HOME  ⁄  Nasional

Polres Metro Jakarta Barat Siagakan 894 Personel untuk Dampingi 64.768 Pelajar di 175 Sekolah

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Polres Metro Jakarta Barat Siagakan 894 Personel untuk Dampingi 64.768 Pelajar di 175 Sekolah
Foto: Kegiatan Forum Kemitraan Polri dan Masyarakat Sekolah (FKPMS) Polres Metro Jakarta Barat bersama Pemerintah Kota Jakarta Barat, Rabu 23/9/2026 (sumber: Polres Jakbar)

Pantau - Polres Metro Jakarta Barat menyiagakan 894 personel untuk mendampingi 64.768 pelajar yang tersebar di 175 sekolah di wilayah Jakarta Barat sebagai upaya pembinaan dan pencegahan berbagai bentuk kenakalan remaja.

Pendampingan tersebut mencakup 2.039 kelas dengan sekolah sasaran dibagi menjadi tiga kategori, yakni zona merah, zona kuning, dan zona hijau.

Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Pol Nasriadi mengatakan penyiagaan personel difokuskan pada pembinaan agar pelajar dapat terhindar dari berbagai bentuk kenakalan remaja.

"Zona merah mencakup 19 sekolah dengan 324 kelas, zona kuning 27 sekolah dengan 372 kelas, sedangkan zona hijau meliputi 129 sekolah dengan 1.343 kelas," papar Nasriadi saat dikonfirmasi di Jakarta, Kamis.

Polisi Bangun Komunikasi dengan Sekolah dan Orang Tua

Perwira pengendali dan personel pendamping di sekolah zona merah dan zona kuning diarahkan membangun komunikasi langsung dengan kepala sekolah, wali kelas, dan siswa.

Selain memantau kondisi sekolah dan pelajar, personel kepolisian diminta menjalin komunikasi dengan orang tua siswa.

"Selain melakukan pemantauan, personel juga diminta menjalin komunikasi dengan orang tua siswa dan mendorong terbentuknya grup komunikasi yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan positif dan menjaga keamanan pelajar," kata Nasriadi.

Untuk sekolah kategori zona hijau, personel kepolisian diarahkan melakukan patroli dan pendekatan secara berkala di lingkungan sekolah.

Patroli dan pendekatan tersebut menjadi bagian dari langkah pencegahan terhadap berbagai permasalahan yang berpotensi melibatkan pelajar.

Nasriadi menilai pencegahan perlu dilakukan sejak dini melalui kegiatan positif, pembinaan, dan pengawasan secara bersama-sama.

"Kepada para kepala sekolah dan seluruh pendamping, mari kita bersama-sama menjaga anak-anak kita. Isi waktu mereka dengan kegiatan positif, kegiatan ekstrakurikuler dan ruang kreativitas agar energi mereka tersalurkan dengan baik," tutur Nasriadi.

FKPMS Diperkuat untuk Deteksi Dini Persoalan Pelajar

Nasriadi juga menekankan pentingnya Forum Kemitraan Polri dan Masyarakat Sekolah (FKPMS) sebagai wadah komunikasi dan koordinasi antara kepolisian, sekolah, orang tua, serta masyarakat.

Forum tersebut berfungsi melakukan deteksi dini sekaligus membantu penyelesaian berbagai persoalan yang berkaitan dengan pelajar.

"Program ini diperkuat melalui Polisi Jaga Sekolah, yang mencakup kegiatan orang tua asuh, program dari Kapolda Metro Jaya Komjen Pol Asep Edi Suheri dan beberapa program lain," ujar Nasriadi.

Saat ini, FKPMS telah dibentuk di 45 sekolah di wilayah Jakarta Barat dan pembentukannya akan terus dikembangkan ke sekolah lainnya.

"Yang kita jaga bukan hanya keamanan sekolah, tetapi juga masa depan anak-anak kita. Karena itu, pendekatan yang dilakukan harus mengedepankan komunikasi, kepedulian, pembinaan dan sinergi bersama," ungkap Nasriadi.

Psikolog Soroti Kekerasan dan Perundungan di Sekolah

Dalam kegiatan tersebut, Psikolog Klinis Forensik Dra. A Kasandra Putranto turut memberikan materi mengenai berbagai bentuk kekerasan di lingkungan pendidikan.

Materi itu mencakup kekerasan fisik, verbal, psikososial, seksual, hingga cyberbullying atau perundungan di dunia maya.

Kasandra menjelaskan pentingnya mengenali berbagai faktor risiko yang dapat memicu perilaku kekerasan pada anak serta memberikan pendampingan secara empatik kepada siswa yang menjadi korban maupun membutuhkan dukungan.

"Dukungan kepada anak itu perlu dilakukan dengan mendengarkan secara empatik, mengenali perasaan mereka tanpa menghakimi, memastikan keselamatan, memberikan dukungan emosional dan membantu mengakses layanan psikososial apabila diperlukan," imbuh Kasandra.

Kasandra menambahkan pemeriksaan psikologis penting dilakukan untuk mengenali kondisi kesehatan mental anak sekaligus mendeteksi potensi persoalan psikologis.

"Lalu, mendeteksi potensi persoalan psikologis serta membantu anak menjalankan aktivitas pendidikan dan mengembangkan dirinya secara sehat," pungkas Kasandra.

Penulis :
Arian Mesa
FLOII 2026