Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Olahraga

Sejarah Motorsport Indonesia Tercipta, Dua Pereli Tanah Air Finis Rally Dakar 2026

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Sejarah Motorsport Indonesia Tercipta, Dua Pereli Tanah Air Finis Rally Dakar 2026
Foto: (Sumber: Pereli Indonesia Shammie Zacky Baridwan (kanan) bersama navigatornya Ignas Daunoravicius (kiri) berfoto di depan mobil Toyota Bundera yang dikendarai untuk menaklukkan medan Rally Dakar 2026 di Arab Saudi. (ANTARA/DakarPress))

Pantau - Kota Yanbu di pesisir Laut Merah, Arab Saudi, menjadi saksi akhir perjalanan bersejarah motorsport Indonesia setelah dua pereli Tanah Air, Julian Johan dan Shammie Zacky Baridwan, menuntaskan etape ke-13 Rally Dakar 2026 dan mencatatkan diri sebagai pereli Indonesia pertama yang finis di ajang tersebut.

Rally Dakar 2026 berlangsung sejak 3 Januari dengan total jarak tempuh sekitar 8.000 kilometer yang terbagi dalam 13 etape.

Lintasan lomba melintasi beragam medan ekstrem mulai dari gurun pasir, jalur berbatu, savana terbuka, hingga lintasan maraton yang menuntut ketahanan fisik dan mental tinggi.

Setiap etape menghadirkan tantangan berbeda dari sisi medan, cuaca, serta tekanan waktu yang terus-menerus.

Julian Johan yang akrab disapa Jeje dan Shammie Zacky Baridwan berlaga di kategori Dakar Classic yang memiliki karakter lomba berbeda dibanding reli pada umumnya.

Di kategori Dakar Classic, kecepatan bukan menjadi satu-satunya penentu hasil lomba karena faktor utama yang dinilai adalah ketepatan waktu, konsistensi, dan kemampuan bertahan.

Jeje mengakhiri Dakar Classic 2026 di peringkat kelima klasemen umum dengan total skor 1.357 poin.

Selain itu, Jeje juga finis di peringkat ketiga kelas H2.

Jeje mengemudikan Toyota Land Cruiser 100 tahun 2001 dan didampingi co-driver asal Prancis, Mathieu Monplaisi.

Rally Dakar 2026 menjadi pengalaman pertama Jeje di ajang reli dengan tingkat kesulitan ekstrem.

Sementara itu, Shammie Zacky Baridwan berlaga bersama navigator Ignas Daunoravicius.

Shammie finis di peringkat ketujuh klasemen umum dengan skor 1.393 poin dan menempati posisi ketiga di kelas H1.

Di tengah performa yang naik turun antar etape, Shammie mencatatkan pencapaian bersejarah dengan memenangkan Etape 11 Rally Dakar 2026.

Kemenangan tersebut menjadikan Shammie sebagai orang Indonesia pertama yang berhasil menjuarai satu etape Rally Dakar.

Perjalanan menuju pencapaian bersejarah itu tidak berlangsung mulus karena format Dakar Classic berbeda dengan reli-reli yang umum diikuti pereli Indonesia.

Dalam Dakar Classic, tidak ada adu kecepatan dari start hingga finis, melainkan peserta harus menjaga kecepatan rata-rata tertentu sesuai ketentuan lomba.

Pereli dituntut membaca koordinat dengan akurat, mematuhi radius waypoint, serta menghindari penalti waktu akibat kesalahan kecepatan.

Shammie menjelaskan karakter lomba tersebut dengan pernyataan, "Ini bukan start sampai finis cepat-cepatan. Ini tepat-tepatan", ungkapnya.

Dalam satu segmen lomba, kecepatan rata-rata bisa ditetapkan sebesar 85 kilometer per jam tanpa mempertimbangkan kondisi lintasan.

Terlalu cepat maupun terlalu lambat sama-sama berisiko terkena penalti, yang ditandai dengan indikator merah pada dashboard kendaraan.

Tekanan balapan berlangsung terus-menerus sejak pagi hari di bivouac hingga etape berakhir.

Jarak dari bivouac menuju titik start bisa mencapai 30 hingga 100 kilometer dengan suhu pagi hari yang dapat turun hingga sekitar 9 derajat celsius.

Pada siang hari, suhu gurun meningkat tajam tanpa adanya waktu makan siang resmi selama lomba berlangsung.

Asupan pembalap terbatas pada snack dan buah yang dikonsumsi di dalam mobil sambil tetap mengenakan wearpack selama berjam-jam.

Secara fisik, Rally Dakar sangat menguras tenaga, sementara secara mental dan psikis pembalap dipaksa mengambil keputusan terus-menerus tanpa ruang untuk keraguan.

Shammie menyimpulkan karakter Rally Dakar dengan menyatakan bahwa Dakar selalu memaksa para pembalap untuk menyerah.

Penulis :
Aditya Yohan