Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Banyumas Siap Jadi Sentra Ekspor Gula Semut Dunia Lewat Budidaya Kelapa Genjah

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Banyumas Siap Jadi Sentra Ekspor Gula Semut Dunia Lewat Budidaya Kelapa Genjah
Foto: Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono (kanan) didampingi Managing Director PT IMC Mario Ngensowidjaja (tengah) dan Implementation Manager develoPPP Coconut Sugar GIZ GmbH Dominik Schwab (kiri) memberi keterangan pers di Pendopo Si Panji, Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Jumat 30/1/2026 (sumber: ANTARA/Sumarwoto)

Pantau - Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono mendorong pengembangan kelapa genjah sebagai strategi memperkuat posisi Banyumas Raya sebagai pusat ekspor gula semut dunia dan meningkatkan kesejahteraan penderes nira kelapa di wilayah pedesaan.

Banyumas Sumbang 80 Persen Pasokan Gula Semut Dunia

Dalam acara "Kick Off Implementasi Proyek DeveloPPP Pemberdayaan Petani Bersama IMC Melalui Budidaya Kelapa Genjah di Kabupaten Banyumas" yang digelar di Pendopo Si Panji, Purwokerto, Bupati menyampaikan besarnya potensi global gula semut yang kini 90 persen pasokannya berasal dari Indonesia.

Sekitar 80 persen dari total pasokan itu berasal dari wilayah Banyumas Raya, yakni Kabupaten Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara.

"Ini peluang yang luar biasa. Karena itu saya konsentrasi agar Banyumas ke depan menjadi pusat ekspor gula semut seperti gula kelapa," ungkapnya.

Proyek develoPPP merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Pertanian RI dan Kementerian Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (BMZ) Jerman, dengan pendanaan dari develoPPP Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH serta PT Integral Mulia Cipta (IMC).

Produktivitas Naik, Risiko Kerja Turun

Pengembangan kelapa genjah dinilai memiliki dampak ekonomi dan sosial yang signifikan bagi penderes.

Setiap bulan, menurut Sadewo, selalu ada penderes yang jatuh dari pohon kelapa karena ketinggian dan kondisi kerja yang berbahaya.

"Setiap bulan selalu ada penderes yang jatuh dari pohon kelapa. Risikonya bisa patah tulang, lumpuh, bahkan meninggal dunia. Dengan kelapa genjah yang tingginya hanya 2-3 meter, risikonya jauh berkurang," ia mengungkapkan.

Penderes yang biasanya hanya bisa menyadap 25 pohon kelapa dalam per hari, kini mampu menyadap hingga 100 pohon kelapa genjah dengan waktu kerja yang sama.

"Kalaupun volume nira kelapa genjah hanya sekitar 75 persen dibanding kelapa dalam, pendapatan penderes tetap bisa meningkat hingga tiga kali lipat," jelasnya.

Kualitas gula semut yang dihasilkan dari kelapa genjah juga disebut tidak berbeda dengan yang berasal dari kelapa dalam, sehingga tetap memenuhi standar pasar ekspor.

Pemerintah Kabupaten Banyumas telah menyiapkan 625 hektare lahan untuk pengembangan kelapa genjah, dengan kebutuhan bibit mencapai sekitar 125 bibit per hektare.

Dukung Keberlanjutan dan Ketahanan Pangan

Managing Director PT IMC, Mario Ngensowidjaja menyatakan bahwa revitalisasi industri gula kelapa di Banyumas merupakan langkah strategis untuk mendukung ketahanan pangan nasional dan menjaga keberlanjutan komoditas unggulan Indonesia di pasar global.

Menurutnya, industri gula kelapa nasional menghadapi berbagai tantangan seperti belum adanya standarisasi produksi, keterbatasan mekanisasi, serta jumlah petani yang terus menurun karena faktor usia dan risiko kerja.

"Petani makin sedikit, pohon makin tinggi, petani makin tua, dan kecelakaan kerja sangat tinggi. Ini persoalan serius," ungkapnya.

Sementara itu, Implementation Manager develoPPP Coconut Sugar GIZ GmbH, Dominik Schwab, menjelaskan bahwa keterlibatan GIZ sejalan dengan dua misi utama kerja sama Jerman-Indonesia: pengurangan dampak perubahan iklim dan penguatan kemitraan ekonomi kedua negara.

"Kami ingin meningkatkan rantai pasok gula kelapa dari Indonesia, khususnya Banyumas, agar lebih berkelanjutan bagi lingkungan dan juga berkelanjutan bagi petani kecil," jelasnya.

Proyek ini merupakan bagian dari program develoPPP, yaitu skema kemitraan publik dan swasta antara Pemerintah Jerman dan perusahaan swasta.

Dalam proyek ini, GIZ bekerja sama dengan PT IMC yang telah lama mengekspor gula kelapa dari Banyumas ke pasar Eropa, khususnya Jerman.

Beberapa intervensi konkret dalam proyek ini mencakup perbaikan praktik budidaya kelapa untuk gula, peralihan dari kelapa dalam ke kelapa genjah, serta penerapan praktik pertanian yang lebih produktif dan ramah lingkungan.

"Kami ingin meningkatkan rantai pasok gula kelapa dari Banyumas agar lebih berkelanjutan bagi lingkungan dan juga meningkatkan kesejahteraan petani kecil," tutup Schwab. 

Penulis :
Arian Mesa