
Pantau - Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) mengingatkan seluruh pelatih untuk mematuhi aturan dan tidak melakukan kekerasan dalam bentuk apa pun selama menjalankan proses kepelatihan.
Wakil Ketua Umum Perbasi Christopher Tanuwidjaja menyampaikan peringatan tersebut setelah organisasi mengambil tindakan tegas terhadap oknum pelatih yang diduga melakukan kekerasan terhadap sejumlah pemain muda di Jawa Tengah.
"Saya sangat tidak setuju dan mengecam segala tindak kekerasan dalam bentuk kepelatihan, termasuk juga kekerasan dalam bentuk verbal yang tidak senonoh," kata Christopher di Jakarta, Senin, 31 Agustus 2026.
Menurut Christopher, tindakan negatif dalam kepelatihan menunjukkan ketidakmampuan seorang pelatih membangun komunikasi yang baik sekaligus mencerminkan kelemahan dalam kepemimpinan.
Perbasi Minta Pelatih Utamakan Komunikasi
Christopher menilai seorang pelatih seharusnya membangun hubungan yang sehat dengan pemain melalui komunikasi, keteladanan, serta pendekatan yang mendukung perkembangan kemampuan dan karakter atlet.
Menurut dia, penggunaan kekerasan bukan cara yang tepat untuk membangun kedisiplinan maupun mendapatkan rasa hormat dari pemain.
Tindakan kekerasan justru berpotensi memberikan dampak negatif terhadap hubungan antara pelatih dan atlet selama proses pembinaan.
Christopher juga menilai rasa takut akibat kekerasan tidak dapat disamakan dengan rasa hormat karena ketakutan berpotensi berkembang menjadi perlawanan apabila terus dipelihara.
Ia meminta seluruh pelatih memahami dan menaati aturan organisasi serta menjalankan proses kepelatihan secara profesional.
Perbasi menegaskan pelatih memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk atlet sehingga setiap tindakan dalam pembinaan harus mengedepankan profesionalisme, komunikasi yang baik, dan penghormatan terhadap pemain.
Oknum Pelatih Diskors 10 Tahun
Peringatan tersebut muncul setelah dunia bola basket Indonesia dihebohkan dugaan kekerasan yang dilakukan seorang oknum pelatih di Jawa Tengah terhadap sejumlah pemain muda di sebuah klub.
DPD Perbasi Jawa Tengah kemudian melakukan investigasi dan menyerahkan hasil pemeriksaan kepada DPP Perbasi.
Berdasarkan laporan investigasi DPD Perbasi Jawa Tengah tertanggal 9 Agustus 2026, oknum pelatih tersebut diduga melakukan sejumlah pelanggaran etik dan disiplin.
Dugaan pelanggaran itu mencakup kekerasan verbal berupa hinaan dan makian, penyalahgunaan kekuasaan, intimidasi, serta tindakan fisik terhadap pemain.
Laporan tersebut juga mencantumkan dugaan ancaman pencabutan beasiswa, pemberian hukuman yang tidak berkaitan dengan kepentingan tim, serta penggeledahan barang pribadi tanpa persetujuan.
Perbasi kemudian menjatuhkan sanksi skors selama 10 tahun kepada oknum pelatih tersebut sehingga yang bersangkutan tidak dapat beraktivitas di lingkungan bola basket yang berada di bawah naungan Perbasi.
Oknum pelatih tersebut juga telah dilaporkan kepada kepolisian terkait kasus dugaan kekerasan tersebut.
- Penulis :
- Aditya Yohan




