Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Pantau Ramadhan

Ramadan Ajarkan Pola Hidup Sederhana

Oleh Aditya Andreas
SHARE   :

Ramadan Ajarkan Pola Hidup Sederhana
Pantau - Berpuasa diyakini dapat menyehatkan tubuh akibat pola konsumsi makanan yang salah karena terlalu berlebihan. Untuk itu, umat Islam diwajibkan menjalankan ibadah puasa sepanjang bulan Ramadan.

Imam Masjid New York Imam Shamsi Ali menjelaskan, Islam memberikan tuntunan dalam segala lini kehidupan. Termasuk tentang apa dan bagaimana mengonsumsi makanan yang Allah karuniakan.

Dalam surat Al-Baqarah ayat 168, Allah berfirman, “Makanlah kalian apa yang ada di bumi secara halal dan baik (halalan thoyiban)."

Surat Al-A’raf ayat 31, Allah juga berfirman, "Dan makanlah dan minumlah kalian dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan"

Dalam hadits Rasulullah menjelaskan, "Tidaklah anak Adam memenuhi kantung yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah baginya beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Namun jika harus melebihkan, hendaknya sepertiga perutnya diisi dengan makanan, sepertiga dengan air, dan sepertiga untuk udara" (Ahmad, Tirmizi, Ibnu Majah).

Dari dua ayat Al-Qur'an dan satu hadis Rasulullah SAW yang dikutip di atas, dapat disimpulkan Islam memberikan acuan yang jelas dan rinci untuk mengonsumsi makanan secara sehat dan baik.

Pertama, syarat makanan harus halal

Halal di sini mencakup substansi makanan. Babi dan bahan makanan yang tercampur dengannya pasti haram. Demikian juga dengan alkohol dan segala yang terkait dengan alkohol pastinya haram.

Halal juga berhubungan dengan prosesnya. Daging sapi atau kambing itu halal. Tapi jika diproses tidak sesuai syariat, dipotong dengan tidak sesuai syariah atau makanan yang dipersembahkan kepada kesyirikan, termasuk sesajian maka hukumnya jadinya haram.

Halal juga terkait dengan sumber makanan itu. Secara substansi boleh halal tapi jika didapatkan dari sumber yang salah maka makanan itu berubah jadi haram.

Kedua, makanan juga harus baik

Sesuatu makanan yang halal belum tentu baik bagi tubuh. Seseorang dengan penyakit diabetes, gula yang asalnya halal maka menjadi tidak thoyyib (baik).

Maka kata thoyyib bisa karena status hukumnya (halal). Bisa juga karena substansinya memang buruk atau membawa keburukan bagi yang mengkonsumsi.

Ketiga, makan juga diharuskan tidak berlebihan

Israf atau berlebihan artinya mengonsumsi makanan di lebih dari batas kebutuhan. Seringkali berlebihan yang justru membawa kepada perilaku tabdzir, bahkan menjadi mudarat bagi yang mengonsumsinya.

Keempat, Rasulullah menekankan pentingnya kesederahanaan mengonsumsi makanan

Bahkan, beliau menyebutnya dengan beberapa suapan untuk sekadar menegakkan punggungnya. Kalaupun lebih dari suapan, maka pastikan pada kadar atau ukuran yang tidak berlebihan. Dalam ungkapan beliau sebutkan pentingnya distribusi makanan, minuman dan udara secara imbang.

Dengan itu, puasa mengajarkan pola hidup sehat dan sederhana. Salah satu cara terpenting menjaga kesehatan adalah dengan memastikan makanan yang kita konsumsi itu halal, sehat, dan tidak berlebihan.

"Inilah sesungguhnya salah satu keberkahan dari puasa. Bahwa di bulan ini pastinya kita makan yang halal. Memastikan makan yang baik agar tetap fit dan sehat. Dan juga tentunya tidak berlebihan (israf)," ujar Shamsi Ali, Senin (3/4/2023).

"Jangan sampai kata fast (puasa) di siang hari tergantikan menjadi feast (makan-makan) di malam hari. Apalagi terjadi tendensi balas dendam makan dan minum di malam hari," pungkasnya.
Penulis :
Aditya Andreas