki kondisi topografi pegunungan.
Kondisi itu antara lain berdampak pada pelayanan kesehatan serta pengembangan kegiatan usaha masyarakat.
Akses telekomunikasi juga dibutuhkan untuk menunjang pelayanan kesehatan dan operasional situs Lereh Pharma yang dikembangkan guna memperluas pemasaran produk masyarakat.
Selain memperkuat konektivitas telekomunikasi, TEP melanjutkan pembangunan jaringan perpipaan untuk mendekatkan aliran air bersih ke permukiman masyarakat.
Menurut Kementrans, persoalan akses terhadap air bersih di kawasan tersebut telah berlangsung selama puluhan tahun.
Pengembangan jaringan perpipaan ditujukan untuk mempermudah masyarakat memperoleh air bersih guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara mengatakan pendekatan TEP dilakukan dengan mengidentifikasi berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat sekaligus menghadirkan solusi dengan manfaat yang dapat diukur.
“Kita mulai dari langkah-langkah kecil, tetapi hasilnya harus terukur dan benar-benar dirasakan masyarakat,” ujar Iftitah.
Mama-Mama OAP Didorong Tingkatkan Nilai Produk Lokal
Pendekatan serupa diterapkan dalam pengembangan ekonomi masyarakat di Manokwari, Papua Barat, melalui pengolahan berbagai komoditas lokal menjadi produk bernilai tambah.
Mama-mama Orang Asli Papua (OAP) mendapatkan pendampingan untuk mengolah buah matoa menjadi dodol.
Komoditas cabai dan tomat juga dikembangkan menjadi produk lembaran pangan atau food leather untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus memperpanjang daya simpan.
Iftitah mengatakan mama-mama OAP yang mengikuti program pendampingan memberikan testimoni bahwa pendapatan mereka meningkat dari sekitar Rp700 ribu menjadi Rp2,4 juta per bulan.
“Ibu-ibu OAP memberikan testimoni, sebelum ada pelatihan dari TEP, penghasilannya sekitar Rp700.000 per bulan dari ladang berpindah. Setelah dilatih membuat dodol yang dipasarkan ke supermarket, penghasilannya naik drastis menjadi Rp2.400.000,” kata Iftitah.
Sebelumnya, TEP Universitas Airlangga (Unair) memberikan pendampingan kepada 18 mama Suku Arfak di Distrik Warmare, Kabupaten Manokwari, untuk mengolah buah matoa menjadi sejumlah produk turunan bernilai tambah.
TEP Unair sebelumnya memproyeksikan pendapatan peserta yang rata-rata sekitar Rp700 ribu per bulan dapat meningkat hingga Rp2,4 juta per bulan melalui kegiatan pengolahan matoa.
Tim juga membantu penerbitan 18 Nomor Induk Berusaha (NIB) untuk mendukung kegiatan usaha para peserta.
Satu jaringan ritel modern di Manokwari juga disebut telah siap menerima produk olahan yang dihasilkan melalui program tersebut.
Hampir 100 Anak Tak Sekolah, TBM Diaktifkan Kembali
Di Kawasan Transmigrasi Lereh, TEP turut mengembangkan akses pendidikan setelah menemukan hampir 100 anak di Kampung Omon Jaya tidak bersekolah karena keterbatasan sarana dan transportasi.
Sebagai solusi, tim mengaktifkan kembali Taman Bacaan Masyarakat (TBM) untuk dijadikan pusat pembelajaran bagi anak-anak.
TBM tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi anak yang masih bersekolah, tetapi juga menjadi tempat pembelajaran bagi anak-anak yang telah putus sekolah.
“Solusi yang kami tawarkan adalah mengaktifkan kembali Taman Bacaan Masyarakat berbasis inklusi sosial sebagai learning center, tidak hanya untuk anak sekolah, tetapi juga anak putus sekolah,” kata anggota TEP klaster pendidikan Universitas Bengkulu Fendri Febrianti.
Fendri mengatakan struktur kepengurusan TBM telah dibentuk kembali menggunakan pendekatan pengembangan berbasis kemandirian.
Pendekatan tersebut ditujukan agar masyarakat dapat melanjutkan pengelolaan TBM secara mandiri setelah masa tugas TEP berakhir.
Limbah Kotoran Sapi Diolah Menjadi Biogas
Di Manokwari Selatan, TEP juga mengembangkan pemanfaatan limbah kotoran sapi menjadi biogas.
Biogas yang dihasilkan dapat dimanfaatkan masyarakat untuk memasak serta mendukung kebutuhan listrik.
Residu dari pengolahan biogas selanjutnya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik.
Menurut Kementrans, pemanfaatan limbah kotoran sapi ditujukan untuk membantu masyarakat mengurangi pengeluaran rumah tangga sekaligus menjaga kebersihan lingkungan.
Kementrans menegaskan TEP tidak hanya bertugas memetakan potensi dan kendala di kawasan transmigrasi, tetapi juga menguji dan menjalankan berbagai solusi bersama masyarakat agar manfaat program dapat dilanjutkan secara mandiri.
AHY Sebut Paradigma Transmigrasi Berubah
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengatakan keterlibatan mahasiswa melalui TEP menunjukkan ilmu pengetahuan dapat diterapkan menjadi solusi bagi berbagai persoalan masyarakat.
“Kalian tidak hanya turun membawa penguasaan ilmu, tetapi juga membawa energi positif dan solusi yang membumi. Siapa pun yang tergerak karena nilai patriotisme pasti berani keluar dari zona nyaman dan melakukan hal melebihi panggilan tugasnya,” ujar AHY.
Menurut AHY, pelaksanaan TEP juga menjadi bagian dari perubahan paradigma program transmigrasi di Indonesia.
Transmigrasi yang sebelumnya identik dengan program perpindahan penduduk diarahkan menjadi program pembangunan kawasan yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal maupun transmigran.
“Paradigma transmigrasi kini kita ubah, dari sekadar memindahkan masyarakat menjadi memastikan mereka hidup sejahtera dengan ekonomi berskala industri,” ungkap AHY.
Berbagai temuan, aspirasi masyarakat, serta solusi yang dikembangkan TEP selanjutnya dirangkum menjadi bahan strategis bagi Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.
Hasil kegiatan di lapangan tersebut juga dibawa dalam Rapat Koordinasi Pembangunan Infrastruktur bersama gubernur, bupati, dan wali kota se-Tanah Papua.
Hasil tersebut diharapkan mendukung percepatan pembangunan di Papua agar program pemerintah semakin tepat sasaran.
- Penulis :
- Shila Glorya




