
Pantau - Pemerintah Kabupaten Gianyar, Bali, membekali guru bimbingan dan konseling (BK) serta orang tua siswa tingkat SMP dengan pemahaman mengenai pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap anak, khususnya di lingkungan sekolah.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Gianyar Ni Ketut Widiastuti mengatakan kekerasan terhadap anak menjadi persoalan yang perlu diantisipasi sejak dini dengan melibatkan berbagai pihak.
“Kekerasan itu seperti gunung es. Yang terlihat mungkin hanya sebagian, sementara masih ada kasus yang tidak terlihat atau tidak dilaporkan,” kata Widiastuti di sela kegiatan peningkatan kapasitas guru BK di Gianyar, Bali, Rabu (23/9/2026).
Pelatihan tersebut diberikan kepada guru BK dan orang tua untuk meningkatkan kapasitas serta pemahaman mengenai pentingnya pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap anak.
Gianyar Catat 23 Kasus Kekerasan Anak
DP3AP2KB Kabupaten Gianyar mencatat sebanyak 30 kasus sepanjang 2025 dengan 23 kasus di antaranya merupakan kekerasan terhadap anak.
Data tersebut menjadi salah satu perhatian pemerintah daerah dalam memperkuat upaya pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap anak.
“Kami tidak mungkin berharap kasus menjadi nol, tetapi bagaimana kami bisa mencegah dan menekan kasus sekecil mungkin,” ujarnya.
Widiastuti mengatakan pemahaman mengenai pola asuh dan langkah preventif menjadi bagian penting dalam menekan kasus kekerasan.
“Pencegahan bisa kami minimalkan melalui pemahaman, pola asuh yang baik dan langkah-langkah preventif. Orang tua dan guru juga menjadi penghubung penting dalam memberikan informasi apabila menemukan atau mengetahui adanya indikasi kekerasan terhadap anak,” kata Widiastuti.
Guru dan Orang Tua Didorong Deteksi Kekerasan Sejak Dini
Pemkab Gianyar menghadirkan I Ketut Edi Susila dari Kepolisian Daerah Bali dan psikolog Himpunan Psikologi Indonesia Daerah Bali Nena Mawar Sari sebagai pembicara dalam kegiatan tersebut.
Widiastuti menegaskan pencegahan kekerasan terhadap anak bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan orang tua, guru, lingkungan sekolah, dan masyarakat.
“Harapan kami, kegiatan ini dapat membantu kami dalam pencegahan kekerasan terhadap anak. Dengan adanya pemahaman yang sama antara orang tua dan guru, kita bisa lebih cepat melakukan pencegahan maupun penanganan ketika menemukan permasalahan,” ujar dia.
- Penulis :
- Aditya Yohan




