HOME  ⁄  Nasional

Indonesia Desak Dunia Lindungi Pendidikan Palestina, 745 Ribu Pelajar Gaza Kehilangan Akses Sekolah

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Indonesia Desak Dunia Lindungi Pendidikan Palestina, 745 Ribu Pelajar Gaza Kehilangan Akses Sekolah
Foto: Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO IGAK Satrya Wibawa panda Sidang ke-225 Dewan Eksekutif UNESCO di Paris, Prancis, Senin 19/10/2026 (sumber: Delegasi Tetap RI untuk UNESCO)

Pantau - Indonesia menyerukan penguatan kerja sama internasional untuk menjamin keberlanjutan pendidikan bagi anak-anak dan mahasiswa Palestina yang terdampak konflik, menyusul laporan UNESCO bahwa sekitar 745.000 pelajar di Jalur Gaza kehilangan akses pendidikan selama lebih dari dua tahun akademik sejak Oktober 2023.

Komitmen tersebut disampaikan dalam Sidang ke-225 Dewan Eksekutif Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) di Paris, Prancis.

Pada hari keenam persidangan, Wakil Delegasi Tetap Republik Indonesia untuk UNESCO, IGAK Satrya Wibawa, menegaskan pentingnya dukungan internasional untuk mempertahankan layanan pendidikan bagi pengungsi Palestina.

Indonesia secara khusus mendorong keberlanjutan program pendidikan yang dijalankan Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) di tengah konflik yang mengakibatkan kerusakan fasilitas pendidikan dan terganggunya kegiatan pembelajaran.

"Bagi Indonesia, pendidikan bukan sekadar kebutuhan selama masa konflik, melainkan fondasi bagi pemulihan, pembangunan, dan masa depan Palestina. Anak-anak Palestina tidak boleh kehilangan kesempatan belajar akibat konflik yang berkepanjangan," kata Satrya dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa.

UNESCO Catat 745 Ribu Pelajar Gaza Kehilangan Akses Pendidikan

Indonesia menyampaikan keprihatinan terhadap memburuknya kondisi pendidikan di Palestina akibat konflik berkepanjangan yang menyebabkan kerusakan sekolah, perguruan tinggi, serta berbagai fasilitas pendukung pembelajaran.

Berdasarkan data UNESCO, sekitar 745.000 pelajar di Jalur Gaza telah kehilangan akses terhadap pendidikan sekolah selama lebih dari dua tahun akademik sejak konflik berlangsung pada Oktober 2023.

Dari jumlah tersebut, sekitar 88.000 orang merupakan mahasiswa pendidikan tinggi yang turut mengalami gangguan kegiatan perkuliahan akibat kerusakan infrastruktur pendidikan.

Krisis pendidikan juga meluas ke wilayah Tepi Barat yang menghadapi persoalan keamanan, pengungsian penduduk, dan penutupan fasilitas pendidikan.

Pada Maret 2026, UNRWA memperingatkan bahwa sekitar 48.000 pelajar pengungsi Palestina di Tepi Barat menghadapi risiko terganggunya pendidikan akibat kondisi keamanan yang tidak stabil.

Situasi tersebut mendorong Indonesia meminta komunitas internasional meningkatkan dukungan terhadap keberlangsungan kegiatan belajar bagi anak-anak dan generasi muda Palestina.

Indonesia juga menyampaikan apresiasi terhadap UNESCO yang terus mendukung program pendidikan UNRWA untuk mempertahankan akses pembelajaran bagi pengungsi Palestina.

Indonesia Desak Pendanaan UNRWA Diperkuat

Indonesia menekankan pentingnya pendanaan yang memadai dan berkelanjutan bagi UNRWA agar lembaga tersebut tetap mampu menyelenggarakan pendidikan serta memberikan perlindungan kepada anak-anak pengungsi Palestina.

Menurut Satrya, keberadaan UNRWA memiliki peran penting dalam memastikan layanan pendidikan tetap tersedia meskipun masyarakat Palestina menghadapi berbagai keterbatasan akibat konflik.

"UNRWA memiliki peran yang tidak tergantikan dalam menjamin akses pendidikan bagi pengungsi Palestina. Karena itu, solidaritas internasional harus diwujudkan melalui dukungan pendanaan dan kerja sama nyata yang berkelanjutan," katanya.

Indonesia juga mengingatkan pentingnya pengelolaan bantuan internasional secara transparan dan akuntabel untuk memastikan dana yang tersedia digunakan sesuai kebutuhan pendidikan masyarakat Palestina.

Dukungan pendanaan tersebut dinilai diperlukan untuk mempertahankan operasional sekolah, meningkatkan layanan pembelajaran, dan mendukung perlindungan peserta didik di wilayah terdampak konflik.

Indonesia Siapkan Beasiswa Rp22 Miliar untuk 200 Mahasiswa Palestina

Selain menyerukan dukungan internasional, Indonesia menjalankan sejumlah program pendidikan untuk membantu generasi muda Palestina melanjutkan pendidikan tinggi.

Pada 9 September 2026, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi meluncurkan program beasiswa magister bagi 200 mahasiswa Palestina.

Program tersebut didukung anggaran sebesar Rp22 miliar untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa Palestina melanjutkan pendidikan jenjang magister di berbagai perguruan tinggi Indonesia.

Beasiswa tersebut menjadi bagian dari dukungan Indonesia terhadap pengembangan sumber daya manusia Palestina yang diharapkan dapat berkontribusi dalam pembangunan negaranya.

Indonesia juga memperkuat kerja sama pendidikan melalui dialog Indonesia–Palestina pada April 2026 yang turut melibatkan Australia.

Dialog tersebut membahas reformasi pendidikan, peningkatan kapasitas kelembagaan, serta pengembangan sistem pendidikan inklusif untuk mendukung pemulihan sektor pendidikan Palestina.

Bantuan Kemanusiaan Indonesia untuk Palestina Capai Rp405 Miliar

Selain pendidikan, Indonesia terus menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi masyarakat Palestina yang terdampak konflik, khususnya penduduk di Jalur Gaza.

Berdasarkan laporan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kairo, hingga Februari 2026 bantuan kemanusiaan yang tercatat disalurkan melalui Mesir mencapai sekitar 22,55 juta dolar Amerika Serikat atau setara Rp405 miliar.

Bantuan tersebut memiliki berat keseluruhan sekitar 2.580 ton yang ditujukan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan masyarakat Palestina.

Pada April 2026, Indonesia kembali menyalurkan bantuan tambahan melalui konvoi yang terdiri atas 24 truk dengan membawa sekitar 500 ton bantuan kemanusiaan.

Bantuan tambahan senilai sekitar Rp20 miliar tersebut ditujukan untuk membantu memenuhi kebutuhan sekitar 150.000 warga di Jalur Gaza.

Penyaluran bantuan kemanusiaan tersebut menjadi bagian dari dukungan Indonesia terhadap masyarakat Palestina di tengah keterbatasan akses kebutuhan dasar akibat konflik.

Sebanyak 40 Ribu Mahasiswa Palestina Terbantu Program UNESCO

Dalam bidang pendidikan, Indonesia mendukung berbagai langkah UNESCO untuk mempertahankan kegiatan pembelajaran di tengah situasi darurat.

Program yang didukung mencakup perluasan akses pendidikan darurat, pelatihan guru, penyediaan layanan psikososial, serta pengembangan pendidikan inklusif bagi peserta didik terdampak konflik.

Indonesia juga mendukung penguatan akses pendidikan tinggi dan pendidikan vokasi untuk meningkatkan keterampilan generasi muda Palestina.

Berdasarkan laporan UNESCO tertanggal 15 Oktober 2026, sekitar 40.000 mahasiswa Palestina telah memperoleh manfaat dari program Jaringan Gaza Virtual Campus dan fasilitas ruang pembelajaran sementara.

Program tersebut memungkinkan mahasiswa tetap mengikuti kegiatan pendidikan melalui pemanfaatan teknologi dan fasilitas alternatif meskipun banyak kampus mengalami kerusakan.

Namun, Indonesia menilai penyediaan pembelajaran alternatif harus diikuti dengan pemulihan fisik sekolah dan perguruan tinggi agar kegiatan pendidikan dapat kembali berlangsung secara normal.

Indonesia Minta Pemulihan Pendidikan Hormati Kewenangan Palestina

Indonesia menegaskan bahwa setiap program pemulihan pendidikan dan pengembangan kurikulum harus menghormati kepemilikan nasional Palestina serta kewenangan Otoritas Palestina.

Prinsip tersebut diperlukan agar pembangunan kembali sistem pendidikan dilaksanakan berdasarkan kebutuhan dan prioritas masyarakat Palestina.

Indonesia juga mendorong penguatan kerja sama antara UNESCO dan UNRWA dengan menempatkan kepentingan masyarakat Palestina sebagai prioritas utama.

Kerja sama tersebut diharapkan dapat mempertahankan kegiatan pendidikan selama konflik sekaligus mendukung pemulihan sistem pendidikan dalam jangka panjang.

Satrya menegaskan bahwa keberlanjutan pendidikan menjadi bagian penting dalam menjaga masa depan generasi muda Palestina.

"Mempertahankan pendidikan Palestina berarti menjaga harapan sebuah generasi sekaligus memperkuat kemampuan bangsa Palestina membangun masa depannya sendiri. Indonesia akan terus mendukung upaya internasional agar hak atas pendidikan tidak menjadi korban konflik," katanya.

Melalui dukungan terhadap UNESCO dan UNRWA, penyediaan beasiswa, kerja sama pendidikan, serta penyaluran bantuan kemanusiaan, Indonesia berkomitmen membantu memastikan hak pendidikan anak-anak dan mahasiswa Palestina tetap terlindungi di tengah konflik berkepanjangan.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026