
Pantau - “Dengan Indonesia memakai CNG, insya Allah jika teknologinya sudah tersedia, kita mampu melakukan efisiensi devisa kurang lebih 130 triliun sampai 137 triliun.” Kutipan di atas merupakan pernyataan Menteri ESDM Indonesia, Bahlil Lahadalia.
Menurutnya, langkah ini sangat bijak karena tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG serta kebutuhan untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Berdasarkan data, kebutuhan LPG di Indonesia sangat tinggi dibandingkan dengan produksi domestik, sehingga hal ini menjadi beban fiskal bagi negara.
Pada data yang tersebar di berita berita, penggunaan LPG di Indonesia berkisar 8,6 juta ton per tahun, sementara produksi domestik hanya sekitar 1,6 hingga 1,7 juta ton. Artinya, sebagian besar kebutuhan tersebut harus dipenuhi melalui impor yang sangat dipengaruhi oleh harga global dan kondisi geopolitik seperti perang iran dengan amerika yang sedang terjadi.
Pergantian energi dari LPG menjadi CNG dinilai cukup efisien karena CNG dihasilkan dari sumber domestik, sehingga dapat mengurangi ketergantungan impor sekaligus menekan beban fiskal negara. pada saat ini, negara harus mengeluarkan sekitar 80 hingga 87 triliun rupiah per tahun untuk subsidi LPG.
Jika biaya dapat ditekan sekitar 30–40%, maka beban tersebut berpotensi turun menjadi sekitar 20 hingga 35 triliun rupiah per tahun. Menurut saya, angka ini cukup signifikan untuk membantu mengurangi beban fiskal Indonesia.
Perbedaan karakteristik antara LPG dan CNG juga menjadi faktor penting. LPG merupakan campuran propana dan butana yang dikompresi dalam bentuk cair dengan tekanan relatif rendah, sedangkan CNG didominasi oleh metana yang disimpan dalam tekanan tinggi sekitar 200 hingga 250 bar. Perbedaan ini memengaruhi berbagai aspek, seperti keamanan dan efisiensi. CNG memiliki sifat lebih ringan dari udara sehingga akan cepat menyebar jika terjadi kebocoran. Sebaliknya, LPG yang lebih berat dari udara cenderung mengendap di permukaan rendah sehingga berpotensi meningkatkan risiko jika tidak ditangani dengan baik.
Dari sisi lingkungan, CNG menghasilkan emisi yang lebih rendah dibandingkan LPG sehingga sering disebut sebagai bahan bakar fosil yang lebih bersih. Namun, LPG memiliki nilai kalor yang lebih tinggi per satuan massa sehingga selama ini dianggap lebih efisien untuk kebutuhan memasak rumah tangga.
Program konversi minyak tanah ke LPG yang dimulai sekitar tahun 2007 bertujuan utama untuk mengurangi subsidi minyak tanah. LPG dipilih karena dapat diimplementasikan dengan cepat dan sistem distribusinya relatif mudah dibangun dalam waktu singkat. Fokus utamanya adalah pada ketersediaan energi yang “siap pakai”. Selain itu, biaya distribusi LPG lebih murah dalam jangka pendek dan memberikan pengembalian investasi yang lebih cepat. LPG juga memiliki keunggulan dalam hal penyimpanan dan distribusi karena dapat dikemas dalam tabung serta didistribusikan menggunakan truk maupun kapal. Hal ini membuatnya lebih fleksibel untuk digunakan di negara kepulauan seperti Indonesia.
Dengan demikian, pemilihan LPG pada saat itu bukan hanya soal harga, tetapi juga kemampuan distribusinya untuk menjangkau masyarakat secara luas. (LPG dipilih karena dapat diimplementasikan dengan cepat dan sistem distribusinya relatif mudah dibangun.)
Berbeda dengan LPG, CNG meskipun lebih murah dari sisi sumber energi, memiliki biaya awal yang lebih tinggi. Hal ini menjadi alasan mengapa CNG tidak digunakan sejak awal. Beberapa faktor yang memengaruhi antara lain infrastruktur gas yang belum merata, banyaknya daerah yang belum terjangkau jaringan gas, serta kebutuhan akan pipa gas atau stasiun kompresi. Selain itu, CNG memerlukan tabung bertekanan sangat tinggi yang mahal dan berat, teknologi kompresi yang pada masa lalu belum efisien, serta risiko keamanan yang lebih tinggi jika tidak dikelola dengan baik.
Distribusi CNG juga membutuhkan pembangunan pipa dalam skala besar yang memerlukan biaya sangat tinggi atau fasilitas kompresi yang kompleks.
Namun, saat ini CNG mulai dilirik kembali karena berbagai kondisi yang telah berubah. Infrastruktur gas mulai berkembang, harga energi semakin ditekan, dan teknologi kompresi menjadi lebih efisien serta terjangkau. Selain itu, meningkatnya kesadaran terhadap energi bersih juga menjadi faktor pendorong. Beban negara akibat impor LPG yang sangat dipengaruhi oleh kondisi geopolitik dan fluktuasi harga global turut mendorong pencarian alternatif energi yang lebih mandiri. Dalam konteks ini, CNG mulai dianggap sebagai solusi yang lebih berkelanjutan karena lebih bersih dan dapat diproduksi dari sumber dalam negeri.
Sebagai kesimpulan, pemilihan antara CNG dan LPG tidak semata-mata ditentukan oleh aspek keuntungan ekonomi, tetapi juga dipengaruhi oleh kesiapan infrastruktur dan kondisi pada masanya. LPG dipilih karena mudah diimplementasikan dan mampu memenuhi kebutuhan energi masyarakat secara cepat dan merata di tengah keterbatasan. Sementara itu, CNG baru mulai dilirik ketika dukungan infrastruktur dan teknologi semakin memadai serta biaya implementasinya semakin terjangkau.
Dengan kondisi saat ini, penggunaan CNG menjadi salah satu alternatif yang relevan dalam menjawab tantangan ketahanan energi nasional di tengah dinamika geopolitik dan keterbatasan impor energi.
- Penulis :
- Aditya Andreas





