HOME  ⁄  Olahraga

Kemenpora Prioritaskan Pendanaan Federasi yang Diakui Internasional untuk Atlet Tunarungu

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Kemenpora Prioritaskan Pendanaan Federasi yang Diakui Internasional untuk Atlet Tunarungu
Foto: Deputi Bidang Peningkatan Prestas Olahraga Surono dan Pelaksana Tugas Deputi Bidang Pembudayaan Olahraga Budi Ariyanto Muslim dari Kementerian Pemuda dan Olahraga memberikan keterangan dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa 1/9/2026 (sumber: ANTARA/Aloysius Lewokeda)

Pantau - Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menegaskan pendanaan pemerintah bagi federasi olahraga harus mengikuti ketentuan Undang-Undang Keolahragaan, termasuk dalam menyikapi upaya penggalangan dana mandiri bagi atlet tunarungu Indonesia yang akan mengikuti Asia Pacific Deaf Multi-Sport di Penang, Malaysia, pada 3-10 Oktober.

Pelaksana Tugas Deputi Bidang Pembudayaan Olahraga Kemenpora Budi Ariyanto Muslim menjelaskan bahwa pemerintah memprioritaskan pendanaan kepada organisasi olahraga yang mendapatkan pengakuan dari organisasi internasional yang menaunginya.

"Kita tahu bahwa sesuai dengan Undang-Undang Keolahragaan, pendanaan yang secara sah bisa kita berikan adalah kepada organisasi yang memang diakui oleh organisasi internasionalnya," kata Pelaksana Tugas Deputi Bidang Pembudayaan Olahraga Kemenpora Budi Ariyanto Muslim dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa.

Status Organisasi Jadi Pertimbangan Pendanaan

Budi menjelaskan atlet tunarungu yang akan mengikuti Asia Pacific Deaf Multi-Sport di Penang diorganisasi oleh Perhimpunan Olahraga Tuna Rungu Indonesia (Porturin).

Namun, organisasi olahraga tunarungu Indonesia yang berafiliasi dengan International Committee of Sports for the Deaf (ICSD) adalah Perkumpulan Atlet Tunarungu Indonesia (Patrin).

Patrin saat ini dipimpin oleh Dimyati Hakim.

Perbedaan status organisasi tersebut menjadi salah satu pertimbangan Kemenpora dalam menentukan dukungan pendanaan bagi keikutsertaan atlet tunarungu pada kompetisi internasional.

Kemenpora tidak memberikan dukungan pendanaan bagi keikutsertaan atlet yang diorganisasi Porturin dalam Asia Pacific Deaf Multi-Sport di Malaysia.

Selain persoalan prioritas pendanaan kepada organisasi yang diakui federasi internasional, Kemenpora menyebut keputusan tersebut dipengaruhi keterbatasan anggaran akibat kebijakan efisiensi.

Kemenpora menyayangkan munculnya narasi yang memberikan kesan bahwa pemerintah tidak hadir dalam mendukung olahraga tunarungu.

"Jadi, kami juga sangat menyayangkan dengan adanya narasi-narasi di sana bahwa seakan-akan pemerintah tidak hadir," kata Budi.

Kemenpora Tegaskan Dukungan untuk Olahraga Disabilitas

Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora Surono menegaskan pemerintah terus memberikan perhatian terhadap perkembangan dan prestasi olahraga disabilitas di Indonesia.

Dukungan tersebut salah satunya terlihat pada keikutsertaan atlet disabilitas Indonesia dalam berbagai kompetisi internasional.

Pada ASEAN Para Games 2025 di Thailand, Indonesia meraih 135 medali emas, 143 medali perak, dan 114 medali perunggu.

Perolehan tersebut membawa Indonesia menempati peringkat kedua pada ASEAN Para Games 2025.

Surono mengatakan Kemenpora juga menjalin kerja sama dengan National Paralympic Committee (NPC) Indonesia di tingkat pusat maupun daerah untuk mendukung berbagai kegiatan dan kompetisi olahraga disabilitas.

Kolaborasi tersebut mencakup dukungan terhadap partisipasi atlet Indonesia dalam Deaflympic, ASEAN Para Games, dan Asian Para Games.

Selain mendukung keikutsertaan dalam kompetisi, Kemenpora memberikan dukungan finansial untuk pembangunan Paralympic Training Center Indonesia di Karanganyar, Jawa Tengah.

Fasilitas pelatihan olahraga disabilitas tersebut disebut sebagai salah satu bentuk perhatian pemerintah terhadap pembinaan dan peningkatan prestasi atlet disabilitas serta menjadi fasilitas terbaik di Asia Tenggara.

Kemenpora juga menegaskan komitmen untuk terus mendukung persiapan atlet disabilitas menghadapi berbagai kompetisi mendatang hingga Paralimpiade.

"Jadi Kemenpora selalu hadir untuk mendukung prestasi olahraga disabilitas termasuk ke depan yang berkaitan dengan persiapan hingga Paralimpade," kata Surono.

Penulis :
Arian Mesa
FLOII 2026