HOME  ⁄  Nasional

Pemkab Banyumas Siagakan 700 Personel Hadapi Potensi Bencana, Perkuat Koordinasi dan Peralatan Darurat

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Pemkab Banyumas Siagakan 700 Personel Hadapi Potensi Bencana, Perkuat Koordinasi dan Peralatan Darurat
Foto: Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono didampingi Kapolresta Banyumas Kombes Pol Dhovan Oktavianton dan Kepala BPBD Kabupaten Banyumas Dwi Irawan Sukma berbincang dengan Deputi Kesiapsiagaan BNPB Abdul Muhari dalam kegiatan Apel Gelar Pasukan dan Peralatan Kesiapsiagaan Bencana 2026 di Lapangan Atas Bendung Gerak Serayu, Desa Tambaknegara, Kecamatan Rawalo, Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu 24/10/2026 (sumber: Polresta Banyumas)

Pantau - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyumas, Jawa Tengah, mengerahkan sekitar 700 personel gabungan dalam Apel Gelar Pasukan dan Peralatan Kesiapsiagaan Bencana 2026 untuk memperkuat kesiapan menghadapi berbagai potensi bencana menjelang musim hujan.

Kegiatan tersebut digelar di Lapangan Atas Bendung Gerak Serayu, Desa Tambaknegara, Kecamatan Rawalo, Kabupaten Banyumas, Sabtu (24/10/2026).

Apel melibatkan berbagai unsur lintas sektor, mulai dari Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), hingga relawan dan organisasi kemasyarakatan.

Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, menegaskan bahwa kesiapsiagaan menghadapi bencana harus dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan agar penanganan dapat berlangsung cepat, tepat, serta terkoordinasi.

Menurutnya, penanggulangan bencana tidak boleh hanya berfokus pada penanganan ketika bencana terjadi, tetapi juga harus mencakup upaya pencegahan, mitigasi, dan pemulihan setelah kejadian.

Selain menggelar apel, Pemkab Banyumas juga melakukan pemeriksaan personel dan peralatan, simulasi penanganan bencana, serta pemberangkatan bantuan air bersih bagi masyarakat terdampak kekeringan.

Bupati Banyumas Tekankan Kesiapan Personel dan Peralatan Bencana

Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, menegaskan bahwa penanggulangan bencana harus dilaksanakan melalui tiga tahapan utama, yakni prabencana, tanggap darurat, dan pascabencana.

Tahap prabencana mencakup upaya pencegahan serta mitigasi untuk mengurangi risiko sebelum bencana terjadi.

Sementara itu, tahap tanggap darurat berfokus pada penyelamatan dan penanganan masyarakat ketika bencana berlangsung, sedangkan tahap pascabencana diarahkan pada pemulihan kondisi warga serta kawasan terdampak.

Sadewo menekankan bahwa seluruh personel yang terlibat dalam penanggulangan bencana harus memiliki kesiapan menjalankan tugas secara cepat dan terkoordinasi.

Selain kesiapan sumber daya manusia, pemerintah daerah juga harus memastikan seluruh peralatan penanggulangan bencana berada dalam kondisi baik dan dapat digunakan secara optimal.

Kesiapan logistik turut menjadi perhatian untuk mendukung kebutuhan petugas maupun masyarakat selama proses penanganan bencana.

Layanan kesehatan juga harus dipastikan siap memberikan pertolongan kepada warga yang mengalami cedera atau membutuhkan penanganan medis akibat bencana.

Sadewo turut menyoroti pentingnya memastikan jalur evakuasi dapat digunakan dengan baik agar proses pemindahan masyarakat dari kawasan berbahaya menuju tempat aman berlangsung cepat dan tertib.

Sistem komunikasi dan komando penanggulangan bencana juga harus berfungsi optimal untuk mendukung koordinasi antarpersonel dan instansi selama operasi darurat.

Menurut Sadewo, kesiapan seluruh unsur tersebut diperlukan agar penanganan bencana berjalan lebih terarah sekaligus meminimalkan dampak yang ditimbulkan.

Sebanyak 700 Personel Gabungan Dilibatkan dalam Apel Kesiapsiagaan

Apel Gelar Pasukan dan Peralatan Kesiapsiagaan Bencana 2026 melibatkan sekitar 700 personel dari berbagai instansi pemerintah, aparat keamanan, dan organisasi masyarakat.

Unsur yang terlibat meliputi TNI, Polri, BPBD, Basarnas, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Dinas Perhubungan, Palang Merah Indonesia (PMI), relawan, serta sejumlah instansi terkait lainnya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Kepolisian Resor Kota (Kapolresta) Banyumas, Kombes Pol Dhovan Oktavianton, sebagai bagian dari unsur kepolisian yang mendukung kesiapsiagaan bencana.

Komandan Kodim 0701/Banyumas, Letkol Inf Edward Deru Saka Samosir, juga hadir untuk memperkuat koordinasi unsur TNI dalam penanganan bencana di daerah.

Selain itu, Deputi Bidang Kesiapsiagaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari, turut menghadiri kegiatan tersebut.

Sadewo menekankan pentingnya memperkuat soliditas dan kerja sama antara TNI, Polri, pemerintah daerah, sukarelawan, serta masyarakat.

Kerja sama lintas sektor dinilai penting karena setiap instansi memiliki peran, sumber daya, dan kemampuan yang saling melengkapi dalam menghadapi situasi darurat.

Melalui keterlibatan ratusan personel tersebut, Pemkab Banyumas berupaya memastikan seluruh unsur penanggulangan bencana dapat bergerak secara terkoordinasi ketika dibutuhkan.

Pemkab Banyumas Terapkan Kolaborasi Pentaheliks untuk Mitigasi Bencana

Dalam memperkuat mitigasi bencana, Pemerintah Kabupaten Banyumas mendorong penerapan pendekatan pentaheliks yang melibatkan lima unsur utama.

Kelima unsur tersebut terdiri atas pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan media.

Pemerintah berperan dalam penyusunan kebijakan, penguatan sistem penanggulangan bencana, serta koordinasi antarinstansi.

Masyarakat diharapkan berpartisipasi aktif dalam meningkatkan kesiapsiagaan dan memahami langkah penyelamatan ketika menghadapi ancaman bencana.

Dunia usaha dapat memberikan dukungan sumber daya, sedangkan akademisi berkontribusi melalui pengetahuan dan kajian yang mendukung upaya mitigasi.

Sementara itu, media berperan dalam menyebarluaskan informasi kebencanaan agar masyarakat memperoleh informasi yang diperlukan secara cepat dan tepat.

Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memperkuat upaya pencegahan dan penanganan bencana sekaligus meningkatkan perlindungan terhadap keselamatan masyarakat Kabupaten Banyumas.

Pasukan dan Peralatan Diperiksa, Simulasi Penanganan Bencana Digelar

Setelah pelaksanaan apel, kegiatan dilanjutkan dengan pemeriksaan pasukan untuk memastikan kesiapan personel dari berbagai instansi yang terlibat.

Pemeriksaan juga dilakukan terhadap berbagai peralatan dan sarana pendukung penanggulangan bencana.

Langkah tersebut bertujuan memastikan seluruh perlengkapan berada dalam kondisi layak dan dapat digunakan ketika menghadapi situasi darurat.

Pemeriksaan pasukan dan peralatan menjadi bagian dari evaluasi kesiapan operasional unsur penanggulangan bencana di Kabupaten Banyumas.

Selain pemeriksaan, rangkaian kegiatan diisi dengan simulasi penanganan bencana yang melibatkan personel dari berbagai instansi dan organisasi terkait.

Simulasi dilakukan untuk meningkatkan kemampuan petugas dalam menjalankan tugas sesuai peran dan tanggung jawab masing-masing.

Melalui latihan tersebut, koordinasi antarinstansi juga diperkuat agar proses penanganan darurat dapat berlangsung lebih efektif.

Simulasi diharapkan dapat mengurangi potensi hambatan komunikasi dan pelaksanaan tugas ketika petugas menghadapi kondisi bencana yang sebenarnya.

Pemkab Banyumas Salurkan Bantuan Air Bersih untuk Warga Terdampak Kekeringan

Dalam rangkaian kegiatan yang sama, Pemerintah Kabupaten Banyumas turut memberangkatkan bantuan sosial berupa air bersih bagi masyarakat yang terdampak kekeringan.

Penyaluran bantuan tersebut merupakan salah satu bentuk penanganan terhadap dampak kekeringan yang masih dialami sebagian masyarakat menjelang peralihan musim kemarau menuju musim hujan.

Bantuan air bersih diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat yang mengalami keterbatasan pasokan air akibat kondisi kekeringan.

Kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa upaya penanggulangan bencana tidak hanya dilakukan melalui kesiapan menghadapi ancaman baru, tetapi juga melalui penanganan dampak bencana yang masih berlangsung.

BMKG Prakirakan Musim Hujan Banyumas Dimulai November 2026

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan Kabupaten Banyumas memasuki masa transisi dari musim kemarau menuju musim hujan pada dasarian kedua Oktober 2026.

Periode tersebut berlangsung pada 11–20 Oktober 2026 dan menjadi bagian dari perubahan kondisi musim di wilayah Banyumas.

Berdasarkan prakiraan BMKG, awal musim hujan di sebagian besar wilayah Kabupaten Banyumas diperkirakan terjadi pada dasarian kedua November 2026 atau periode 11–20 November 2026.

Khusus wilayah Banyumas bagian utara, awal musim hujan diprakirakan berlangsung lebih cepat, yakni pada dasarian pertama November 2026 atau periode 1–10 November 2026.

Perbedaan waktu awal musim hujan tersebut menunjukkan adanya variasi kondisi musim di sejumlah kawasan Kabupaten Banyumas.

Karena itu, kesiapsiagaan bencana perlu memperhatikan karakteristik geografis dan kondisi cuaca masing-masing wilayah.

Penguatan kesiapsiagaan melalui apel gabungan menjadi salah satu langkah Pemkab Banyumas dalam menghadapi berbagai potensi bencana yang berkaitan dengan perubahan kondisi cuaca.

Pemkab Banyumas Targetkan Risiko Korban dan Kerugian Bencana Berkurang

Pemerintah Kabupaten Banyumas berharap Apel Gelar Pasukan dan Peralatan Kesiapsiagaan Bencana 2026 dapat meningkatkan kemampuan seluruh pihak dalam menghadapi berbagai ancaman bencana.

Kesiapan personel, kelayakan peralatan, ketersediaan logistik, layanan kesehatan, jalur evakuasi, serta sistem komunikasi menjadi aspek utama yang diperkuat.

Selain itu, koordinasi lintas sektor melalui keterlibatan pemerintah, aparat keamanan, relawan, dan masyarakat diharapkan mampu mempercepat proses penanganan ketika terjadi bencana.

Pelaksanaan simulasi dan pemeriksaan peralatan juga menjadi bagian dari upaya memastikan seluruh unsur penanggulangan bencana dapat menjalankan tugas secara efektif.

Melalui keterlibatan sekitar 700 personel, penguatan koordinasi, dan kesiapan sarana pendukung, Pemkab Banyumas berupaya meningkatkan perlindungan masyarakat sekaligus meminimalkan risiko korban jiwa dan kerugian materiil akibat bencana.

Penulis :
Shila Glorya
FLOII 2026