HOME  ⁄  Nasional

China Kecam Serangan Mematikan di Bandara Arab Saudi, Belasan Orang Tewas dan Ratusan Terluka

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

China Kecam Serangan Mematikan di Bandara Arab Saudi, Belasan Orang Tewas dan Ratusan Terluka
Foto: (Sumber :Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning (ANTARA/Desca Lidya Natalia).)

Pantau - Pemerintah China mengecam serangkaian serangan terhadap bandara di Arab Saudi yang menewaskan sedikitnya 14 orang dan melukai 320 lainnya pada 10–11 Oktober 2026.

China menyatakan keprihatinan mendalam atas meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah dan menegaskan penolakannya terhadap serangan yang menyasar warga sipil maupun infrastruktur publik.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning menyampaikan kecaman tersebut dalam konferensi pers di Beijing, Senin (12/10/2026).

"China mengutuk serangan-serangan yang telah menimbulkan banyak korban jiwa dan luka-luka tersebut, serta menyatakan keprihatinan mendalam atas eskalasi konflik. Kami menentang serangan terhadap warga sipil maupun infrastruktur sipil," kata Mao Ning.

Serangan tersebut diduga dilakukan kelompok Houthi asal Yaman yang tengah terlibat konflik dengan koalisi pimpinan Arab Saudi.

Serangan Bandara Arab Saudi Tewaskan Belasan Orang

Berdasarkan laporan yang diterima, serangan pertama terjadi pada Sabtu (10/10/2026) dengan sasaran Bandara Internasional Riyadh di Arab Saudi.

Serangan yang diduga dilakukan kelompok Houthi tersebut mengakibatkan sedikitnya 13 orang meninggal dunia dan 309 lainnya mengalami luka-luka.

Sehari kemudian, Minggu (11/10/2026), serangan kembali terjadi di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh.

Insiden kedua tersebut menyebabkan seorang warga negara Pakistan meninggal dunia dan 11 orang lainnya terluka.

Koalisi militer pimpinan Arab Saudi menuding kelompok Houthi di Yaman sebagai pihak yang bertanggung jawab atas rangkaian serangan tersebut.

Pihak koalisi juga menyatakan akan memberikan tanggapan tegas terhadap serangan yang menimbulkan korban dari kalangan masyarakat sipil.

China Desak Semua Pihak Menahan Diri dan Utamakan Dialog

Menanggapi serangan tersebut, pemerintah China meminta seluruh pihak yang terlibat konflik untuk menghindari tindakan yang berpotensi memperburuk situasi keamanan di kawasan.

"Kami mendesak para pihak terkait untuk menahan diri dari tindakan yang dapat semakin meningkatkan ketegangan kawasan," kata Mao Ning.

China menegaskan bahwa perbedaan dan perselisihan antarpihak seharusnya diselesaikan melalui jalur diplomasi, dialog, dan negosiasi.

Pemerintah Beijing juga mendorong langkah bersama untuk memulihkan perdamaian dan menjaga stabilitas kawasan Timur Tengah.

Seruan tersebut disampaikan menyusul meningkatnya ketegangan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang beroperasi di Yaman.

Koalisi Arab Saudi Sebut Serangan Bandara sebagai Kejahatan Perang

Juru Bicara Pasukan Koalisi Mayor Jenderal Turki Al Malki mengecam keras serangan yang menyasar terminal penumpang Bandara Internasional King Khalid.

Menurutnya, serangan tersebut menyebabkan korban jiwa dan luka-luka dari kalangan penumpang sipil serta petugas bandara.

"Serangan teroris pengecut oleh milisi Houthi di terminal penumpang Bandara Internasional King Khalid pada Sabtu, 10 Oktober 2026, menewaskan dan melukai sejumlah penumpang sipil serta staf bandara. Berdasarkan Hukum Humaniter Internasional, tindakan ini sepenuhnya merupakan kejahatan perang," tegas Al Malki.

Koalisi pimpinan Arab Saudi juga melaporkan telah mencegat dan menghancurkan sebuah rudal balistik yang diduga diluncurkan kelompok Houthi menuju Khamis Mushait di wilayah barat daya Arab Saudi.

Pencegatan tersebut dilakukan di tengah meningkatnya ancaman keamanan akibat konflik yang melibatkan kelompok Houthi dan koalisi militer pimpinan Arab Saudi.

Konflik Houthi dan Arab Saudi Kembali Memanas

Ketegangan di Yaman dilaporkan meningkat sejak pertengahan Juli 2026 setelah pasukan pro-pemerintah menyerang Bandara Sanaa.

Serangan tersebut terjadi ketika sebuah pesawat dari Iran yang membawa delegasi pemimpin Houthi sedang melakukan pendaratan.

Kelompok Houthi kemudian menuding Arab Saudi bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Houthi juga menyatakan perang terhadap kerajaan Arab Saudi hingga blokade terhadap wilayah-wilayah yang berada di bawah kendali kelompok tersebut dicabut.

Rangkaian peristiwa itu memperburuk hubungan antara kelompok Houthi dan Arab Saudi serta meningkatkan kekhawatiran terhadap keselamatan warga sipil di kawasan.

China kembali menyerukan penyelesaian konflik melalui dialog dan negosiasi untuk mencegah jatuhnya lebih banyak korban serta mengembalikan stabilitas kawasan.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026