
Pantau - Jumariah, seorang buruh tani berusia 70 tahun asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, menjadi perhatian dunia sebagai ikon global haji 2026 setelah kisah perjuangannya menabung selama puluhan tahun demi berangkat ke Tanah Suci viral di media sosial.
Jumariah hidup sederhana seorang diri di rumah kecil yang berada di tengah hamparan sawah di Maros.
Selama lebih dari 20 tahun, ia menjalani hari-harinya sebagai buruh tani dengan penghasilan tidak menentu.
Setiap hari Jumariah bangun sebelum fajar untuk memberi makan ayam, menyapu halaman, mengambil air, mencuci pakaian, lalu berangkat ke sawah dan kebun.
Tangannya yang kasar menjadi saksi perjuangan hidupnya membersihkan rumput liar dan merawat tanaman hingga matahari terbenam.
Setelah bekerja seharian, Jumariah pulang ke rumah dan mengakhiri harinya dengan doa-doa panjang.
Keinginan berhaji diwujudkan dengan menabung sedikit demi sedikit dari hasil bertani dan mencari hasil bumi di gunung.
Jumariah mengatakan, "Kalau saya dapat uang Rp100 ribu, saya simpan Rp50 ribu."
Uang hasil tabungannya disimpan dalam sebuah ember plastik di rumah kayunya di tengah sawah.
Selama lebih dari 20 tahun, Jumariah mengumpulkan uang sedikit demi sedikit hingga mencapai Rp25 juta untuk biaya pendaftaran awal haji.
Pada 2011, Jumariah akhirnya berhasil mendaftar haji secara resmi.
Setelah menunggu selama 15 tahun, pada 2026 ia akhirnya berangkat ke Tanah Suci.
Pengalaman Pertama Naik Pesawat ke Tanah Suci
Sebelum berangkat haji, perjalanan terjauh Jumariah hanya sampai Kendari untuk menjenguk keluarganya.
Naik pesawat menuju Arab Saudi menjadi pengalaman pertama dalam hidupnya.
Jumariah mengatakan, "Pertama, saya agak ragu. Takut. Tapi lama-lama, ya sudah baik. Makanan di pesawat juga cocok."
Perjalanan haji Jumariah dipermudah melalui layanan Makkah Route hasil kerja sama pemerintah Indonesia dan Kementerian Haji Arab Saudi.
Melalui layanan tersebut, proses imigrasi Arab Saudi dilakukan sejak di bandara embarkasi Indonesia sehingga jamaah tidak perlu antre panjang saat tiba di Tanah Suci.
Layanan Makkah Route dinilai sangat membantu jamaah lanjut usia seperti Jumariah karena menjaga kondisi fisik dan mental tetap prima.
Setibanya di Madinah, Jumariah tetap mampu berjalan ratusan meter dari hotel menuju Masjid Nabawi tanpa mengeluh.
Ketangguhan fisiknya membuat pembimbing ibadah dan rekan satu rombongan merasa kagum.
Tangis Haru Saat Melihat Ka'bah
Momen paling emosional terjadi ketika Jumariah pertama kali melihat Ka'bah di Makkah.
Jumariah menangis haru saat menyaksikan langsung Ka'bah di hadapannya.
Jumariah mengatakan, "Kenapa saya bisa di sini? Saya orang miskin..."
Jumariah sebenarnya memiliki keinginan besar mencium Hajar Aswad.
Namun petugas dan pendamping memintanya menunda keinginan tersebut demi menjaga keselamatan dan kesehatannya karena usia lanjut dan padatnya jamaah.
Pendampingan dari Kementerian Haji dan Umrah RI membuat Jumariah dapat menjalankan ibadah dengan aman dan nyaman.
Menjelang puncak ibadah haji, kondisi fisik dan mental Jumariah disebut tetap kuat dan penuh semangat.
Jumariah kini menjadi simbol keteguhan hati dan perjuangan jamaah haji Indonesia pada musim haji 2026.
Kisahnya menabung di ember plastik selama puluhan tahun menjadi inspirasi tentang kekuatan niat dan kesabaran dalam meraih impian berhaji.
Jumariah mengatakan, “Saya berdoa, mudah-mudahan bisa kembali lagi...”
- Penulis :
- Gerry Eka
- Editor :
- Gerry Eka





