HOME  ⁄  Nasional

TNI AU Kirim Penerbang Rafale ke Prancis untuk Perdalam Persenjataan dan Taktik Tempur

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

TNI AU Kirim Penerbang Rafale ke Prancis untuk Perdalam Persenjataan dan Taktik Tempur
Foto: Pilot Rafale TNI Angkatan Udara yang juga Kepala Seksi Operasi dan Latihan Wing Udara 3 Tempur Lanud Roesmin Nurjadin, Letkol Pnb Oliv Rizando, berpose bersama Rafale di sela-sela latihan bersama dengan personel Angkatan Udara Prancis dalam misi Pegase 2026 di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Selasa 22/9/2026 (sumber: ANTARA/Kuntum Khaira Riswan)

Pantau - TNI Angkatan Udara (TNI AU) mengirim sejumlah penerbang pesawat tempur Rafale ke Prancis untuk memperdalam kemampuan penggunaan persenjataan dan taktik pertempuran udara.

Pengiriman tersebut dilakukan agar para penerbang meningkatkan kemampuan menggunakan sistem senjata Rafale melalui pelatihan persenjataan atau weapon course.

Selain penggunaan persenjataan, para penerbang akan meningkatkan kemampuan dalam menerapkan taktik pertempuran udara serta keterampilan lain yang berkaitan dengan pengoperasian Rafale.

Tedi mengatakan pelatihan lanjutan diperlukan agar penerbang tempur TNI AU dapat mengoperasikan Rafale secara maksimal, terutama saat pesawat digunakan dalam misi pertempuran.

“Kita mengirim beberapa orang ke Prancis untuk meng-upgrade kemampuan penggunaan senjata atau weapon course, meng-upgrade taktik pertempuran udara dan sebagainya, kita masih perlu belajar,” ungkap Tedi.

Tedi tidak menjelaskan secara lebih terperinci materi taktik pertempuran udara yang dipelajari para penerbang di Prancis.

Ia juga tidak menyebutkan jumlah pasti pilot Rafale TNI AU yang dikirim ke Prancis untuk mengikuti pelatihan tersebut.

Pelatihan Dasar Rafale Digelar di Indonesia

Sementara itu, TNI AU sudah dapat melaksanakan pelatihan dasar menerbangkan Rafale di Indonesia.

Pelatihan dasar tersebut dapat dilakukan di Lanud Roesmin Nurjadin, Riau.

Di Lanud Roesmin Nurjadin, para penerbang baru menjalani latihan menggunakan simulator penerbangan pesawat tempur Rafale dengan bimbingan pelatih khusus.

Keberadaan fasilitas latihan mandiri tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemandirian TNI AU dalam mendidik dan menghasilkan penerbang-penerbang baru Rafale.

Sebelumnya, TNI AU memastikan proses pelatihan bagi calon penerbang pesawat tempur Rafale masih berlangsung.

Proses penyiapan sumber daya manusia untuk mengoperasikan Rafale akan terus dilakukan hingga seluruh pesawat yang direncanakan tiba.

“Pelatihan penyiapan sumber daya manusia sedang berjalan dan terus berjalan hingga seluruh pesawat datang,” ungkap Komandan Skadron 12 Letkol Pnb Binggi “Rayden” Nobel.

TNI AU Miliki Delapan Penerbang Rafale

Menurut Binggi, TNI AU telah memiliki delapan pilot pesawat tempur Rafale pada tahun ini.

Delapan pilot tersebut dipilih setelah mengikuti proses pelatihan dan seleksi ketat yang dilakukan TNI AU.

Sebelum mengikuti latihan khusus Rafale, calon penerbang dipilih berdasarkan pengalaman sebagai pilot pesawat tempur dengan jam terbang tinggi sebagai salah satu pertimbangan.

Setelah seluruh persyaratan terpenuhi, penerbang yang terpilih baru diperbolehkan mengikuti latihan sebagai calon pilot Rafale.

Selama pelatihan, para calon pilot Rafale mempelajari berbagai materi yang mencakup aspek teknis hingga praktik pengoperasian pesawat.

Para calon pilot tersebut juga sempat mengikuti pelatihan di Prancis sebagai negara tempat pesawat tempur Rafale diproduksi.

Binggi mengatakan Skadron 12 TNI AU juga direncanakan menerima kedatangan empat pilot Rafale.

Dari delapan penerbang Rafale yang telah dimiliki TNI AU, empat di antaranya sedang menjalani program konversi atau latihan.

“Saat ini kita sudah ada memiliki delapan penerbang, yang di mana delapan ini, empat di antaranya sedang melaksanakan program konversi (latihan),” ungkap Binggi.

Binggi berharap kesiapan personel, alat utama sistem senjata (alutsista), dan infrastruktur pendukung Rafale dapat menunjang kegiatan operasional TNI AU secara maksimal.

Menurut Binggi, kesiapan tidak hanya diperlukan dari sisi penerbang, tetapi juga teknisi dan berbagai elemen pendukung lainnya yang terlibat dalam pengoperasian Rafale.

“Kesiapan pilot, teknisi dan dan elemen pendukung lainnya sangat krusial dalam pengawakan dan pengoperasionalan Skadron Pesawat MRCA Rafale,” ungkap Binggi.

Penulis :
Shila Glorya
FLOII 2026