HOME  ⁄  Nasional

BPOM Dorong Inovasi Obat untuk Atasi 7.000 Penyakit Langka, Sebanyak 95 Persen Belum Memiliki Terapi

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

BPOM Dorong Inovasi Obat untuk Atasi 7.000 Penyakit Langka, Sebanyak 95 Persen Belum Memiliki Terapi
Foto: (Sumber :Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar dalam keynote speech pada The 7th International Seminar on Pharmaceutical Sciences and Technology (ISPST) 2026, Rabu (21/10/2026). ANTARA/HO - BPOM.)

Pantau - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mendorong pengembangan inovasi kesehatan untuk mengatasi tantangan penyakit langka yang memengaruhi sekitar 300 juta orang di seluruh dunia, dengan sekitar 95 persen dari lebih dari 7.000 penyakit langka yang teridentifikasi belum memiliki terapi yang disetujui.

Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan bahwa kondisi tersebut membutuhkan penguatan riset farmasi, pengembangan teknologi kesehatan, serta sistem regulasi yang mampu mengikuti perkembangan terapi inovatif.

"Dari lebih 7.000 penyakit langka yang telah teridentifikasi, sekitar 95 persen belum memiliki terapi yang disetujui. Kondisi ini menunjukkan pentingnya kesiapan regulasi untuk mengawal perkembangan terapi inovatif," kata Taruna dalam keterangan di Jakarta, Sabtu (24/10/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan dalam rangkaian seminar internasional ilmu farmasi yang digelar pada Rabu (21/10/2026).

BPOM Soroti Tantangan Penyakit Langka dan Resistansi Antimikroba

Taruna menjelaskan bahwa dunia kesehatan menghadapi berbagai tantangan yang semakin kompleks, termasuk penyakit langka, ancaman penyakit lintas negara, dan resistansi antimikroba.

Perkembangan teknologi kesehatan yang pesat juga menuntut sistem pengawasan obat dan makanan yang lebih adaptif.

Selain itu, kompleksitas rantai pasok produk kesehatan menjadi perhatian dalam memastikan keamanan, khasiat, dan mutu produk yang beredar.

BPOM terus memperkuat pengawasan berbasis risiko serta pengambilan keputusan berdasarkan bukti ilmiah untuk menghadapi tantangan tersebut.

Kolaborasi dengan mitra nasional dan internasional juga diperluas guna mendukung pengembangan inovasi obat dan pangan yang bertanggung jawab.

Langkah tersebut diarahkan untuk memastikan produk kesehatan tetap memenuhi standar keamanan, khasiat, dan mutu sepanjang siklus penggunaannya.

Indonesia Berpeluang Kembangkan Obat dari Bahan Alam

Taruna turut menyoroti potensi Indonesia dalam mengembangkan obat berbahan alam melalui pemanfaatan kekayaan keanekaragaman hayati.

Menurutnya, sumber daya alam dan pengetahuan tradisional Indonesia dapat dikembangkan menjadi produk kesehatan yang terstandardisasi.

Namun, pengembangan tersebut harus didukung penelitian ilmiah untuk memastikan keamanan, khasiat, dan kualitas produk.

BPOM mendorong agar hasil penelitian tidak hanya berhenti pada tahap pengembangan di laboratorium.

Riset perlu dihubungkan dengan kebutuhan masyarakat, pengembangan industri farmasi, serta peningkatan akses terhadap produk kesehatan yang aman dan bermutu.

Kerja sama antara perguruan tinggi, dunia usaha, dan pemerintah dinilai penting untuk mempercepat pemanfaatan hasil penelitian.

BPOM Ajak Mahasiswa Farmasi Jadi Inovator Kesehatan

Pesan tersebut disampaikan Taruna saat menjadi pembicara utama dalam The 7th International Seminar on Pharmaceutical Sciences and Technology (ISPST) 2026 pada Rabu (21/10/2026).

Seminar internasional itu mengusung tema Advancing Pharmaceutical Sciences through Sustainability and Translational Innovation.

Kegiatan tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, dan mahasiswa untuk membahas perkembangan ilmu farmasi serta penerapannya dalam menghadapi tantangan kesehatan global.

Dalam kesempatan itu, Taruna mengajak mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran (Unpad) untuk mengembangkan kemampuan penelitian dan kepemimpinan.

Ia menekankan bahwa mahasiswa farmasi perlu dipersiapkan tidak hanya sebagai tenaga profesional, tetapi juga sebagai inovator yang mampu menghasilkan solusi kesehatan bagi masyarakat.

Taruna Ikrar Tekankan Kepemimpinan Berbasis Ilmu Saraf

Selain pengembangan inovasi farmasi, Taruna menyoroti pentingnya pendekatan neuroleadership dalam membangun kepemimpinan yang efektif.

Pendekatan tersebut memanfaatkan pemahaman ilmu saraf untuk meningkatkan kemampuan berpikir, berperilaku, bekerja sama, dan mengambil keputusan.

Menurut Taruna, pemimpin yang baik harus memiliki integritas, kemampuan berpikir secara menyeluruh, serta keberanian mengambil keputusan berdasarkan data dan bukti ilmiah.

“Untuk mewujudkan mimpi besar, kita membutuhkan kapasitas untuk bermimpi, kegigihan, dan keyakinan untuk mencapainya,” katanya saat memberikan motivasi kepada peserta seminar.

Ia juga menekankan pentingnya pola pikir bertumbuh atau growth mindset, ketangguhan menghadapi tantangan, dan komitmen untuk terus belajar.

BPOM Dorong Kolaborasi Kampus, Industri, dan Pemerintah

BPOM mengajak perguruan tinggi mengambil peran lebih besar dalam membangun ekosistem inovasi kesehatan nasional.

Peran tersebut mencakup pengembangan penelitian berdampak tinggi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta penerapan hasil riset untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

Kolaborasi antara akademisi, pelaku industri, dan pemerintah diharapkan dapat mempercepat pengembangan produk farmasi dan pangan yang memiliki nilai tambah.

Melalui partisipasi dalam ISPST 2026, BPOM juga mendorong generasi muda untuk menggabungkan penguasaan sains, pemanfaatan teknologi, dan kemampuan kepemimpinan.

Upaya tersebut diarahkan untuk memperkuat perlindungan kesehatan masyarakat sekaligus meningkatkan daya saing industri farmasi dan pangan Indonesia.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026