
Pantau - Petinju profesional asal Kalimantan Barat, Daud Yordan, resmi dilantik sebagai Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kalimantan Barat pada 28 Januari 2026.
Ia menegaskan bahwa jabatan ini bukan sekadar posisi struktural, melainkan bentuk pengabdian terhadap dunia olahraga di daerahnya.
"Saya ini atlet yang masih aktif dan pernah merasakan bagaimana sulitnya berjuang dari daerah. Karena itu saya ingin memberi kontribusi lebih besar bagi atlet-atlet Kalbar melalui KONI," ungkapnya.
Dari Atlet Daerah hingga Juara Dunia
Daud Yordan dikenal luas sebagai salah satu petinju profesional terbaik Indonesia dengan julukan The Senator.
Sejak kecil, ia menekuni olahraga tinju di tengah keterbatasan fasilitas, pembinaan, dan anggaran di Kalimantan Barat.
Ia membentuk mental petarung sejak muda: datang lebih awal untuk latihan, mengulang teknik, menjaga kondisi fisik, hingga merantau demi mendapatkan pengalaman.
Kerja kerasnya berbuah manis dengan berbagai gelar juara dunia di tiga kelas berbeda, yakni juara dunia kelas bulu IBO (2012), kelas ringan IBO (2013), dan kelas ringan super IBA (2019 dan 2024).
Ia menjadi simbol kebanggaan Kalbar dan bukti nyata bahwa atlet dari daerah pinggiran dapat bersinar di level dunia.
Selain berkarier di ring tinju, Daud juga pernah menjabat sebagai anggota DPD RI untuk memperjuangkan kebijakan olahraga dari sisi legislasi.
Jabatan Ketua KONI Kalbar disebutnya sebagai kelanjutan dari perjalanan panjangnya di dunia olahraga: dari atlet, legislator, hingga organisator.
"Pelantikan ini sangat berarti bagi saya secara pribadi. Ini sakral. Karena di situlah tanggung jawab besar itu dimulai," ia mengungkapkan.
Prioritaskan Sport Science dan Kesejahteraan Atlet
Sebagai Ketua KONI Kalbar, Daud menargetkan peningkatan prestasi Kalbar di Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028.
Strategi yang disiapkan antara lain pembinaan usia dini, penjaringan bakat dari kejuaraan daerah, peningkatan kualitas pelatih, serta seleksi atlet menuju pra-PON dan PON.
Ia juga menekankan pentingnya pendekatan ilmiah dalam pembinaan atlet.
"Kalau masih pakai cara lama, kita akan tertinggal. Sekarang semuanya berbasis ilmu pengetahuan," ujarnya.
Daud mendorong penerapan sport science mulai dari analisis performa, nutrisi, penguatan fisik, hingga pendampingan psikologis.
"Tanpa sport science kita akan tertinggal karena atlet sekarang harus dipersiapkan secara ilmiah," tegasnya.
Menurutnya, sport science adalah sistem yang melahirkan pelatih berkualitas, proses pencarian bakat yang akurat, dan pembinaan yang berkelanjutan.
Namun, pendekatan ilmiah tidak bisa berjalan optimal tanpa didukung infrastruktur yang memadai.
Oleh karena itu, ia memprioritaskan perbaikan fasilitas olahraga di Kalimantan Barat secara paralel.
"Kami sudah mulai berkoordinasi dengan banyak stakeholder. Responsnya positif dan mudah-mudahan ini bisa segera terealisasi untuk perbaikan fasilitas olahraga di Kalbar," jelasnya.
Ia juga menaruh perhatian besar pada kesejahteraan atlet, karena menurutnya, kondisi ekonomi sangat mempengaruhi performa latihan.
"Kesejahteraan itu penting. Atlet yang tenang secara ekonomi dan masa depan, latihannya pasti lebih maksimal," ungkap Daud.
Bentuk dukungan yang direncanakan antara lain insentif, bonus prestasi, serta pendampingan karier pasca-bertanding.
Ia menyadari bahwa KONI tidak bisa bekerja sendiri dalam mewujudkan hal tersebut.
"KONI tidak bisa bekerja sendiri, sinergi adalah kunci. Kalau semua pihak bergerak bersama, kesejahteraan atlet pasti bisa kita wujudkan," katanya.
Saat ini, Daud tengah membangun komunikasi dengan berbagai pihak termasuk kementerian, DPR RI, KONI pusat, hingga sektor swasta agar dukungan terhadap atlet dapat diwujudkan dalam program nyata.
- Penulis :
- Shila Glorya







