
Pantau - Hasil jajak pendapat daring RayaTimes yang menunjukkan 89,8 persen responden tidak puas terhadap dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mendapat sorotan terkait metodologi pengambilan sampel dan keterwakilan responden.
Dr. Ramadhan Pohan, MIS, dalam artikel opini yang diterbitkan ANTARA pada Senin (26/10/2026), menilai hasil survei yang melibatkan 205 responden tersebut tidak dapat digeneralisasi sebagai gambaran tingkat kepuasan seluruh masyarakat Indonesia.
Menurutnya, survei yang dilakukan secara sukarela melalui internet memiliki keterbatasan karena responden tidak dipilih secara acak dari populasi nasional.
Ia menekankan bahwa kritik terhadap pemerintah tetap diperlukan, tetapi kesimpulan yang dihasilkan harus sesuai dengan kualitas dan cakupan data yang digunakan.
Survei RayaTimes Catat 89,8 Persen Responden Tidak Puas
RayaTimes melaksanakan jajak pendapat secara daring pada 13–18 Oktober 2026 dengan melibatkan 205 responden.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 184 orang atau 89,8 persen menyatakan tidak puas terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran.
Sebanyak 6,3 persen responden memilih jawaban netral, sedangkan delapan orang atau 3,9 persen menyatakan puas.
Hasil tersebut kemudian menjadi dasar pemberitaan mengenai rapor merah dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.
Ramadhan menilai angka ketidakpuasan tersebut hanya menggambarkan pandangan peserta jajak pendapat, bukan keseluruhan penduduk Indonesia.
Ia juga menyoroti belum memadainya penjelasan mengenai penyebaran tautan survei serta karakteristik responden berdasarkan wilayah, usia, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, dan preferensi politik.
Menurutnya, informasi tersebut penting untuk memahami kelompok masyarakat yang sebenarnya terwakili dalam survei.
Metode Survei Daring Dinilai Berisiko Menimbulkan Bias
Ramadhan menjelaskan bahwa survei dengan responden yang memilih sendiri untuk berpartisipasi berbeda dari survei nasional yang menggunakan pengambilan sampel probabilitas.
Dalam pengambilan sampel probabilitas, setiap anggota populasi memiliki peluang terpilih yang dapat diketahui.
Sementara itu, pada jajak pendapat daring sukarela, peluang seseorang menjadi responden tidak dapat ditentukan dengan cara yang sama.
Ia merujuk pemikiran ahli statistik Leslie Kish dalam buku Survey Sampling mengenai pentingnya metode pemilihan sampel untuk menghasilkan kesimpulan yang mewakili populasi.
Ramadhan menilai responden dengan sikap politik kuat atau tingkat ketidakpuasan tinggi berpotensi lebih terdorong mengikuti jajak pendapat sukarela.
Ia juga mencatat bahwa RayaTimes telah mengakui sampelnya tidak dipilih secara acak dan hasilnya tidak dapat digunakan untuk menyatakan mayoritas penduduk Indonesia tidak puas.
Karena itu, menurutnya, angka 89,8 persen harus dibaca sebagai proporsi ketidakpuasan di antara 205 peserta survei.
Penilaian MBG dan Koperasi Merah Putih Ikut Disorot
Selain tingkat kepuasan terhadap pemerintah, Ramadhan menyoroti pertanyaan survei mengenai manfaat sejumlah program nasional.
Dalam hasil jajak pendapat RayaTimes, sebanyak 73,2 persen responden menyatakan tidak merasakan manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sementara itu, 77,1 persen responden menyatakan tidak merasakan manfaat Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.
Ramadhan mempertanyakan apakah responden yang memberikan penilaian tersebut merupakan penerima manfaat langsung dari program yang ditanyakan.
Menurutnya, penilaian terhadap MBG perlu melibatkan murid, orang tua, guru, tenaga gizi, pekerja Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), dan pihak terkait lainnya.
Sementara itu, evaluasi koperasi desa perlu membedakan koperasi yang baru memiliki badan hukum dengan koperasi yang sudah menjalankan kegiatan usaha.
Ia berpendapat bahwa jawaban tidak merasakan manfaat dari seseorang yang bukan penerima program tidak serta-merta membuktikan program tersebut tidak bermanfaat.
Hasil Survei RayaTimes Berbeda dari Sejumlah Lembaga Nasional
Ramadhan juga membandingkan hasil jajak pendapat RayaTimes dengan sejumlah survei nasional yang dilakukan pada periode berdekatan.
Dalam tulisannya, ia menyebut survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) mencatat tingkat kepuasan kepada Presiden sebesar 44,5 persen.
Sementara itu, Poltracking disebut mencatat kepuasan terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran sebesar 55,3 persen.
Parameter Politik Indonesia dilaporkan mencatat tingkat kepuasan sebesar 65,4 persen.
Angka-angka tersebut berbeda jauh dari tingkat kepuasan 3,9 persen yang tercatat di antara peserta jajak pendapat RayaTimes.
Meski demikian, Ramadhan mengakui bahwa objek pertanyaan dan metodologi masing-masing survei tidak sepenuhnya sama.
Ia juga menilai satu kali pengukuran tidak cukup untuk menyimpulkan adanya tren penurunan kepuasan tanpa data pembanding dengan metode dan pertanyaan yang konsisten.
Ramadhan Pohan Minta Survei Politik Lebih Transparan
Ramadhan turut mengkritisi artikel Dhimam Abror Djuraid berjudul "Survei sebagai Senjata Politik" yang menjadi bagian dari laporan khusus RayaTimes.
Menurutnya, anggapan bahwa survei digunakan sebagai senjata politik perlu didukung bukti konkret mengenai pihak yang memesan, membiayai, atau memengaruhi penyusunan dan penyajian hasil survei.
Ia juga mengingatkan bahwa pembentukan citra politik tidak otomatis membuktikan bahwa aktivitas atau capaian seorang pemimpin merupakan sesuatu yang palsu.
Ramadhan merujuk pemikiran sosiolog Pierre Bourdieu serta penelitian Howard Schuman dan Stanley Presser untuk menekankan bahwa penyusunan pertanyaan dan konteks survei dapat memengaruhi jawaban responden.
Dalam tulisannya, ia tetap mengakui perlunya evaluasi terhadap berbagai kebijakan pemerintah, termasuk keamanan pangan MBG, pelaksanaan koperasi desa, pemberantasan korupsi, dan dampak Sekolah Rakyat.
Namun, ia menegaskan bahwa kritik terhadap pemerintah harus didasarkan pada data yang dapat dipertanggungjawabkan dan tidak melampaui batas keterwakilan responden.
Ramadhan mendorong penggunaan metode survei yang transparan serta pengumpulan data langsung dari kelompok penerima manfaat agar evaluasi kebijakan menghasilkan gambaran yang lebih akurat.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




