
Pantau - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) menyiagakan helikopter Super Puma dari Skadron Udara 6 untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Lawu, Jawa Tengah, sejak Rabu (21/10/2026).
Helikopter tersebut dikerahkan untuk mendukung pemadaman api melalui metode water bombing atau penjatuhan air dari udara, sekaligus melakukan pemantauan guna menemukan titik api baru.
Kepala Dinas Penerangan TNI AU (Kadispenau) Marsekal Pertama TNI Feri Yunaldi mengatakan dukungan operasi udara diperlukan karena kondisi medan di kawasan Gunung Lawu menyulitkan penanganan kebakaran melalui jalur darat.
"Pengerahan helikopter ini merupakan bagian dari upaya penanggulangan karhutla melalui dukungan operasi udara, khususnya di kawasan dengan medan yang menyulitkan penanganan dari darat," kata Feri dalam keterangan resmi TNI AU yang dikutip di Jakarta, Senin (26/10/2026).
Hingga Senin, helikopter Super Puma masih disiagakan untuk membantu pemerintah dalam penanganan kebakaran di kawasan tersebut.
Helikopter Super Puma Lakukan Pemadaman dengan Water Bombing
TNI AU mengerahkan helikopter Super Puma untuk membantu proses pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Gunung Lawu.
Helikopter dari Skadron Udara 6 tersebut menggunakan metode water bombing dengan menjatuhkan air secara langsung dari udara ke kawasan yang terbakar.
Metode tersebut digunakan untuk menjangkau lokasi kebakaran yang sulit diakses petugas pemadam melalui jalur darat.
Dukungan helikopter juga menjadi bagian dari upaya mempercepat penanganan kebakaran di kawasan pegunungan.
Menurut Feri, penggunaan sarana udara memungkinkan petugas memberikan dukungan pemadaman pada wilayah dengan kondisi geografis yang menantang.
TNI AU telah menyiagakan helikopter tersebut sejak Rabu (21/10/2026) dan masih mempertahankan kesiagaannya hingga Senin (26/10/2026).
TNI AU Pantau Titik Api Baru di Kawasan Gunung Lawu
Selain melakukan pemadaman, helikopter Super Puma juga digunakan untuk memantau kemungkinan munculnya titik api baru.
Pemantauan dari udara dilakukan agar lokasi kebakaran dapat diketahui dan ditangani sedini mungkin.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya TNI AU mendukung penanggulangan karhutla secara lebih menyeluruh.
Dengan kemampuan menjangkau kawasan yang sulit dilalui melalui jalur darat, helikopter dapat membantu proses pengamatan kondisi kebakaran di wilayah pegunungan.
Informasi mengenai titik api menjadi salah satu kebutuhan penting dalam menentukan lokasi yang memerlukan penanganan.
TNI AU menyatakan helikopter Super Puma tetap berada dalam kondisi siaga untuk mendukung upaya pemerintah mengendalikan kebakaran di Gunung Lawu.
TNI AU Dukung Pemerintah Tangani Kebakaran Hutan
Feri mengatakan pengerahan helikopter Super Puma merupakan bentuk dukungan TNI AU terhadap pemerintah dalam menghadapi bencana kebakaran hutan dan lahan.
Ia berharap bantuan operasi udara dapat meringankan beban pemerintah dalam proses penanganan karhutla.
Menurutnya, keterlibatan TNI AU juga menunjukkan peran kekuatan udara dalam mendukung keselamatan masyarakat dan perlindungan lingkungan.
"TNI AU terus berkontribusi dalam penanggulangan bencana dan perlindungan lingkungan, sekaligus menunjukkan peran operasi udara dalam mendukung keselamatan masyarakat serta menjaga kelestarian alam Indonesia," ucap dia.
Hingga Senin (26/10/2026), TNI AU belum menyampaikan batas waktu berakhirnya kesiagaan helikopter Super Puma di kawasan Gunung Lawu.
Helikopter tersebut masih disiapkan untuk membantu pemadaman dan pemantauan titik api sesuai kebutuhan penanganan kebakaran.
- Penulis :
- Aditya Yohan




